Pameran Jayapatra, Lembar Kemenangan dari Yogyakarta untuk Indonesia

By Mahandis Yoanata Thamrin, Kamis, 10 Maret 2022 | 07:00 WIB
Serat Tajusalatin yang ditulis pada masa Sultan Hamengku Buwana V. Karya sastra berupa tembang Jawa yang memaparkan tata cara seorang pemimpin atau raja. Pameran Jayapatra menampilkan koleksi Serat Tajusalatin di Bangsal Pagelaran, Keraton Yogyakarta. (Fajar Wijanarko/Keraton Yogyakarta)

Nationalgeographic.co.id—Beberapa bulan setelah Serangan Umum 1 Maret 1949 yang gemilang, Sukarno pun mengenang kota ini. "Djogjakarta mendjadi termasjhur oleh karena djiwa-kemerdekaannja," ungkapnya. "Hidupkanlah terus djiwa-kemerdekaannja itu!"

Sejatinya, apa saja yang telah disumbangkan Yogyakarta sejak berdirinya? Barangkali kita bisa mendapat rujukan jawabannya dari sebuah pameran temporer yang digelar di halaman depan Keraton Yogyakarta. Selama 8 Maret sampai 12 Juni 2022, Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta menjadi ruang pameran nan langka. Tajuknya, Jayapatra : Dedikasi Yogyakarta Bagi Bangsa. Semua warga dunia bisa menyaksikan koleksi keraton ini secara luring atau mengikuti tur virtual secara daring—dengan tiket berbayar.

Perhelatan ini merupakan bagian peringatan 33 tahun bertakhtanya Sri Sultan Hamengku Buwana X. Acaranya biasa disebut Jumenengan. Pameran mencoba menarasikan gagasan Sultan tentang perjuangan dan sumbangsih Keraton Yogyakarta untuk Indonesia.

"Jayapatra itu berasal dari dua bahasa," kata Fajar Wijanarko, sejarawan dan kurator pameran, kepada National Geographic Indonesia. Dia mengatakan bahwa kata "jaya" sejatinya merupakan basantara, atau lingua franca, yang banyak digunakan di Asia Tenggara. Bermakna kemegahan, kemenangan, kejayaan. Sementara, kata "patra" berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti perjanjian, lembar, atau kesepakatan. "Sehingga," sambungnya, "jayapatra ini lembar kemenangan."

Jayapatra merupakan narasi besar dalam pameran ini, yang dibagi menjadi titik-titik penting yang menautkan catatan Yogyakarta hingga lingkup nasional. Fajar mengungkapkan pameran ini memiliki tiga bagian ruang narasi: pendidikan, sosial politik, dan pemerintahan.

Sekotak koin gulden yang ditemukan di Keraton Yogyakarta. Koin ini menjadi kelengkapan narasi bagaimana Yogyakarta sebagai ibu kota Republik, mendukung dan menjadi tulang punggung dari operasional pemerintahan pada awal kemerdekaan. (Fajar Wijanarko/Keraton Yogyakarta)

Ruang pertama adalah "bagian pendidikan," ungkapnya. "Kita mencoba menyoroti bagaimana awal pendidikan keraton [yang bermula] dari sekolah tamanan sampai kelahiran Universitas Gadjah Mada. Di dalamnya muncul banyak sekali dinamika selama pemerintahan Sultan Hamengkubuwana Pertama sampai Kesembilan."

Dalam pemerintahan Sultan Ketujuh (1877-1921), imbuhnya, "ditemukan satu data dan fakta sejarah terkait kehadiran sekolah-sekolah partikelir, atau sekolah yang dibangun di atas tanah-tanah keraton atau swasta."

Pada 1907, di Yogyakarta terdapat sekolah partikelir sejumlah 75 sekolah. Artinya, Sultan sangat memperhatikan perkara pendidikan sebagai catatan penting. Sekolah-sekolah itu berada di Kota Yogyakarta sebanyak 51 sekolah, Gunungkidul 12 sekolah, dan Kulonprogo 12 sekolah. Boleh dikata, warga Yogyakarta begitu berminat dan membutuhkan edukasi pada dekade pertama abad ke-20.

Sultan mendukung pembangunan sekolah-sekolah partikelir melalui pembiayaan operasional, Fajar menambahkan. Sementara pemerintah Hindia Belanda mendukung melalui material bangunan.

  

Baca Juga: Sisik Melik Makna di Balik Toponimi 'Jalan Malioboro' di Yogyakarta

Baca Juga: Inilah Lukisan Awal Keraton Ngayogyakarta Karya Seniman VOC

  

Ruang kedua, berkisah tentang aspek sosial politik yang terbentang dari Sumpah Pemuda 1928 sampai lahirnya Republik Indonesia Serikat 1950.

Beberapa peristiwa dalam untaian linimasa itu misalnya Sultan Kesembilan naik takhta (1940); Indonesia merdeka (1945) dan Sultan mendukung kemerdekaan tersebut dengan Amanat 5 September; Yogyakarta menjadi Ibu Kota Republik Indonesia (1946), Agresi Militer II (1948), sampai pelantikan Sukarno sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat di Siti Hinggil, Keraton Yogyakarta (1950).

"Yogyakarta mempunyai peran cukup vital dalam berbagai upaya yang dilakukan dalam menjaga kedaulatan negara," kata Fajar, yang saat awal revolusi kemerdekaan menjadi ibu kota Republik Indonesia.

