Ema, Plakat Doa Simbol Harapan yang Meringankan Jiwa di Jepang

By Sysilia Tanhati, Minggu, 22 Mei 2022 | 11:00 WIB
Di tengah pandemi yang terus berlanjut, ema menjadi saluran harapan untuk masa depan yang lebih baik. (Unsplash/Susann Schuster)

Prayer flag atau bendera doa biasanya diletakkan di tempat yang tinggi. Pemohon percaya jika harapan mereka akan terbang dibawa angin ke langit. (Unsplash/Daniele Salutari)

Namun plakat ema tidak melulu ditujukan untuk dewa dan roh, Robertson menekankan. Banyak yang dimaksudkan untuk mendapatkan respons emosional dari sesama manusia. Dengan mencantumkan nama, usia, dan alamat, para pemohon berharap orang-orang akan menyerap pesan. Kemudian bereaksi dengan simpati atau empati.

“Banyak yang membaca ema orang lain menyadari bahwa masalah mereka tidak seberat yang lain. Kita semua berada di kapal yang sama,” kata Robertson. Ini seperti menggunakan internet untuk mencari jalan keluar dari masalah dan menemukan banyak orang yang berbagi masalah dengan Anda.

 Baca Juga: Tak Selalu Berulah, Tato Menjadi Tanda Hormat Yakuza kepada Budaya

 Baca Juga: Kofun yang Misterius, Kuburan Kuno Jepang yang Menghadap Amaterasu

 Baca Juga: Mariya Takeuchi: Jenius Pop di Balik Kejutan Sukses City Pop Jepang

Ema, bendera doa, tablet nazar, dan lentera mengapung semuanya dapat memberikan keyakinan penting kepada pemohonnya di tengah kesulitan, kata Donald Saucier, profesor psikologi di Kansas State University.

Benda-benda ini tidak hanya menyediakan saluran bagi para dewa, tetapi juga mengingatkan orang-orang tentang jaringan pendukung manusia di sekitarnya. "Hal-hal seperti jimat mungkin menjadi pengingat hubungan sosial lama yang dapat memberi kita kenyamanan selama masa-masa sulit," katanya.

Pandemi COVID-19 hanyalah yang terbaru dalam sejarah bencana yang harus ditangani oleh ema,” tambah Robertson. “Secara historis, ema digunakan sebagai tanggapan terhadap wabah penyakit, kelaparan, epidemi, dan kesulitan yang dialami secara kolektif lainnya,” katanya.

Pelancong pun bisa menuliskan harapannya

Kebiasaan Jepang kuno ini tidak terlarang bagi wisatawan. “Orang asing dipersilakan untuk menggantungkan ema di tempat-tempat keagamaan di seluruh negeri,” kata Takakazu Machi kepada National Geographic. Machi bekerja sebagai pemandu wisata di Jepang selama 18 tahun.

Sebelum pandemi, ia membawa pelancong untuk menuliskan ema di kuil Kitano Tenmangu yang berusia 1.000 tahun di Kyoto. Wisatawan dapat menggantung plakat dengan hormat dengan mengikuti instruksi bahasa Inggris yang sering ditampilkan di dekat rak ema.

Orang asing sering menggunakan ema di kuil Meiji Jingu di Tokyo, Kuil Shitennoji di Osaka, dan kuil Fushimi Inari di Kyoto. Selain itu, mereka juga bisa mengunjungi kuil yang berhubungan dengan keinginan khusus. Orang tua yang berduka karena mengalami keguguran menggantung ema di kuil Zojoji di Tokyo, rumah bagi anak yang belum lahir. Siswa yang berdoa untuk kesuksesan akademis menuju ke Yushima Tenjin di Tokyo, kuil para cendekiawan. Mereka yang mencari berkah romantis meninggalkan plakat di Tsuyu no Tenjinja Osaka, atau Ohatsu Tenjin, latar dari kisah cinta yang terkenal.

“Beberapa turis bahkan menggunakan ema untuk motif politik,” kata pemandu wisata veteran Kyoto Naoki Doi.

Doi mengatakan dia menikmati keberuntungan yang jauh lebih besar dengan ema. Pada usia 76 tahun, dia dengan jelas mengingat dua permintaan yang dia tulis kepada para dewa di masa mudanya. Dibebani oleh stres dan mendambakan masa depan yang sejahtera, ia menggunakan plakat untuk meminta bantuan dalam menyelesaikan ujian. "Ini bekerja sangat baik untuk saya," katanya.

Seperti jutaan orang Jepang sebelum dia, Doi menaruh kepercayaannya pada kebiasaan kuno ini. Sekarang, di tengah pandemi yang terus berlanjut, ema menjadi saluran harapan untuk masa depan yang lebih baik. Ema tetap dihargai seperti biasanya.