Kekuatan Legenda Jaka Tarub dalam Keselarasan Semesta di Yogyakarta

By Mahandis Yoanata Thamrin, Jumat, 22 April 2022 | 12:00 WIB
Lukisan bergaya Bali tentang kisah Jaka Tarub yang mengintip para bidadari yang sedang mandi. (Museum Puri Lukisan)

Baca Juga: Upacara 1.000 Sesajen dan Dupa: Wujud Toleransi Masyarakat Indonesia

Baca Juga: Bissu: Kearifan Bugis Terbungkam, Kini Mendekam dalam Liminalitas

    

Ida menyadari bahwa masyarakat kita memiliki pandangan beragam tentang ritual tradisi ini. "Kita harus menerangkan bahwa ritual itu masuk akal. Kita bisa menerangkan bahwa mitos ini diturunkan menjadi benda, menjadi ritual, kemudian menjadi aturan, yang kemudian berdampak positif kepada lingkungan," ujar Ida. "Kita harus menyesuaikan dengan alam pikir manusia sekarang yang cenderung sekuler dan membuat itu rasional bagi mereka."

Sejatinya, penelitiannya merupakan pembelaan bagi tradisi leluhur yang belakangan ini dianggap menyekutukan tuhan dan dianggap sesat. "Kita sering menyebut tradisi itu sebagai kejawen," ujarnya. "Padahal orang muslim Jawa selain melakukan ritual atau ibadah sesuai ajaran Islam, tetapi juga tidak meninggalkan ajaran-ajaran Jawa."  

Dia mengutip pemikiran filsuf Prancis bernama Roland Barthes (1915-1980), "Mitos adalah jenis tuturan untuk melestarikan nilai-nilai yang terbungkus dalam legenda dan cerita." Ida menambahkan, "Inilah yang terjadi di Desa Taruban, mitos tentang pohon besar dan nenek moyang masih dilestarikan untuk mewariskan nilai-nilai."

Apakah kisah Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan benar-benar nyata atau rekaan belaka? Bagi warga sosok itu hadir dalam semangat keseharian mereka dalam menjaga lingkungan. Namun, satu perkara yang pasti, kisah dalam legenda sejatinya merupakan jenis ujaran yang mengandung pesan moral cerita—kebenaran tertinggi dari kata-kata.