Kornelis Ndapakamang: Mengikat Tenun Sambil Memberi Peluang Bumi

By National Geographic Indonesia, Jumat, 31 Maret 2023 | 12:00 WIB
Kornelis Ndapakamang, penggiat Tenun Ikat Pewarna Alami Sumba Timur. (Feri Latief)

“Karena kalau tenaga perempuan ikatannya kurang kuat, bisa bocor saat pencelupan warna,” begitu penjelasannya. 

Sekarang, semakin banyak kaum lelaki yang terlibat dalam berbagai prosesnya. Beberapa pembuat motif tenun ikat di Sumba banyak dikerjakan kaum lelaki. Khusus untuk proses menenun hanya perempuan yang mengerjakan. 

Ardiana Yoaawa, Desmianti Kokurpandat, dan Anita Kaitalepir (kiri ke kanan), memproses daun indigo atau wuara untuk dijadikan pewarna alam. (Feri Latief)

Kornelis sendiri mulai terjun ke tenun ikat karena melanjutkan keahlian ibunya. Dari lima orang bersaudara, hanya dia yang memilih untuk wawarisi keahlian ibunya. Ia dekat dengan tenun ikat karena dari kecil sudah membantu ibunya dalam tahap-tahap membuat kain tenun.  Proses tahapan tenun ikat itu mencapai 50-an tahapan.

“Terutama tahap-tahap proses yang kita anak kecil bisa menjangkau, seperti menggulung benang,” lanjutnya.

Sayangnya, memintal kapas menjadi benang semakin langka di Sumba. Sudah jarang seniman tenun ikat seperti Kornelis ini menggunakan benang dari kapas. Sekarang benangnya beli di pabrik. Apabila ia menggunakan benang dari kapas, selembar kain bisa memakan waktu satu tahun pengerjaannya.

Ia ingat ketika kecil, tenun ikat hanyalah usaha sampingan, orangtuanya lebih fokus ke pertanian. Waktu itu pasar nasional belum banyak peminatnya, karena diproduksi untuk digunakan sendiri atau keperluan adat istiadat. 

Ia melihat tenun ikat pewarna alam ini sebagai peluang bisnis di tahun 1990-an, saat ia masih duduk di SMA kelas dua. Ada anggota beberapa lembaga swadaya masyarakat dari luar negeri berkunjung ke rumahnya dan membeli tenun ikat pewarna alam ibunya. Setelah itu Kornelis mulai berpikir untuk melanjutkan dan memperbesar usaha ibunya.

Ketika Kornelis selesai pendidikan SMA, ia tidak mau melanjutkan ke perguruan tinggi.

“Dalam hati saya kalau kuliah pasti butuh uang, sebaiknya apa salahnya kalau uang itu dipergunakan untuk modal tenun ikat? Lebih baik saya melanjutkan usaha tenun ikat saja untuk mempertahankan tradisi itu,” kenangnya saat ia berani mengambil keputusan. 

Anita Kaitalepir mengaduk cairan fermentasi indigo atau wuara untuk dioksidasi, nama prosesnya dikebur. (Feri Latief)

Sejak 1994, ia membangun usaha tenun ikat pewarna alami. Dari ke tahun ke tahun perlahan-lahan ia terus membangun usahanya. Perlahan ia mulai dikenal para pecinta wastra tenun ikat pewarna alam.