Pelajaran Perjalanan: Karena Masyarakatnya, Surakarta Punya Cerita

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Selasa, 20 September 2022 | 13:00 WIB
Editor in Chief National Geographic Indonesia Didi Kaspi Kasim (kanan) dan petualang Marshall Sastra (kiri) berjalan di pusat barang antik Pasar Triwindu, Surakarta, dalam misi Pelajaran Perjalanan. (Donny Fernando/National Geographic Indonesia)

Meski sajian Surakarta ini ada di mana-mana, tetap saja tidak bisa menggantikan kotanya. Masyarakat Surakarta memberikan pembelajaran menarik lainnya tentang ekonomi sirkuler—jauh sebelum konsepnya populer di era penanganan krisis iklim kini.

Mereka menjajakan barang-barang antik di Pasar Triwindu yang sudah berdiri sejak 1939. Pada awalnya, pasar ini berdiri sebagai peringatan tahun ke-24 (windu ketiga) Mangkunegara VII (berkuasa 1916–1944).

Didi dan Marshall bertemu dengan Hamid, salah satu pedagang di Pasar Triwindu. Isi kiosnya hampir semuanya dipenuhi lampu hias klasik dan peralatan kerajinan. Dia tidak hanya menjual barang antik, tetapi juga memodifikasi barang agar bisa bernilai dibeli.

Dia menjelaskan bahwa bahan-bahan modifikasinya dibeli dari sesama pedagang atau pengunjung Pasar Triwindu yang punya barang tak terpakai lagi. "Pasar itu kan tempat berjual dan beli. Semua bisa menjadi penjual sekaligus pembeli," kata Hamid. Semua yang beraktivitas di tempat ini seperti menjadi penyelamat sejarah, sekaligus 'menjungkir balik' definisi sampah bisa menjadi harta bernilai.

Bicara sejarah, Surakarta juga cocok sebagai pembelajaran tentang masa lalu. Apabila Anda hendak mengetahui awal kota ini, cobalah berkunjung ke Laweyan. Di sana, berdiri makam Ki Ageng Genis, seorang ulama yang menjadi leluhur para penguasa Mataram. Tak jauh dari makamnya, berdiri Masjid Laweyan sejak tahun 1546 di era Kesultanan Pajang.

Hamid, pengerajin dan pedagang barang antik di Pasar Triwindu, Surakarta, sedang asik memodifikasi beberapa barang bekas. Sebagian barang olahan itu menjadi bernilai jual. (Donny Fernando/National Geographic Indonesia)

Sanggar Soerya Soemirat GPH Herwasto Kusumo di dekat gerbang timur Pura Mangkunagaran masih aktif merawat kesenian tari tradisional. Masih banyak anak-anak masyarakat Surakarta menaruh minatnya pada tarian ini. (Donny Fernando/National Geographic Indonesia)

Akan tetapi, intrik politik kerajaan di Jawa bagian selatan cukup rumit. Berangsur-angsur, pergolakan seperti Perang Jawa terjadi demi perebutan takhta, kekuasaan, dan adu domba kolonialisme. Kesultanan Pajang berubah menjadi Kesultanan Mataram, kemudian terpecah menjadi empat kerajaan baru.

Di kawasan administrasi Surakarta modern, kesultanan itu terpecah menjadi Kadipaten Mangkunagaran dan Kasunanan Surakarta. Kadipaten Mangkunagaran berdiri akibat Perjanjian Salatiga tahun 1757 yang terpisah dari Kasunanan Surakarta.

"Mereka (masyarakat kota Surakarta) punya hierarkinya sendiri," Didi berpendapat. "Walau mereka (Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunagaran) tidak aktif secara langsung dalam pemerintahan, mereka menjadi aset perlindungan kebudayaan masyarakat Solo."

Hal itu terbukti ketika Didi dan Marshall berkunjung ke Pura Mangkunagaran. Anak-anak terlibat dalam latihan tari klasik Golek Sri Rezeki di Sanggar Soerya Soemirat G.P.H Herwasto Kusumo dekat gerbang timur Pura Mangkunagaran. 

Pelestarian warisan luhur masyarakat Surakarta juga terjaga lewat perlindungan pada bangunan cagar budaya. Bangunan Keraton Kasunan dan Pura Mangkunagaran masih seperti dahulu berdiri dan lebih inklusif untuk memperkenalkan cagar budaya dan sejarah Surakarta.