Manusia Cenderung Ingin Lebih, Meski Mengarah Pada Ketidakbahagiaan

By Ricky Jenihansen, Minggu, 7 Agustus 2022 | 15:00 WIB
Kita selalu cenderung menginginkan lebih. (Finerminds)

Nationalgeographic.co.id—Penelitian baru dari Princeton University dapat membantu menjelaskan mengapa kita selalu cenderung menginginkan lebih, meski mengarah pada ketidakbahagiaan. Penelitian ini menggunakan model pembelajaran penguatan untuk mendapatkan kesimpulan.

Peneliti mempelajari lebih lanjut tentang mengapa kita melatih dan membandingkan. Meskipun itu membuat kita tidak bahagia. Mereka menemukan bahwa membiasakan dan membandingkan mungkin memainkan peran penting dalam perilaku adaptif yang membantu pembelajaran.

Rincian lengkap penelitian ini telah diterbitkan di jurnal PLoS Computational Biology dengan judul "The pursuit of happiness: A reinforcement learning perspective on habituation and comparisons" belum lama ini. Jurnal tersebut merupakan akses terbuka yang dapat diperoleh secara daring.

Seperti diketahui, kebahagiaan adalah salah satu emosi manusia yang paling dicari. Mencapainya dalam jangka panjang, bagaimanapun, tidak dapat dicapai bagi banyak orang.

Hal ini karena kebahagiaan tergantung pada perubahan harapan yang membuat orang cepat terbiasa dengan 'alasan baru untuk bahagia'. Itu juga tergantung pada apakah orang membandingkan apa yang mereka miliki dengan orang lain atau apa yang mereka inginkan.

Baik pembiasaan maupun perbandingan dapat menyebabkan siklus hasrat dan keinginan yang tidak pernah berakhir, yang berdampak negatif pada kesehatan mental dan kebahagiaan.

Menurut peneliti, memahami kerugian dan manfaat dari pembiasaan dan perbandingan dapat membantu mengembangkan kebijakan dan intervensi skala besar untuk mengatasi bias mental ini.

Baru-baru ini, para peneliti menggunakan kerangka kerja komputasi yang dikenal sebagai pembelajaran penguatan. Tujuannya untuk memodelkan efek dari berbagai tingkat pembiasaan dan pembuatan perbandingan.

Mereka menemukan bahwa sementara membuat perbandingan mengurangi kebahagiaan, itu mempercepat belajar.

Nathaniel Daw, profesor ilmu komputasi dan teoretis di Universitas Princeton, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan kepada Medical News Today:

"Anda mungkin berpikir bahwa membuat robot yang dapat memilih di antara berbagai opsi itu mudah: Anda hanya memberi skor pada semuanya dan memilih yang terbaik," kata Daw.

"Tetapi sebenarnya mencari tahu cara mengatur skor itu agar robot Anda membuat pilihan yang baik ternyata sangat rumit. Makalah ini melihat kebahagiaan manusia dari perspektif ini."