Persembahan untuk Zeus, Atlet Olimpiade Kuno Berlaga Tanpa Busana

By Sysilia Tanhati, Jumat, 29 Juli 2022 | 16:00 WIB
Berbeda dengan Olimpiade di masa kini, atlet Olimpiade kuno berlaga tanpa busana. Salah satu alasannya adalah mempersembahkan kecakapan fisik untuk Zeus. (Euphiletos Painter)

Nationalgeographic.co.id—Sekitar 3.000 tahun yang lalu, Olimpiade kuno diadakan di Olympia, Yunani. Perhelatan akbar ini di gelar untuk menghormati dewa Zeus. Di abad ke-19, Olimpiade dihidupkan kembali dan menjadi kompetisi olahraga terkemuka di dunia. Banyak yang berubah sejak Olimpiade diadakan di Yunani kuno. Salah satu aspek yang membuat tercengang adalah atlet Olimpiade kuno berlaga tanpa busana. Apa alasannya?

Tubuh laki-laki yang telanjang adalah simbol penting bagi orang Yunani kuno. Tubuh atletis adalah simbol utama peradaban dan dominasi Yunani.

“Di Yunani Kuno, melepas jubah dan telanjang saat berolahraga menjadi pernyataan tegas tentang kelelakian. Selain itu juga menunjukkan etnis, status, kebebasan, hak istimewa, dan kebajikan fisik,” jelas sejarawan Donald Kyle.

Faktanya, hanya “orang barbar” yang merasa aneh melihat pria mengolesi minyak satu sama lain dan bersaing dalam keadaan telanjang. Bagi orang Yunani, semua itu adalah hal biasa.

Pemenang Olimpiade dianggap sebagai dewa

Di zaman Yunani kuno, menjadi pemenang Olimpiade sama saja dengan menjadi dewa. Sehingga memamerkan tubuh sempurna di depan umum dipandang sebagai cara untuk menghormati para dewa.

Kata gimnasium atau senam sebenarnya berasal dari bahasa Yunani (‘gymnos’), yang diterjemahkan sebagai “telanjang” atau “berpakaian ringan.” Gimnasium adalah institusi penting bagi orang Yunani kuno. “Ini merupakan tempat di mana pria dapat melatih, bersosialisasi, dan dididik, dalam keadaan telanjang,” tutur Cecilia Boogard di laman Ancient Origins.

Siapa yang pertama kali bertanding tanpa busana?

Meskipun pertama kali diadakan pada 776 Sebelum Masehi, baru pada 720 Sebelum Masehi para atlet bertanding tanpa busana. Namun sejarawan tidak sepenuhnya yakin alasannya.

Menurut beberapa catatan sejarah, atlet pertama yang bertanding telanjang adalah Orsippus, atlet lari dari Megara. Diyakini, kain pinggangnya yang dikenakannya jatuh secara tidak sengaja saat perlombaan lari.

Beberapa versi mengeklaim Orsippus menemukan cara agar dapat berlari lebih cepat, yaitu dengan kondisi telanjang.

Lainnya mengeklaim bahwa Acanthus dari Sparta yang muncul pertama kali dalam keadaan telanjang. Mereka meyakini bahwa ini merupakan tradisi orang Sparta.

Siapa pun yang pertama kali menggagasnya, pada akhir abad ke-8 Sebelum Masehi, telanjang menjadi aturan Olimpiade.

Di sisi lain, kebiasaan ini juga sejalan dengan tradisi Yunani. Mereka membayar upeti kepada dewa melalui tampilan kecakapan fisik.

Acara khusus laki-laki

Olimpiade kuno merupakan sebuah acara yang hanya terbuka untuk warga negara laki-laki yang lahir bebas. Tidak ada pertandingan untuk wanita, bahkan wanita yang sudah menikah dilarang untuk menonton.

Olimpiade kuno diadakan setiap empat tahun antara 6 Agustus dan 19 September selama festival keagamaan untuk menghormati Zeus. Pertandingan ini dinamai berdasarkan lokasinya di Olympia. Ini merupakan sebuah situs suci yang terletak di dekat pantai barat semenanjung Peloponnese di selatan Yunani.

    

Baca Juga: Kuak Tabir Mengerikan Kanibalisme dalam Mitologi Yunani Kuno

Baca Juga: Milos: Legenda Gulat Yunani Kuno dan Manusia Terkuat dalam Sejarah

Baca Juga: Gulat Sebagai Olahraga Ekstrem yang Populer di Era Yunani Kuno

Baca Juga: Kita Telah Kehilangan Jejak Budaya Yunani Kuno Selama 500 Tahun!

    

Pertandingan dimulai dengan prosesi yang berangkat dari kota tuan rumah Elis ke Olympia. Prosesi ini dipimpin oleh Hellanodikai (hakim). Setibanya di Olympia, semua atlet dan pejabat bersumpah untuk mengikuti aturan yang ditetapkan dari kompetisi. Mereka bersaing dengan kehormatan dan menghormati. Bagian terpenting dari upacara itu adalah pengurbanan 100 lembu di altar Zeus. Pengurbanan ini dilakukan setelah pertandingan selesai.

Uniknya, wanita muda dan gadis remaja boleh menonton pertandingan dengan ayah mereka. “Para ayah membawa putrinya ke pertandingan dengan harapan agar mereka menikah dengan juara Olimpiade,” tulis Stefan Lovgren di National Geographic.

Pemenang Olimpiade dianggap sebagai manusia setengah dewa. Mereka mendapatkan prestise dan kekayaan yang luar biasa dari kemenangan Olimpiade. Saking besarnya, si pemenang tidak perlu lagi bekerja untuk membiayai hidupnya. “Ia pun menjadi bagian dari sejarah yang akan terus dikenang,” imbuh Lovgren.

   

Simak kisah-kisah selidik sains dan gemuruh penjelajahan dari penjuru dunia yang hadir setiap bulan melalui majalah National Geographic Indonesia. Cara berlangganan via bit.ly/majalahnatgeo