Cegah Suhu Bumi Memanas: Kembalikan Hutan dan Biarkan Satwa Liar Bebas

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Senin, 8 Mei 2023 | 21:44 WIB
Hutan Sampuran yang teduh oleh pohon mangga, menjadi salah satu destinasi terbaik saat berkunjung ke Pulau Sibandang. Saat ini hutan menyerap 11 persen emisi gas rumah kaca, seperti karbon. Hutan dan ekosistem satwa liar berguna untuk mengurangi panas jangka panjang di Bumi. (Sofian Alim)

Langkah adaptasi mulai diterapkan oleh Indonesia dalam peningkatan ambisi penurunan emisi gas rumah kaca. Hal itu tertuang lewat dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC), September 2022. Target usaha pengurangan emisi secara mandiri naik menjadi 31,99 persen, dan dukungan internasional menjadi 43,20 persen.

Namun, cara seperti itu memakan biaya, mengingat anggaran Indonesia memiliki banyak pengeluaran lain. Maka, perlu ada langkah pendanaan iklim dan kolaborasi. Lewat COP26, Inggris berkomitmen untuk membantu secara dana untuk pengurangan emisi karbon di Indonesia.

Di sisi lain, cara yang bisa membantu Indonesia mengurangi emisi karbonnya adalah dengan penyerapan. "Kalau menyerapan [karbon], itu kan bisa dari perluasan hutan. Semakin luas hutannya berarti yang bisa diserap lebih banyak," kata Rheza.

Lantas bagaimana dengan usaha penyerapan karbon ini? Desember 2022 Indonesia menyepakati Kerangka Kerja Biodiversitas Kunming-Montreal dalam Konferensi Biodiversitas ke-15 PBB (COP15). Isi kesepakatan itu, mengharuskan setiap negara minimal memiliki 30 persen kawasan lindung. Kesepakatan ini harus diberlakukan dengan target di tahun 2030.

Per tahun 2021, Indonesia memiliki 26,89 juta hektare kawasan lindung di darat atau sekitar 14 persen. Jika hanya mengukur angka kawasan lindung darat ini, butuh lebih dari setengah lagi usaha itu untuk mencapai 30 persen. Sayangnya, angka ini adalah hasil penurunan sejak tahun 2019.

Luas kawasan konservasi tahun 2017-2021 menurut laporan KLHK. Upaya restorasi hutan diperlukan untuk mengurangi efek rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim yang mendorong pemanasan global. (Statistik DJ KSDAE 2021)

Sementara di laut, kawasan konservasi telah mencapai 28,4 juta hektare atau setara 8,7 persen dari total luas perairan Indonesia, menurut laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pihak KKP optimis untuk memenuhi target mencapai 32,5 juta hektare pada tahun 2030 untuk memulihkan ekosistem perairan. 

Rheza berpendapat, jika suhu panas tidak bisa dihindari lagi, maka ada kerusakan alam yang juga tidak bisa dihindari. Pada akhirnya, berbagai jenis tumbuhan, termasuk untuk keperluan pangan.

Maka, ekosistem harus dijaga termasuk melestarikan satwa liar. "Kebijakan pemerintah harus didukung dengan aksi masyarakat," tutur Rheza. Dia melihat bahwa dukungan dan kegiatan pemeliharaan satwa liar marak dengan dalih terlanjur rusaknya ekosistem dan 'konservasi' yang dilakukan secara pribadi.

Baca Juga: Siasat Indonesia untuk Target Global Konservasi Keanekaragaman Hayati

Baca Juga: Ketidaksiapan Beberapa Negara yang Terdampak Buruk Suhu Panas Ekstrem

Baca Juga: Besarnya Efek Riak dari 'Gelombang Panas Terburuk dalam Sejarah Asia'

Baca Juga: Apa Itu El Nino & Bagaimana Mekanisme Iklim Panas-Dingin Ini Bekerja?

"'Ah, karena ekosistemnya udah rusak, kita harus pelihara sendiri'. Enggak begitu konsepnya," lanjutnya.

Keberadaan satwa di kawasan lindung, terkhusus di habitatnya sangat penting untuk mengembalikan ekosistem yang telah rusak. Dengan adanya satwa liar di habitatnya, mereka bisa mempertahankan pertumbuhan hutan. Misalnya, kotoran satwa liar yang bisa membantu penyuburan tanah supaya vegetasi hutan dapat tumbuh.

Pada akhirnya, semua elemen kehidupan di alam punya mekanismenya sendiri untuk mempertahankan suhu secara global. Ada banyak pekerjaan yang harus manusia lakukan untuk menghentikan terkaman krisis iklim yang semakin hari, semakin terasa.