Patung yang Berbicara: Menyuarakan Kritik Orang Roma pada Penguasa

By Sysilia Tanhati, Minggu, 2 Oktober 2022 | 08:00 WIB
Selama lima ratus tahun terakhir, orang-orang Roma menyuarakan kebencian mereka terhadap pihak berwenang melalui media yang unik. Ekspresi ketidakpuasan politik ini dipajang secara anonim di berbagai patung terkemuka di sekitar kota. (Nicolas Beatrizet )

Nationalgeographic.co.id - Selama lima ratus tahun terakhir, orang-orang Roma menyuarakan kebencian mereka terhadap pihak berwenang melalui media yang unik. Kritik itu bisa berbentuk komposisi-komposisi pendek dan syair-syair satir yang mengejek pemerintah, paus, dan perilakunya. Ekspresi ketidakpuasan politik ini dipajang secara anonim di berbagai patung terkemuka di sekitar kota. Maka “patung yang berbicara” ini jadi media unik yang menyuarakan kritik orang Roma pada penguasa.

Di sekitar patung-patung itu, masyarakat biasanya bertemu dan mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadi mereka dan juga negara.

Penonjolan patung-patung itu membuat suara-suara anonim ini terekspos. Maka diskusi sering kali mengarah ke topik yang “disuarakan” patung. Akhirnya, orang-orang mulai menggunakan patung-patung ini untuk menyuarakan kritik atau pesan. “Fungsinya sama seperti papan buletin di zaman sekarang,” tulis Kaushik Patowary di laman Amusing Planet. Patung-patung ini kemudian dikenal sebagai “Patung yang Berbicara”.

Kritik kepada paus lewat patung

Salah satu paus pertama yang tindakannya menuai kritik keras adalah Paus Nicholas V (1447-55). Nicholas bukan paus yang buruk. Seorang tokoh kunci dalam Renaisans Romawi, Nicholas berperan penting dalam menjadikan Roma rumah sastra dan seni.

Ia memperkuat benteng, memulihkan saluran air, dan membangun kembali banyak gereja. Sang paus juga memerintahkan rencana desain Basilika Santo Petrus. Peran penting dalam mendirikan perpustakaan Vatikan berhasil menyelamatkan ribuan manuskrip dari Turki setelah jatuhnya Konstantinopel. Namun mengapa orang yang begitu berjasa dikritik oleh masyarakat Roma?

Penduduk Roma, bagaimanapun, tidak bisa menghargai karyanya dan berkonspirasi untuk menggulingkan pemerintahan kepausan. Ketika mengetahui rencana itu, Nicholas menangkap para konspirator dan menggantung mereka. Tindakan ini tak ayal mendapat kritik. Puisi pun dibuat untuk menyuarakan kebencian terhadap paus.

“Sejak Nicholas menjadi paus dan pembunuh, darah berlimpah di Roma sementara terjadi kekurangan anggur.”

Tentu saja, patung menjadi media untuk menyuarakan puisi itu.

Patung Pasquino

Dari enam patung yang bisa berbicara di Roma, yang paling terkenal adalah patung bergaya Helenistik yang berasal dari abad ketiga Sebelum Masehi. Patung Pasquino digali di distrik Parione Roma pada abad kelima belas.

Patung ini diletakkan di sudut Palazzo Braschi. Setiap perayaan Santo Markus, Kardinal menyelenggarakan semacam kompetisi sastra Latin dan puisi ditempelkan di patung. Namun di luar hari itu, ada juga yang menempelkan puisi-puisi. Sejak itu, Pasquino menjadi patung yang berbicara pertama di Roma.