Sejarah Pangeran Etiopia yang Makamnya ada di Kapel Kerajaan Inggris

By Sysilia Tanhati, Minggu, 28 Mei 2023 | 15:00 WIB
Kisah Pangeran Alemayehu merupakan sejarah kelam kolonialisme Kerajaan Inggris. Ia dibawa ke Inggris saat berusia 7 tahun. Tumbuh dan menempuh pendidikan di sana sampai akhirnya ia meninggal di usia muda. (Julia Margaret Cameron)

Nationalgeographic.co.id—Di Kapel St. George di Kerajaan Inggris, ada makam seorang pangeran muda Etiopia. Bagaimana sejarahnya hingga pangeran dari Ethipioa dimakamkan di tempat yang berjarak 8.000 km dari rumahnya di Afrika?

Protes bermunculan menuntut agar Kerajaan Inggris mengembalikan jenazah pangeran muda itu. Di sini, Kerajaan Inggris pun diminta melihat kembali ke sejarah kolonialnya di masa lalu.

Sejarah Pangeran dari Etiopia yang dibawa ke Kerajaan Inggris

Pangeran Dejatch Alemayehu adalah pewaris takhta Abyssinia — sekarang dikenal sebagai Etiopia. Pada tahun 1868, ayahnya, Raja Tewodros II, terlibat dalam perang dengan pasukan Inggris. Nyawanya melayang selama Pertempuran Magdala.

“Karena kegigihannya melawan pasukan Kerajaan Inggris, Raja Tewodros II diangkat menjadi pahlawan nasional,” tulis Adela Suliman di laman The Washington Post.

Putranya Alemayehu dibawa ke Britania Raya oleh pasukan Inggris. Ibunya, yang turut serta, meninggal dalam perjalanan. Otomatis, Alemayehu menjadi yatim piatu ketika dia tiba di pantai Inggris pada usia 7 tahun.

Dia ditempatkan di bawah asuhan perwira tentara Inggris Tristam Charles Sawyer Speedy. Sang perwira membawanya bepergian ke India dan kemudian mendaftarkan pemuda kerajaan Afrika di sekolah berasrama Inggris yang bergengsi. Salah satunya adalah perguruan tinggi militer Rugby dan Sandhurst.

Pangeran Alemayehu yang disukai oleh Ratu Victoria

Penguasa Kerajaan Inggris pada saat itu, Ratu Victoria, segera menyukai Alemayehu setelah bertemu dengannya. Segera, sang ratu membiayai pendidikannya dan mendukungnya secara finansial.

“Ratu Victoria sangat tertarik pada anak itu,” menurut arsip Britain's Royal Collection Trust. Menurut catatan sejarah, itu menyebabkan ketertarikan publik yang besar pada pangeran yatim piatu dari negeri nan jauh.

Cucu perempuan Victoria, Putri Victoria, bahkan ingat bermain dengannya di Kastel Windsor saat masih kecil.

Namun terlepas dari kehidupan yang istimewa, menurut banyak catatan sejarah, Alemayehu muda menghadapi masa yang menyedihkan di Inggris. Sejarawan mengatakan bahwa dia sangat tidak bahagia di Rugby dan Sandhurst. Bahkan pangeran muda itu menghadapi rasisme. Permohonannya untuk dipulangkan pun diabaikan oleh Kerajaan Inggris.

Meninggal di negeri asing

Alemayehu meninggal pada usia 18 tahun karena radang selaput dada. Atas permintaan Victoria, dia dimakamkan di Kapel St. George di Windsor. Nisannya bertuliskan, “Saya adalah orang asing dan kamu menerima saya.”

Pangeran Alemayehu ditempatkan di bawah asuhan perwira tentara Inggris Tristam Charles Sawyer Speedy. Ia mendapatkan pendidikan yang baik di Inggris. (Brotherton Library, University of Leeds)

Tapi narasi kebaikan kolonial seperti itu telah ditentang dalam beberapa tahun terakhir. Khususnya dalam konteks sejarah perang berdarah dan kolonialisme.

Ekspedisi 13.000 tentara Inggris pada awalnya dimaksudkan untuk menyelamatkan sandera Eropa yang ditahan oleh Tewodros II. Namun di saat yang sama, ekspedisi itu juga menyebabkan penjarahan massal setelah mereka menang. Sebagian besar jarahan berakhir di museum London, termasuk British Museum.

Seruan untuk pemulangan Pangeran Alemayehu

Orang Etiopia menggambarkan Alemayehu sebagai seorang pangeran yang diculik dari negara asalnya saat masih kecil.

Pemerintah Etiopia membuat permintaan resmi untuk pengembalian jenazah Alemayehu, seperti halnya keturunannya.

Bagi keluarga dan rakyat Etiopia, Inggris bukanlah tanah kelahirannya karena itu, dia tidak bisa dimakamkan di sana. Fakta bahwa dia dimakamkan di sana tidak ada artinya bagi orang Etiopia.

Penulis Etiopia Amerika Maaza Mengiste menggambarkan kesulitan Alemayehu sebagai penculikan yang ditimbulkan dari kesombongan imperialis.

Dia menambahkan bahwa tidak ada alasan bagi Kerajaan Inggris untuk terus menyandera jenazahnya. Alemayehu bagai benda-benda suci dan berharga yang masih ada di museum dan perpustakaan Inggris.

Istana Buckingham secara resmi menolak permintaan pengembalian jenazah dari keluarga sang pangeran. Mereka mengatakan bahwa pembongkaran makam bisa memengaruhi jenazah lain di situs permakaman.

Sangat tidak mungkin untuk menggali sisa-sisa jenazah tanpa mengganggu tempat peristirahatan sejumlah besar orang lain di sekitarnya.

Dikatakan bahwa otoritas kapel sangat peka terhadap kebutuhan untuk menghormati kenangan Pangeran Alemayehu. Di sisi lain, mereka juga harus menyeimbangkannya dengan tanggung jawab untuk menjaga martabat orang yang meninggal.

Otoritas kapel juga mengakomodasi permintaan dari delegasi Etiopia untuk mengunjungi kapel dan hal itu akan terus dilakukan.

Kementerian Luar Negeri Etiopia menyebut Alemayehu sebagai tawanan perang dalam sebuah pernyataan kepada The Washington Post. “Kami percaya Pangeran Alemayehu layak mendapatkan penguburan keturunan di negara asalnya,” katanya.

Menurut Kementrian Luar Negeri Etiopia, Pemerintah Etiopia tetap berupaya untuk mewujudkan repatriasi jenazah.

“Juga beberapa barang jarahan dari Magdala, yang berasal dari signifikansi sejarah, budaya, dan agama yang besar bagi orang Etiopia,” tambah Suliman.

Bagi banyak orang Etiopia, kata-kata Istana Buckingham tidak banyak membantu menebus masa lalu kolonial Inggris dan apa yang mereka katakan diderita sang pangeran.

Bahkan Victoria, dalam buku harian pada tahun 1879, tampaknya mengakui situasi kesepian yang dialami Alemayehu.

“Sangat berduka dan kaget mendengar berita bahwa Alamayou yang baik telah meninggal dunia pagi ini. Terlalu menyedihkan! Sendirian, di negara asing, tanpa satu orang atau kerabat pun. Semua orang minta maaf, ” tulisnya Victoria.

Permintaan agar jenazahnya dipulangkan datang pada saat banyak negara bergulat dengan bagaimana menangani tindakan era kolonial.

Apakah sang pangeran muda itu pada akhirnya akan pulang ke negeri yang dirindukannya hingga napas terakhirnya?