Sejarah Dunia Kuno: Siapa Bangsa Het yang Jadi Musuh Mesir Kuno?

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Selasa, 30 Januari 2024 | 09:00 WIB
Ukiran batu yang mengambarkan kereta perang bangsa Het dalam sebuah pertempuran pada abad ke-18 SM. Cara mereka menggunakan kereta perang menjadi kesenian berperang yang canggih untuk melawan Mesir kuno dalam Pertempuran Kadesh dan Mesopotamia dalam sejarah dunia kuno. Ukiran ini terseduia di Museum of Anatolian Civilizations, Ankara, Turki. (Peter Horree/Alamy)

Nationalgeographic.co.id—Peradaban Mesir kuno era Kerajaan Baru (skt. 1550 SM–sekitar 1069 SM) telah memperluas kekuasaan hingga Syam (Levant). Perluasan ini berawal dari upaya pengusiran bangsa Hyksos yang sebelumnya berkuasa.

Firaun Kerajaan Baru pun melakukan kampanye militernya lebih agresif ke Kanaan setelah 1550 SM. Bangsa Mesir kuno hendak membangun kembali daerah pengaruhnya yang hilang dengan menciptakan zona penyangga agar tidak ada serangan lagi dari bangsa asing di utara.

Kampanye ini semakin ke utara, di mana Mesopotamia berada dan lebih dikenal sebagai daerah Syam. Daerah ini sangat penting dalam perdagangan dalam sejarah dunia kuno di Timur Tengah. Salah satu yang dirugikan dari ekspansi Mesir ini adalah bangsa Het.

Siapa bangsa Het?

Ada berbagai temuan merujuk bangsa Het termasuk tulisan paku. Informasi mengenai mereka cukup populer dari Mesir kuno, Tanakh Ibrani, dan Alkitab. Kejadian 10 menyebut bahwa Het adalah keturunan Kanaan, cucu Nuh dari Ham. 

Bangsa Het, dalam sejarah dunia kuno, menduduki wilayah kuno Anatolia, Turki sejak sebelum 1700 SM. Penelitian tahun 2022 bertajuk The genetic history of the Southern Arc: A bridge between West Asia and Europe menyingkap bahwa asal-usul bangsa Het berasal dari rumpun Proto-Anatolia antara 5000 dan 3000 SM.

Alwin Kloekhorst dalam salah satu bab di The Indo-European Language Family A Phylogenetic Perspective mengungkapkan, penutur bahasa Anatolia kemudian berpisah dari rumpun Proto Indo Eropa sekitar 4400 SM dan 4100 SM. Bahasa Het sendiri diyakini telah berkembang antara 1900 SM dan 1100 SM.

Kajian sejarah dan arkeologis tentang bangsa Het merujuk pada Hattusa, sebuah situs yang diyakini sebagai ibukota bangsa Het. Situs ini berbentuk benteng luas dengan medan berbatu yang menjadi basis terkuat suku Hatti sejak 2500 SM.

Christopher Scarre dan Brian M Fagan dalam Ancient Civilizations (2007) menyebutkan, bangunan di Hattusa cukup rumit sebagai basis pertahanan dan membangun kekuasaan besar. Tidak heran, pada masanya, kekuatan besar mereka menjadi ancaman yang tangguh untuk Mesir kuno.

Kerajaan Lama dan pertengahan

Gerbang Singa di Hattusa, ibu kota bangsa Het di Anatolia. Kota ini berhasil dirampok dua kali, pertama oleh pendiri Kerajaan Lama bangsa Het, dan yang kedua pada akhir kejatuhannya. (Carole Raddato/Flickr)

Ahli sejarah dunia kuno dari Belgia Marc Van De Mieroop dalam A History of the Ancient Near East ca. 3000 - 323 BC (2006), menerangkan bahwa Kerajaan Het terbentuk akibat penjarahan Hattusa oleh kerajaan bangsa Het dari Kussara yang dipimpin oleh Raja Anita pada 1700 SM.