Menakar Dampak Perubahan Iklim terhadap Wilayah Pesisir Indonesia

By Ricky Jenihansen, Rabu, 16 Agustus 2023 | 15:50 WIB
Permasalahan di wilayah pesisir terkait dengan perubahan iklim terus mendapat perhatian yang tinggi. (Luca Vaime/Shutterstock)

Nationalgeographic.co.id—Perubahan iklim telah mendapatkan perhatian yang tinggi terkait permasalahan di wilayah pesisir dalam dekade terakhir. Masalah ketinggian rata-rata permukaan laut, variasi ketinggian gelombang yang signifikan, dan peningkatan suhu lautan telah mengkhawatirkan.

Kajian dari Departemen Teknik Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pernah menyorotinya.

Studi mereka telah dipublikasikan dalam Procedia Earth and Planetary Science pada tahun 2015 dengan judul "Climate change impacts on Indonesian coastal areas".

Hasil studi mereka telah dipresentasikan dalam 2nd International Seminar on Ocean and Coastal Engineering, Environment and Natural Disaster Management.

"Variabilitas iklim dan perubahan iklim di masa depan harus menjadi perhatian utama para insinyur, pemangku kepentingan, dan pembuat keputusan," tulis para peneliti.

"Terutama untuk mengembangkan strategi mitigasi dan adaptasi untuk pembangunan wilayah pesisir di masa depan."

Menurut mereka, studi tersebut bertujuan untuk menghimpun data dan informasi potensi dampak perubahan iklim terhadap wilayah pesisir Indonesia. Data dan informasi itu merupakan dampak akibat pemanasan global yang dilihat dari berbagai kajian.

"Makalah ini fokus pada dampak perubahan iklim terhadap permukaan laut, iklim gelombang, dan suhu air laut," tulis peneliti.

Menurut studi mereka, perubahan iklim dapat memengaruhi lingkungan pesisir dan laut dengan berbagai cara.

Pesisir sensitif terhadap kenaikan permukaan laut, perubahan frekuensi dan intensitas kecepatan angin, peningkatan tinggi gelombang yang signifikan, dan peningkatan suhu laut.

Selain itu, meningkatnya konsentrasi karbon dioksida menyebabkan lautan menyerap lebih banyak gas dan menjadi lebih asam.

Peningkatan keasaman ini dapat berdampak signifikan pada lingkungan pesisir dan ekosistem laut. Dampak perubahan iklim cenderung memperburuk banyak masalah yang sudah dihadapi daerah pesisir.

Erosi pesisir, banjir pesisir, dan pencemaran air merupakan masalah umum yang memengaruhi infrastruktur dan ekosistem buatan manusia di wilayah pesisir.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 17.500 pulau dengan garis pantai lebih dari 81.000 kilometer.

Garis pantai Indonesia berpenduduk padat karena sekitar 220 juta orang Indonesia tinggal dalam jarak 100 km dari pantai, dan dari jumlah tersebut lebih dari 150 juta orang bergantung pada sumber daya laut untuk penghidupan mereka.

Semua kegiatan di pesisir dan lautan menjadi bagian penting dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. Seperti misalnya transportasi laut, industri lepas pantai, industri angkatan laut, ekstraksi sumber daya, budi daya ikan, dan pariwisata.

"Oleh karena itu, informasi tentang pengaruh perubahan iklim terhadap wilayah pesisir menjadi pengetahuan utama bagi para insinyur, pemangku kepentingan, atau pengambil keputusan untuk mengembangkan strategi mitigasi dan adaptasi untuk pembangunan pesisir di masa mendatang," menurut para peneliti.

Permukaan laut

Pemanasan global sebagai akibat dari efek gas rumah kaca, berdampak pada kenaikan permukaan air laut. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) pada tahun 2007 melaporkan bahwa muka air laut naik rata-rata 2,5 milimeter per tahun.

Sebagai negara kepulauan dengan panjang garis pantai lebih dari 80.000 kilometer, Indonesia sangat rentan terhadap kenaikan muka air laut.

