Gempa Jakarta: Waspada Gempa Sunda Megathrust

By , Rabu, 24 Januari 2018 | 10:42 WIB

Gempa Sunda Megathrust

Zona tumbukan lempeng bumi di bawah laut Selat Sunda berpotensi gempa bumi hingga magnitude momen (Mw) 9. Gempa ini bisa memicu tsunami hingga lebih dari 20 meter di pesisir Banten dan Lampung.

Ancaman bagi Jakarta yang paling perlu diwaspadai adalah guncangan gempa.

Potensi gempa raksasa di zona subduksi (tumbukan lempeng) Selat Sunda itu disimpulkan dari keberadaan kosong gempa (seismic gap) sepanjang 350-550 kilometer (km). Zona kosong gempa itu sangat mungkin menyimpan potensi gempa raksasa karena energi dari gesekan dua lempeng bumi masih tersimpan.

"Kami belum menyimpulkan kapan keterulangan gempa di Selat Sunda karena masih minimnya data sejarah ataupun studi paleotsunami di selatan Jawa."

"Dengan membuat estimasi lebar dan slip-nya dikalikan panjang seismic gap itu, kami perkirakan potensi kekuatan gempanya dan ketemu sekitar Mw 9," kata peneliti tsunami pada Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Widjo Kongko, Senin (31/3/2014), di Jakarta.

Peneliti gempa bumi dari Pusat Penelitian Geo Teknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bandung, Eko Yulianto, mengatakan potensi gempa raksasa di Selat Sunda menjadi pengetahuan umum peneliti. "Setelah gempa Aceh 2004 dan Sendai 2011, kalangan ilmuwan meyakini bahwa gempa dan tsunami raksasa bisa terjadi di seluruh zona subduksi di mana pun," kata dia.

Di Indonesia, potensi gempa besar bisa di zona subduksi Mentawai, Selat Sunda, selatan Bali, Flores, hingga sekitar Ambon dan Papua. Eko pernah meneliti endapan tanah di sekitar Sungai Cikembulan, Pangandaran, Jawa Barat, untuk mencari jejak tsunami masa lalu. Ditemukan jejak tsunami besar 400 tahun lalu. "Data ini harus dikonfirmasi dengan pengeboran," kata dia.

Skenario terburuk

Meski belum ada data rinci kapan periodisasi gempa di Selat Sunda, kata Widjo Kongko, harus disiapkan skenario terburuk. Ia mengkaji dan membuat model dampak gempa dan tsunami berkekuatan Mw 9 yang berpusat di Selat Sunda.

Hasilnya, Jakarta yang berjarak 200-250 km dari pusat gempa berpotensi berguncang keras beberapa menit. "Intensitas yang dirasakan di Jakarta bisa sangat kuat. Bisa menimbulkan kerusakan bangunan," ujar dia.

Jakarta berada di atas tanah endapan atau aluvial yang karakteristiknya menambah amplifikasi guncangan. "Studi mikrozonasi sangat penting untuk tahu dampak gempa ini," kata dia.

Hal senada juga dikatakan oleh Danny Hilman Natawidjaya, ahli gempa bumi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kepada Kompas.com pada Selasa (23/1/2018). "Jakarta yang relatif jauh dari zona selatan Jawa ternyata juga terguncang kuat. Ini salah satunya dipicu oleh kondisi tanahnya yang lunak dangen batuan dasar yang sangat dalam sehingga memperkuat dampak guncangan gempa," ujar Danny.