Agar Tidak Tertukar, Pelacur Romawi Kuno Harus Mewarnai Rambutnya

By Sysilia Tanhati, Senin, 28 November 2022 | 18:30 WIB
Ada kebiasaan dan aturan bangsa Romawi kuno yang dianggap absurd oleh orang modern. Misalnya pelacur yang harus mewarnai rambutnya menjadi pirang agar tidak tertukar dengan bangsawan. (Wellcome Library)

Nationalgeographic.co.id—Saat mempelajari kehidupan masyarakat kuno, tidak jarang kita mengalami gegar budaya. Misalnya kehidupan di zaman Romawi kuno. Tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh bangsa Romawi kuno masih terasa hingga kini. Misalnya budaya, agama, dan hukumnya. Meski demikian, ada kebiasaan dan aturan bangsa Romawi kuno yang dianggap absurd oleh orang modern. Seperti pelacur Romawi kuno yang harus mewarnai rambutnya menjadi pirang agar tidak tertukar dengan wanita bangsawan. Selain itu, hukum di masa awal juga memperbolehkan seorang ayah untuk membunuh anaknya.

Agar tidak tertukar, pelacur harus mewarnai rambutnya menjadi pirang

Aturan ini sekali lagi berkaitan dengan obsesi Romawi terhadap kelas dan status sosial. Sebagian besar wanita Romawi asli berambut gelap. Rambut pirang dikaitkan dengan orang Galia dan Barbar.

Prostitusi dalam masyarakat Romawi kuno adalah 100% legal. Bahkan tidak ada dampak sosial bagi pria yang menggunakan jasa pelacur. Meski demikian, salah satu profesi tertua di dunia ini dipandang rendah.

“Undang-undang mengatur pelacur harus mewarnai rambut mereka menjadi pirang,” tulis Robbie Mitchell di laman Ancient Origins. Tujuannya untuk memastikan bahwa tidak ada wanita Romawi yang baik dan jujur ​​yang disalahartikan sebagai pelacur. Dengan cara ini, mereka akan tampak lebih seperti orang Galia yang barbar, daripada wanita Romawi yang agung.

Aturan ini berhasil, untuk sementara waktu. Pasalnya, wanita bangsawan Romawi iri dengan tampilan pirang nan seksi. Mereka mulai mengecat rambut mereka atau menuntut agar para pelacur malang itu mencukur rambutnya agar wig pirang bisa dibuat.

Rakyat jelata dilarang menggunakan warna ungu

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Romawi terobsesi dengan kelas. Salah satu cara untuk memenuhi obsesi itu adalah dengan pengaturan warna. Di masa itu, rakyat jelata dilarang mengenakan warna ungu.

Di zaman Romawi kuno, warna ungu dikaitkan dengan kemuliaan, kekuasaan, dan kebangsawanan. Dengan demikian, toga ungu hanya diperuntukkan bagi kaisar dan orang Romawi berpangkat tinggi lainnya.

Mengapa ungu memiliki reputasi ini? Karena sangat mahal untuk menghasilkan pewarna ungu. Semua pewarna ungu bersumber dari Fenisia. Untuk membuat pewarna yang cukup untuk sebuah toga, sepuluh ribu moluska harus dihancurkan. “Konon, pewarna ungu bernilai kira-kira sama dengan emas,” Mitchell menambahkan.

Orang Romawi senang bisa membedakan kelas seseorang hanya dengan melihat penampilan seseorang. Larangan toga ungu adalah contoh utama hukum sumptuary Romawi. Ini adalah undang-undang yang melarang orang Romawi kelas bawah memamerkan kekayaan apa pun yang mungkin mereka miliki.

Dalam sistem kelas Romawi, Anda tetap di tempat Anda dan hanya kelas atas yang bisa memamerkan kekayaannya.