Rumah Sakit Ini Bertekad Perlakukan Jenazah Sesuai Martabat Tertingginya

By , Minggu, 4 Januari 2015 | 11:25 WIB

"Sangat menyentuh bagi hati nurani kami. Dari awal kami bertekad, bagaimana jenazah ini dilakukan sesuai harkat dan martabat tertingginya sebagai manusia," kata Direktur RSUD Sultan Imanuddin Dr Suyuti Syamsul.

Rumah sakit yang dipimpinnya, pertama kali menerima jenazah dalam jumlah yang banyak. Mengingat terusnya menerima korban insiden jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501.

Ia melihat, seluruh pekerja rumah rumah sakit hingga para relawan sangat bersemangat saat menampilkan rasa kemanusiaan yang begitu tinggi. "Mereka tidak pernah mengeluh kelelahan," kata Suyuti di Rumah Sakit Imanuudin, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Minggu (4/1)

Bagi dirinya, peristiwa sebesar ini dianggap pembelajaran yang bagus dalam mengelola Sumber Daya Manusia dengan segala keterbatasan tenaga pekerja yang terbatas untuk memberikan hasil yang maksimal.

Pelepasan jenazah korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 pada Sabtu (3/1) di Lapangan Udara Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. (Efan Ekananda/National Geographic Indonesia)

"Ini menjadi pembelajaran bagi kami. Situasi seperti ini kami tetap berjaga meskipun libur, hari minggu, dan Tahun Baru kami tetap berjaga di sini selama 24 jam," katanya.

Suyuti menjelaskan pihaknya telah mempersiapkan tanggap darurat persiapan rumah sakit. Sesaat mendengar kabar Minggu (28/12) pesawat AirAsia QZ 8501 hilang kontak di sekitar perairan Laut Jawa.

Ia pun mengumpulkan beberapa divisi, dan kepala ruangan rumah sakit untuk bersiap-siap di kamar jenazah. Hal tersebut ditetapkan status siaga satu Implementasi rencana penanggulangan bencana di rumah sakit.

!break!

"Saya sedang menghadiri acara temu keluarga di rumah sakit, pak Bupati memperlihatkan pesan singkat dari Danlanud bahwa ada pesawat AirAsia kemungkinan hilang kontak sekitar sini," ujarnya.

Kendati pihaknya sempat tak mendapat kejelasan apakah rumah sakit yang terletak di Kotawaringin Barat itu akan digunakan atau tidaknya sebagai tempat evakuasi jenazah, "Yang cukup menggangu kami karena tidak jelas," ujarnya.

Pengiriman jenazah korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 dari Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, menuju Surabaya, Jawa Timur yang dilakukan oleh tim Basarnas. (Efan Ekananda/National Geographic Indonesia)

Pihaknya berusaha menjalin koordinasi dengan seluruh jajaran yang berwewenang di Lanut Iskandar, Pangkalan Bun. Kabar yang diterimanya bahwa jenazah tidak akan dievakuasi ke rumah sakitnya. "Kami turunkan kesiagaan rumah sakit," kata alumni Universitas Hasanuddin ini.

Pada, Selasa (30/12) pihaknya kemudian mendapat informasi bahwa jenazah akan dievakuasi ke rumah sakit itu. Jadi setiap dia mau berangkatkan, itu sudah diberitahukan tolong sediakan untuk menerima jenazah," ya terpaksa kami naikkan status lagi.