Dunia Hewan: Bagaimana Semut Bisa Menaklukan Dunia Sejak Prasejarah?

By Wawan Setiawan, Senin, 3 April 2023 | 07:00 WIB
Di dunia hewan, semut adalah salah satu serangga yang paling umum di Bumi, dengan lebih dari 14.000 spesies dan perkiraan populasi lebih dari empat kuadriliun. (Creative Touch Imaging/Getty Images)

Nationalgeographic.co.id—Di dunia hewan, semut memang cukup banyak di mana-mana. Ada lebih dari 14.000 spesies berbeda, tersebar di setiap benua kecuali Antarktika, dan para peneliti memperkirakan bahwa ada lebih dari empat kuadriliun individu semut di Bumi—jika ditulis: 4.000.000.000.000.000.

Di masa modern, selama manusia bergerak di seluruh dunia, semut ini juga telah menumpang bersama kita, sebagian besar berupa barang seperti makanan, tanaman, dan tanah. Semut-semut “turis” ini, sebagaimana salah satu koran tahun 1939 menjulukinya, telah menjelajahi dunia sejak tahun 1600-an.

Namun bagaimana semut berevolusi puluhan juta tahun lalu untuk mengambil alih dunia masih menjadi misteri.

Semut ada tetapi relatif jarang sekitar 90 juta tahun yang lalu, ketika dinosaurus semakin mendekati kepunahan. Sekitar 50 juta tahun yang lalu, tidak lama setelah dinosaurus punah, populasi semut tiba-tiba tumbuh subur. Sejak saat itu, mereka mulai mendominasi catatan fosil hewan.

Dalam sebuah studi baru, para ilmuwan menggunakan kombinasi fosil, DNA, dan data tentang preferensi habitat spesies modern untuk menyatukan bagaimana semut dan tumbuhan berevolusi bersama selama 60 juta tahun terakhir.

Mereka menemukan bahwa ketika tumbuhan berbunga menyebar dari hutan, semut pun mengikutinya, memulai evolusi ribuan spesies semut yang hidup hari ini. Temuan ini telah dipublikasikan di jurnal Evolution Letters pada 31 Maret 2023 bertajuk “Macroecological diversification of ants is linked to angiosperm evolution.”

Semut pemotong daun, salah satu dari lebih dari 14.000 spesies yang hidup hari ini. (Matthew Nelson)

"Ketika Anda melihat ke seluruh dunia hari ini, Anda dapat melihat semut di hampir setiap benua menempati semua habitat yang berbeda ini, dan bahkan dimensi yang berbeda dari habitat tersebut—beberapa semut hidup di bawah tanah, beberapa hidup di kanopi pohon,” kata Matthew Nelsen, seorang ilmuwan peneliti di Field Museum di Chicago dan penulis utama makalah tersebut.

“Kami mencoba untuk memahami bagaimana mereka dapat melakukan diversifikasi dari satu nenek moyang yang sama untuk menempati semua ruang yang berbeda ini," tambahnya.

Para ilmuwan telah mengetahui bahwa semut dan tumbuhan berbunga, atau angiospermae, keduanya berasal sekitar 140 juta tahun yang lalu dan kemudian menjadi lebih umum dan menyebar ke habitat baru. Nelsen dan rekan-rekannya ingin menemukan bukti bahwa jalur evolusi kedua kelompok itu saling terkait.

Untuk menemukan kaitan itu, Nelsen dan rekan penulisnya (Corrie Moreau di Cornell University, Kevin Boyce di Stanford University, dan Richard Ree di Field Museum) membandingkan iklim yang dihuni oleh 1.400 spesies semut modern. Mereka menghimpun informasi berkait dengan habitat, termasuk data suhu dan curah hujan.

Mereka lalu menggabungkan informasi ini dengan rekonstruksi pohon keluarga semut dalam skala waktu. Penggabungan itu berdasarkan informasi genetik dan fosil semut yang diawetkan dalam damar.