Meski Tidak Dilarang Hukum Romawi, Inses Dianggap Tabu dan Barbar

By Sysilia Tanhati, Jumat, 17 Juni 2022 | 07:00 WIB
Inses dipandang sebagai tabu sosial yang utama oleh orang Romawi. (Lawrence Alma-Tadema)

Nationalgeographic.co.id—Peradaban besar Yunani kuno dan Romawi terkenal karena banyak hal seperti seni, arsitektur, sastra, politik, filsafat. Di luar itu, budaya klasik juga dibentuk oleh beragam hal pribadi dan intim.

Salah satu yang paling kompleks dan kontroversial adalah inses. Bagaimana bangsa Yunani dan Romawi memandang praktik inses dalam budaya mereka?

Arti kata inses

Meski kata inses berasal dari bahasa Latin, orang Yunani tidak mengenal istilah itu. Hubungan seksual antar keluarga disebut dengan istilah yang lebih halus yaitu gamos anosios atau gamos asebes. Secara harfiah, istilah tersebut berarti 'persatuan yang tidak suci'.

Dari Romawi, muncul istilah modern 'incest', yang berasal dari kata Latin 'incestum'. Artinya tidak murni karena mengacu pada keseluruhan aktivitas seksual yang dianggap melanggar batas moral, agama, atau hukum.

Inses sebagai inti dari kisah penciptaan klasik

Seperti semua orang tahu, raja para dewa dalam mitologi Yunani kuno adalah Zeus, menikah dengan dewi Hera. Baik Zeus dan Hera adalah anak-anak dari Titans Cronus dan Rhea, yang juga bersaudara.

Jalinan inses para dewa dan dewi ini tidak berhenti di situ. Sudah menjadi hal yang lumrah dalam agama Yunani dan Romawi jika para dewa melakukan hubungan seksual yang aneh. Misalnya dengan saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, ayah, bibi, dan paman mereka.

Meski ini lazim, dewa-dewa klasik bukanlah model moralitas dan kebaikan. Sebaliknya, mereka adalah karakter independen dengan kekuatan dan sifat buruknya. Untungnya, baik orang Yunani maupun Romawi tidak berniat untuk meniru tindakan buruk para dewa.

Beberapa bentuk inses bahkan diizinkan oleh hukum Yunani dan Romawi

Hukum di Athena dan Sparta mengizinkan masyarakat untuk menikahi saudara kandung mereka. Sementara di Romawi, tidak jarang paman menikahi keponakan perempuan. Aturan ini disahkan setelah Kaisar Claudius menikahi putri saudara laki-lakinya, Agripina.

Namun perlu diingat, meski tidak dilarang oleh hukum, bukan berarti inses dipraktikkan secara luas atau diterima secara sosial.