Pemerintahan baru telah memosisikan pariwisata sebagai sektor jasa yang didorong agar tumbuh tinggi.
Pengamat pariwisata Ida Bagus Surakusuma menegaskan, Arief Yahya yang memperoleh amanat sebagai Menteri Pariwisata Kabinet Kerja 2014-2019 harus mendapat dukungan semua pihak agar mampu mengembangkan sektor pariwisata di Indonesia.
Menteri Pariwisata yang baru itu harus mampu meningkatkan kinerja, karena menambah kunjungan wisatawan dari 10 juta menjadi 20 juta dalam lima tahun atau dalam setahunnya meningkat rata-rata 20 persen itu tidak mudah.
Kepada wartawan di Kantor Presiden Jakarta, Senin (27/10) lalu Arief mengatakan, "Harus ditingkatkan kunjungan ke Indonesia. Untuk tahap pertama sebanyak 10 juta wisatawan," kata Arief kepada wartawan di Kantor Presiden Jakarta, Senin (27/10).
Menteri Pariwisata pula mengatakan, pariwisata Indonesia harus mampu sejajar bahkan menyaingi Thailand dan Malaysia.
Berikut ini arah program Kementerian Pariwisata di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Wisata bahari
Arief menegaskan salah satu upaya untuk mendatangkan 10 juta wisatawan ke Indonesia adalah melalui pengelolaan wisata terutama wisata bahari—yang masih kurang hingga saat ini.
"Sektor bahari belum dieksplorasi pariwisatanya. Padahal kita kaya sektor baharinya. Sekarang jarang, malah orang asing yang mengekplorasi bahkan ekploitasi wisata bahari," paparnya.
Prioritas dan ranking
Arief Yahya menuturkan pula, dalam pengembangan pariwisata Indonesia perlu ditetapkan prioritas destinasi yang ingin dipromosikan. "Harus ada top priority, kalau mau inginkan semua, kita bisa kehilangan semuanya," ungkap Arief, Selasa (28/10).
"Jadi harus ada top destination, misalnya 10 top destination atau 20 top destination. Bagaimana cara menetapkannya, bisa kita perdebatkan," ungkap Arief.
Menurut Arief, penetapan destinasi-destinasi tersebut bisa melalui skor yang dikeluarkan World Economic Forum yaitu The Global Competitiveness Index (GCI). Indonesia memiliki skor 4 dari skala 1-7. "Misalnya Bali itu skornya berapa, itu bisa jadi portofolio bisnisnya," kata Arief. Dengan menggunakan skor ini, lanjut Arief, bisa terlihat ranking suatu daerah di dunia.
Sebelumnya Arief mengungkapkan Indonesia berada di peringkat 34 dari 144 negara pada daftar GCI. Kelemahan Indonesia terutama ada tiga yaitu infrastruktur, kesiapan teknologi (infrastruktur informasi, komunikasi, dan teknologi), serta kesehatan dan higienitas.
Menurut Arief, pengembangan pariwisata perlu sejalan dengan pengembangan di sektor-sektor tersebut. "Untuk potensi wisata Indonesia tidak kalah, tapi kenapa kunjungan wisman ke Indonesia kalah dari negara lain," tuturnya.
Rebranding
Pemerintahan Jokowi-JK berencana menggenjot angka kunjungan wisatawan. Dalam lima tahun ke depan atau tahun 2019, diharapkan dapat menarik kunjungan sebanyak 20 juta wisman.
"Angka 20 juta wisman [ke Indonesia] harus dicapai. Kalau gak, kalah dengan negara lain. Kita harus bersaing dengan negara lain, negara lain sudah di atas 20 juta," tuturnya sambil merujuk negara lain seperti Malaysia dan Thailand.
Arief mengungkapkan salah satu hal yang diperlukan untuk mempromosikan pariwisata Indonesia perlunya branding yang satu. Oleh karena itu, ia berencana untuk meluncurkan ulang branding pariwisata Indonesia.
"Branding tak boleh banyak, harus satu. Kita semua harus sepakat branding itu apa," kata Arief.