Dalam A History of Modern Indonesia, M.C. Ricklefs mengungkapkan sosok Sultan Kesembilan pada awal berdirinya Republik. "Sultan menghapus praktek Belanda dan memberikan peranan yang lebih terbatas namun lebih berarti kepada elite istana." Dia menambahkan, Sultan Kesembilan juga "segera mengurangi kekuasaan birokrasi istana yang lama dan penghasilannya, yang sudah berkurang karena inflasi, dibiarkan tetap kecil."

Sudut ruang pameran Jayapatra: Dedikasi Yogyakarta untuk Bangsa. Narasi Pisowanan Ageng 1998 menjadi fakta atas peran Keraton Yogyakarta dalam menjaga keutuhan negeri ini. (Keraton Yogyakarta)

Ruang ketiga mengisahkan pemerintahan. Kiprah Keraton Yogyakarta di tengah percaturan politik nasional. "Hamengku Buwana IX, kita tahu, pernah menjabat sebagai menteri dan wakil presiden," ujarnya, "sedangkan dan Hamengku Buwana X catatan paling menonjol adalah saat beliau memimpin Pisowanan Ageng 1998."

Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi mengungkapkan bahwa potret Pisowanan Ageng itu menjadi fakta atas peran Keraton Yogyakarta dalam menjaga keutuhan negeri ini. Saat itu Sultan Kesepuluh turut "mempertahankan kedaulatan republik melalui praktik-praktik budaya dan reformasi di Yogyakarta," ujarnya.

Koleksi-koleksi ruang pemerintahan berkaitan dengan Sultan Kesembilan dan Kesepuluh, merekonstruksi ruang Universitas Gadjah Mada, piagam penghargaan Sultan Kesembilan dari Kerajaan Belanda, sampai replika pusaka yang digunakan dalam penobatan Sultan Kesepuluh.

Pameran ini menjadi relevan karena bebarengan dengan rasa syukur dan bangga atas penetapkan 1 Maret sebagai Hari Penegakan Kedaulatan Nasional. "Jayapatra menjadi salah satu narasi yang cukup strategis untuk mendukung kapasitas kiprah Yogyakarta di percaturan politik pemerintahan nasional," kata Fajar.

Fajar Wijanarko, sejarawan dan kurator, berbincang bersama Gusti Kanjeng Ratu Bendara. Keduanya merupakan sosok di balik layar pameran Jayapatra: Dedikasi Yogyakarta Bagi Bangsa. (Keraton Yogyakarta)

Dia mengungkapkan bahwa hampir semua koleksi ini merupakan koleksi agung milik Keraton Yogyakarta. Namun, dia menambahkan, terdapat dua koleksi yang begitu menarik keingintahuan kita.

Pertama, koleksi tiga manuskrip yang ditulis pada periode Sultan Hamengku Buwana V. Menariknya, isi manuskrip itu telah diajarkan juga ke Sultan Kelima oleh Dipanagara sebagai pendidikan tatanegara untuk para raja pada saat itu. "Manuskrip itu berjudul Serat Makutharaja, Serat Cebolek, dan Serat Tajusalatin," ujarnya.

Kedua, koleksi koin gulden yang menjadi kelengkapan narasi bagaimana Yogyakarta sebagai ibu kota Republik, mendukung dan menjadi tulang punggung dari operasional pemerintahan pada awal kemerdekaan. "Nah, koin gulden ini otentik ditemukan di Keraton sebagai peninggalan pemerintahan Hindia Belanda."

Pameran ini digagas oleh Sultan Kesepuluh, kemudian disiapkan oleh divisi keraton yang berwenang atas museum dan kearsipan, Kawedanan Hageng Punakawan Nityabudaya.

   

Baca Juga: Kesenian Ketoprak: Dari Surakarta ke Yogyakarta untuk Semua Warga

Baca Juga: Ong Kho Sioe: Rumah Candu dan Sejarah Becak Pertama di Yogyakarta

   

Gusti Kanjeng Ratu Bendara, putri bungsu Sultan Kesepuluh sekaligus Penghageng Nityabudaya, mengungkapkan angannya dalam rilis pembukaan pameran.

"Harapannya pameran ini hadir sebagai upaya keraton dalam mengilhami generasi muda," ujarnya, "agar ‘melek sejarah’ tentang Yogyakarta dan perannya atas kelahiran Republik.”

Yogyakarta telah melahirkan ragam imaji bagi para pendatangnya dari masa ke masa. Kota ini penuh dinamika, namun seorang warga Inggris berupaya merekamnya dengan kata-kata saat bertugas sebagai staf pengajar di Universitas Gadjah Mada sekitar 1970-an.

"Ada satu kota di Indonesia yang telah berhasil mempertahankan pesona dan daya tariknya, dan relatif tidak tersentuh oleh dunia modern, dan itulah Yogyakarta," catat Michael Smithies (1932-2019). "Hidup yang tidak terburu-buru, orang-orang tetap sopan meski masyarakat semakin tertekan, dan dengan bangga mempertahankan tradisinya yang masih menjiwai kehidupan kota." 

Smithies menampilkan impresi Yogyakarta pada empat dekade silam. Bagaimana Yogyakarta hari ini menurut Anda?