Nashu No Yoichi, Kisah Samurai dan Pemanah Andal Kekaisaran Jepang

By Sysilia Tanhati, Kamis, 21 September 2023 | 19:00 WIB
Samurai sekaligus pemanah Nasu No Yoichi merupakan tokoh sejarah yang dicintai oleh masyarakat di Kekaisaran Jepang. (Enrōsai Shigemitsu/Museum of Fine Arts Boston)

Nationalgeographic.co.id—Sejarah Kekaisaran Jepang dipenuhi dengan segala macam peristiwa penting yang membentuk budaya Jepang. Salah satunya adalah peperangan yang terjadi di Kekaisaran Jepang. Perang-perang di Kekaisaran Jepang beberapa kali mengubah keyakinan dan ideologi bangsa.

Perang juga membuka jalan bagi kekaisaran untuk menghasilkan prajurit. Kelas prajurit samurai dan kabuki adalah yang paling terkenal dalam sejarah Kekaisaran Jepang. Salah satu samurai sekaligus pemanah paling mematikan dalam sejarah Kekaisaran Jepang adalah Nasu No Yoichi.

Siapa Nasu No Yoichi?

“Nasu No Yoichi dikenal karena keterampilan memanahnya,” tulis Minami Nagai di laman Yabai. Awalnya, Nasu No Yoichi adalah seorang samurai yang mengabdi pada Klan Minamoto. Sebagai seorang pejuang atau prajurit, samurai Kekaisaran Jepang dikenal sebagai pejuang serba bisa.

Samurai dilatih untuk bertarung dengan terampil menggunakan pedang dan juga busur. Keahlian ini dibutuhkan bila mereka terjebak dalam pertarungan jarak jauh. Samurai juga dilatih untuk bertarung dengan berjalan kaki dan menunggang kuda. Seorang pejuang harus siap menghadapi medan apa pun.

Nasu No Yoichi lahir pada tahun 1169 dan mengenal kehidupan perang sejak usia sangat dini. Ia baru berusia hampir 16 tahun ketika terjun di medan pertempuran. Nasu No Yoichi memerintah sebagai daimyo atau penguasa feodal Kastel Tottori setelah Perang Genpei yang terkenal. Konon ia memerintah dengan adil.

Sayangnya, pemerintahannya tidak berlangsung lama. Nasu No Yoichi kehilangan gelarnya karena kalah dalam kompetisi berburu melawan sesama anggota Klan Minamoto, Kajiwara Kagetoki.

Perang yang melambungkan nama Nasu No Yoichi di Kekaisaran Jepang

Perang Genpei merupakan salah satu perang penting yang terjadi di Kekaisaran Jepang. Hanya dua klan yang terlibat dalam perang itu. “Namun kekuatan mereka saat itu begitu besar hingga akhirnya menggeser kendali di Kekaisaran Jepang,” tambah Nagai.

Perang Genpei disebabkan oleh perebutan dominasi istana Kekaisaran yang berlangsung selama beberapa dekade. Kedua klan ingin menguasai kekaisaran untuk mendapatkan kendali atas Kekaisaran Jepang.

Beberapa pertempuran berlanjut hingga tahun 1185. Sebagian besar pertempuran selanjutnya dimenangkan oleh klan Minamoto.

Pada bagian akhir perang pula, Nasu No Yoichi secara teknis memenangkan pertempuran dengan satu anak panah. Satu panah itu tentu saja menjatuhkan mental pasukan musuh. Hal ini terjadi pada pertempuran Yashima dan tercatat dalam beberapa gulungan sejarah yang mendokumentasikan Perang Genpei.