Akuaduk: Saluran Air Kolosal Romawi Dibangun dengan Bantuan Gravitasi

Sysilia Tanhati Selasa, 12 Juli 2022 | 13:00 WIB
Sulit membayangkan bagaimana orang Romawi membangun konstruksi kolosal dan kompleks seperti itu tanpa mesin-mesin canggih. Saluran air kolosal Romawi ini dibangun dengan bantuan gravitasi. (Pamela McCreight)

Saluran air dirancang sedemikian rupa sehingga gravitasi saja yang mengangkut air dalam saluran datar. Bahan yang berbeda digunakan untuk saluran tempat air mengalir tergantung pada kebutuhan dan ketersediaan. Sebagian menggunakan keramik dan batu. “Timbal digunakan jika benar-benar dibutuhkan karena mereka menyadari masalah kesehatan yang ditimbulkannya,” imbuh Bruschi.

Akuaduk memiliki komponen penting seperti tangki sedimen (untuk menyaring kotoran), tangki distribusi, dan pipa bertekanan tinggi (jika dibutuhkan).

Sebagian besar mengalir di bawah tanah dengan pipa yang sangat kompleks

Mungkin bukti yang tampak jelas hingga saat ini adalah lengkungan batu megah dan jembatan. Faktanya, orang Romawi juga membangun sistem pipa bawah tanah yang kompleks di mana air mengalir tanpa terlihat.

Jembatan hanya mengalirkan sekitar 20 persen dari keseluruhan akuaduk. Orang Romawi membangun saluran air di bawah tanah untuk melindungi dari erosi. (Andrea Jaime)

Jembatan hanya mengalirkan sekitar 20 persen dari keseluruhan akuaduk. Orang Romawi membangun saluran air di bawah tanah untuk melindungi dari erosi. Selain itu juga untuk memastikan ladang dan lingkungan sekitarnya tetap relatif tidak tersentuh.

Mereka harus bekerja siang dan malam untuk menggali lubang yang dalam ke tanah. Kemudian melapisinya dengan tanah liat untuk mencegah air bocor. Air mengalir di sepanjang pipa tanah liat ini dari pegunungan ke kota. Kadang-kadang mengalir hingga 80-100 km menuruni bukit.

Air segar yang dialirkan dari tempat lain kemudian disimpan di tangki utama yang disebut castellum. Dari sini, pipa-pipa yang lebih kecil yang terbuat dari timah membawa air ke castella sekunder lainnya. Lalu pipa-pipa lainnya mengalirkan air ke air mancur, pemandian. Bagi yang beruntung, air juga bisa mengalir ke rumah pribadi.

Tenaga-tenaga luar biasa digunakan untuk membangun akuaduk megah

Saluran air membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun. Orang Romawi mempekerjakan budak untuk semua pekerjaan pengangkutan batu, penggalian parit, dan konstruksi. Merekalah yang melakukan semua pekerjaan yang melelahkan.

Setelah saluran air Romawi dibangun, kaisar mempekerjakan Kurator Aquarum atau kurator air untuk mengawasi kelancarannya. Kurator ini juga mengarahkan budak atau pekerja ke area yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan.

Saluran air Romawi membutuhkan perawatan rutin. Yang membuat teknologi bangsa Romawi sangat menakjubkan, mereka bahkan menambahkan katup khusus. Katup ini dikenal sebagai 'gerbang pintu air' untuk mengalihkan air dari pipa yang rusak ke jalur alternatif. Seiring pertumbuhan kekaisaran, jumlah budak yang tersedia untuk melakukan pekerjaan seperti itu secara bertahap menyusut. Konon ini adalah salah satu potongan teka-teki yang akhirnya menyebabkan kejatuhan Roma kuno.

Hingga saat ini, akuaduk masih digunakan untuk mengaliri air ke Fontana di Trevi di kota Roma. ( Adoler V.)

Pada puncaknya pada abad ke-6 Masehi, kota Roma memiliki 11 akuaduk yang berbeda. Semua akuaduk ini diperlukan untuk menjaga populasi yang besar tetap bersih dan sehat. Pembangunannya dilakukan secara bertahap selama rentang waktu sekitar 500 tahun.

Yang paling terkenal adalah Aqua Virgo, dibangun pada tahun 19 Sebelum Masehi pada masa pemerintahan Kaisar Augustus. Dengan keajaiban, konstruksi ini masih berfungsi penuh sampai sekarang. Membentang dari pegunungan Italia ke jantung kota Roma, memasok air ke Air Mancur Trevi yang ikonik. Namun Anda harus berhati-hati saat berkunjung Kota Abadi. Saat ini air diolah dan didaur ulang secara kimia, sehingga tidak aman untuk diminum. Meski tentunya air jernih di Air Mancur Trevi terlihat sangat menggoda untuk diteguk saat panas terik.

Halaman Sebelumnya
Source : The Collector,Historyofyesterday
Penulis : Sysilia Tanhati
Editor : Mahandis Yoanata Thamrin