Suasana Hati yang Buruk Membuat Seseorang Lebih Hati-Hati dan Analitis

By Ricky Jenihansen, Sabtu, 21 Januari 2023 | 08:00 WIB
Suasana hati yang negatif memengaruhi cara Anda memproses bahasa. (NSW Department of Education)

Nationalgeographic.co.id—Studi baru yang dipimpin oleh University of Arizona menemukan bahwa suasana hati yang buruk memengaruhi cara Anda memproses bahasa. Seseorang dengan suasana hati yang buruk menjadi lebih berhati-hati dan analitis, menurut studi tersebut.

Menurut studi tersebut, saat seseorang sedang dalam suasana hati yang buruk, Anda mungkin ingin fokus pada tugas-tugas yang lebih berorientasi pada detail, seperti mengoreksi

Ketika orang berada dalam suasana hati yang negatif, mereka mungkin lebih cepat menemukan ketidakkonsistenan dalam hal-hal yang mereka baca.

Studi yang dipublikasikan di Frontiers in Communication ini didasarkan pada penelitian yang sudah ada tentang bagaimana otak memproses bahasa.

Vicky Lai, seorang asisten profesor psikologi dan ilmu kognitif UArizona, bekerja dengan kolaborator di Belanda untuk mengeksplorasi bagaimana otak orang bereaksi terhadap bahasa ketika mereka berada dalam suasana hati yang bahagia versus suasana hati yang negatif.

"Suasana hati dan bahasa tampaknya didukung oleh jaringan otak yang berbeda. Tapi kita punya satu otak, dan keduanya diproses di otak yang sama, jadi ada banyak interaksi yang terjadi," kata Lai.

"Kami menunjukkan bahwa ketika orang berada dalam suasana hati yang negatif, mereka lebih berhati-hati dan analitis. Mereka meneliti apa yang sebenarnya dinyatakan dalam sebuah teks, dan mereka tidak hanya kembali pada pengetahuan dunia asli mereka."

Lai dan rekan penulis studinya mulai memanipulasi suasana hati peserta studi dengan menunjukkan klip dari film sedih "Sophie's Choice" atau acara televisi lucu "Friends".

Survei terkomputerisasi digunakan untuk mengevaluasi suasana hati peserta sebelum dan sesudah menonton klip. Sementara klip lucu tidak memengaruhi suasana hati partisipan, klip sedih berhasil menempatkan partisipan dalam suasana hati yang lebih negatif, demikian temuan para peneliti.

Para peserta kemudian mendengarkan serangkaian rekaman audio yang netral secara emosional dari cerita empat kalimat yang masing-masing berisi "kalimat kritis" yang mendukung atau melanggar standar, atau pengetahuan kata yang sudah dikenal.

Kalimat itu ditampilkan satu kata pada satu waktu di layar komputer, sementara gelombang otak peserta dipantau oleh EEG, sebuah tes yang mengukur gelombang otak.

Misalnya, para peneliti menyajikan kepada peserta studi sebuah cerita tentang mengemudi di malam hari yang diakhiri dengan kalimat kritis "Dengan lampu menyala, Anda dapat melihat lebih banyak."