Sederet Kisah Duel 'Anti Mainstream' dalam Sejarah Abad Pertengahan

By Tri Wahyu Prasetyo, Selasa, 31 Oktober 2023 | 09:00 WIB
Untuk menyelesaikan masalah, orang-orang di Abad Pertenghan banyak yang melakukan “judicial combat” (lithub)

Nationalgeographic.co.id—Pada Abad Pertengahan, para bangsawan yang memiliki masalah sering menyelesaikannya dengan cara duel atau mereka menyebutnya “judicial combat”. Metode ini marak dilakukan untuk menyelesaikan masalah-masalah kecil maupun besar di berbagai negara Eropa.

Pedang dan pistol adalah senjata yang biasa digunakan dan masih disukai hingga akhir era Victoria. Menurut penulis sejarah dari Kanada, Rupert Taylor, tak ada ketentuan pasti bagaimana duel harus berlangsung. Hal ini diserahkan pada pihak yang mengajukan. “Terkadang, pilihan yang sangat imajinatif mereka buat.”

Balon Udara dan Pemuras

Pada tahun 1808, dua orang Prancis, Monsieur de Grandpré dan Monsieur le Pique, terlibat dalam “judical combat”. Mereka memperebutkan kasih sayang Mademoiselle Tirevit, seorang penari di Paris Opera. 

Masing-masing pria tersebut mengaku bahwa Tirevit adalah cinta sejati mereka. Karena tak terima, mereka memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara yang terhormat, yaitu duel.

Namun mereka juga memutuskan untuk tidak menggunakan pedang dan pistol yang dapat menyebabkan kekacauan. 

Mereka memilih untuk menentukan siapa yang akan menggandeng tangan wanita itu dengan menggunakan balon dan pemuras–senapan berkaliber besar yang mengembang di moncong dan diisi dengan peluru bola timah.

“Pada pagi hari tanggal 3 Mei, kedua pria itu naik ke keranjang balon udara mereka. Kerumunan besar penonton telah berkumpul untuk menyaksikan acara yang tidak biasa ini,” Kata Taylor.

Pada ketinggian sekitar 2.000 kaki, Monsieur le Pique, yang bertekad untuk menjadi pihak yang dirugikan, melepaskan tembakan pertama dan meleset. 

De Grandpré kemudian membidik dan ledakan pelurunya tepat sasaran. Balon udara Le Pique mengempis dan jatuh ke tanah di mana dia "hancur berkeping-keping di atas atap rumah."

Ilustrasi duel antara Monsieur de Grandpré dan Monsieur le Pique. (quadcitiesdaily.com)

Duel Sosis

“Konon ada lebih dari 1.500 jenis sosis di Jerman, jadi ketika terjadi perbedaan pendapat, mengapa tidak menggunakan hidangan nasional untuk menyelesaikan masalah?” jelas Rupert.

Pada tahun 1865, Kanselir Jerman Otto von Bismarck dan ilmuwan sekaligus pemimpin Partai Liberal Rudolf Virchow yang beroposisi berselisih mengenai alokasi dana pemerintah.

Bismarck ingin menggunakan dana tersebut untuk mengorganisir ulang tentara dan Virchow ingin dana tersebut dialokasikan untuk membersihkan pabrik-pabrik sosis yang tidak sehat.

Bismarck terlibat pertengkaran sengit dengan seorang penganut ordo Teutonik dan menantang Virchow untuk berduel. Pada titik ini, menurut Rupert, cerita berjalan ke arah yang berbeda.

“Dalam satu versi, Virchow menolak untuk bertarung dengan sang kanselir dan banyak hal yang menyenangkan terjadi,” jelas Rupert.

Dalam kisah versi kedua, “pihak yang ditantang memiliki hak untuk memilih senjata sehingga pemimpin Liberal memilih senjata paling konyol yang bisa dia pikirkan.”

Dua sosis babi harus disusun, satu dicampur dengan larva Trichinella yang menyebabkan penyakit mengerikan dan kemungkinan kematian. Kemudian, yang lainnya adalah sosis standar yang tidak terkontaminasi.

Terdapat peraturan dalam duel tersebut, yaitu para peserta duel harus memilih masing-masing satu sosis dan memakannya. Namun akhirnya, von Bismarck menolak untuk ambil bagian.

Duel Bola Biliar

Kembali ke Prancis, perselisihan bermula pada sepasang pria yang sedang asyik bermain biliar. Mereka adalah Monsieur Lenfant dan Monsieur Melfant, yang berselisih mengenai peraturan permainan.

Keadaan semakin memanas. Suara-suara dari luar mulai terdengar dan mungkin umpatan-umpatan juga dilontarkan.

Diputuskan bahwa masalah ini paling baik diselesaikan dengan duel bola biliar. Alih-alih bertanding selayaknya biliar, kedua pria ini memilih metode yang unik dan berbahaya.

Dengan jarak sejauh 12 langkah, salah satu dari mereka melempar bola biliar ke arah lawan. Dalam sebuah undian yang mereka lakukan, Melfant menjadi pelempar pertama dan Lenfant yang kurang beruntung sebagai targetnya.

"Saya akan membunuh Anda pada lemparan pertama," kata Melfant, sebelum bola biliar yang ia lempar menghantam Lenfant tepat di tengah dahinya. Hal itu  itu adalah pukulan yang fatal.

Duel itu adalah kemenangan yang sangat besar bagi Melfant, ia diberi hadiah berupa penjara karena kasus pembunuhan.

Jeffrey Hudson Si Mungil Mematikan

Henrietta Maria dan si kerdil, Jeffrey Hudson, karya Anthony van Dyck, 1633. (Public Domain/Wikimedia Commons)

Dengan tinggi kurang dari 46 sentimeter di usia dewasanya, Jeffrey Hudson dikenal tak pernah takut dengan siapapun. Ia tidak menderita dwarfisme tetapi kemungkinan memiliki kelainan hipofisis. 

“Meskipun bertubuh mungil, dia bertempur untuk kaum royalis dalam Perang Saudara Inggris pada tahun 1642 hingga 1651,” kata Rupert. 

Ukuran tubuhnya yang kecil membuatnya menjadi bahan lelucon yang tidak disukainya. Ketika ia merasa tersinggung karena ejekan, maka duel akan segera berlangsung.

Seorang bernama Crofts melontarkan pernyataan yang membuat Hudson tersinggung. Tantangan pun dilayangkan.

Crofts melangkah lebih jauh dengan ejekannya, ia muncul ke dalam pertarungan dengan bersenjatakan pistol air. Hudson menuntut pertarungan yang layak dengan pistol di atas kuda. Crofts tidak selamat dalam pertemuan itu.

“Sepertinya Hudson tidak pernah mendengar komentar lucu lainnya tentang tinggi badannya,” pungkas Rupert.