Saat ini, terdapat beberapa teknologi penginderaan jauh yang dapat memantau kondisi lautan secara terus menerus," tulis para peneliti.

"Teknologi satelit altimeter adalah salah satunya, teknik untuk memantau perubahan permukaan laut."

Satelit altimetri merupakan teknologi penginderaan jauh untuk pemantauan dinamika kelautan secara global seperti arus laut, SLA (Sea Level Anomaly), El Nino, dan berbagai kajian lainnya.

Selama dua dekade terakhir, pengamatan dari satelit altimeter telah menunjukkan deskripsi dramatis variabilitas permukaan laut. Pengamatan menggunakan resolusi spasial yang lebih tinggi daripada pengukur pasang surut tradisional.

Bagian ini menjelaskan proyeksi kenaikan muka air laut berdasarkan data altimeter satelit. Penelitian ini menggunakan data altimeter dari wilayah laut Indonesia dari tahun 2009 hingga 2012.

Proses dan analisis data tinggi muka air laut dilakukan dengan menggunakan Basic Radar Altimetry Toolbox (BRAT). Pemantauan kenaikan muka air laut dilakukan selama 4 tahun (2009-2012) di empat lokasi yaitu Medan, Pemangkat, Ambon, dan Manokwari.

Pada tahun 2012, dilaporkan kenaikan muka air laut tertinggi di Manokwari 14,1 mm/tahun, dan terendah di Ambon sebesar 1,175 mm/tahun.

Iklim gelombang laut global telah lama menjadi minat komunitas teknik kelautan. Hal itu karena kebutuhan akan data gelombang operasional yang akurat.

Perubahan iklim memberikan dampak signifikan pada permukaan laut. (Henrik Egede-Lassen)

Mereka menggunakannya untuk aplikasi seperti desain kapal, desain struktur lepas pantai dan pantai, atau operasi angkatan laut. Sekarang, ada minat besar pada perubahan iklim dan pengaruhnya dengan wilayah pesisir sebagai akibat dari pemanasan global.

"Oleh karena itu, diperlukan kajian untuk memprediksi pengaruh pemanasan global terhadap iklim gelombang laut," menurut para peneliti.

"Tujuan dari bagian ini adalah untuk menganalisis variabilitas tinggi gelombang signifikan untuk periode 20 tahun 1984-2003."

Menurut peneliti, perairan pesisir telah menghangat selama abad terakhir, dan kemungkinan besar akan terus menghangat sebanyak 4 sampai 8 derajat Fahrenheit di abad ke-21.

Pemanasan ini dapat menyebabkan perubahan besar dalam pola sirkulasi laut dan salinitas, yang memengaruhi spesies yang menghuni daerah tersebut.

Seiring dengan semakin intensifnya proses pemanasan global, maka intensitas El Nino dan La Nina juga semakin meningkat.

Seperti misalnya peristiwa El Nino tahun 1997/1998. Peristiwa itu telah menyebabkan musim kemarau panjang dan menyebabkan pemutihan karang di Indonesia.

Pada saat terjadinya La Nina tahun 1999, Indonesia mengalami peningkatan curah hujan yang tinggi, dan tinggi muka air laut 20cm sampai 30cm, menyebabkan banjir di sebagian besar wilayah pesisir Indonesia.

Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.500 pulau dan garis pantai lebih dari 81.000 kilometer, wilayah pesisir Indonesia sangat rentan terhadap perubahan iklim.

"Kecenderungan kenaikan permukaan air laut yang meningkat, suhu laut yang lebih hangat dan peningkatan tinggi gelombang yang signifikan adalah beberapa contoh kecil dari dampak perubahan iklim di Indonesia," tulis para peneliti.

"Masalah-masalah ini harus mendapat perhatian serius dari pemerintah untuk mengembangkan rencana adaptasi dan mitigasi untuk pembangunan masa depan yang terkait dengan wilayah pesisir."

Artikel ini adalah bagian dari sinergi inisiatif Lestari KG Media bersama Saya Pilih Bumi, Sisir Pesisir dengan media National Geographic Indonesia, Initisari, Infokomputer, dan GridOto.