Bagaimana Kondisi Ekonomi Berkontribusi pada Sejarah Perang Dunia II

By Utomo Priyambodo, Rabu, 14 Februari 2024 | 12:45 WIB
Ekonomi adalah salah satu faktor pemicu perang. Kondisi ekonomi setelah Perang Dunia I turut berkontribusi pada terbentuknya sejarah Perang Dunia II. (James Nachtwey/National Geographic)

Nationalgeographic.co.idKondisi ekonomi dunia menjadi salah satu faktor pemicu meletusnya Perang Dunia II. Kondisi ekonomi setelah Perang Dunia I turut berkontribusi pada terbentuknya sejarah Perang Dunia II.

Sejatinya, menyusul kematian dan kehancuran akibat Perang Dunia I, para pemimpin beberapa negara besar telah mengadakan konferensi di Paris untuk menandatangani Perjanjian Versailles. Sayangnya, kombinasi dari perjanjian perdamaian yang dirancang dengan buruk dan krisis ekonomi global di dunia modern mencapai puncaknya pada kondisi yang siap untuk terjadinya Perang Dunia II.

Perjanjian Versailles dan Pasal 231

Perjanjian Versailles mengandung benih yang akan menimbulkan perang dibandingkan perdamaian jika ditaburkan di atas lahan krisis ekonomi. Pasal 231, yang disebut 'klausul kesalahan perang', menyalahkan Jerman atas perang tersebut dan mewajibkan pembayaran reparasi. Jerman terpaksa menyerahkan wilayah jajahannya dan perlucutan senjata militer.

Namun Republik Weimar Jerman menunda pembayaran pampasan perang, menyebabkan Prancis dan Belgia melakukan pembalasan. Kedua negara itu mengirimkan pasukan untuk menduduki pusat industri di wilayah lembah Sungai Ruhr, yang secara efektif mengambil alih produksi batu bara dan logam di sana.

Krisis Ekonomi di Jerman

Hilangnya industri batu bara dan logam menimbulkan guncangan ekonomi pada manufaktur Jerman sehingga menyebabkan kontraksi ekonomi. Ketika pemerintah mencetak uang untuk membayar utang perang internal, terjadi hiperinflasi.

Meskipun stabilisasi harga dan ekonomi pada akhirnya dapat dicapai dengan bantuan Rencana Dawes Amerika pada tahun 1924, hiperinflasi menghabiskan sebagian besar tabungan hidup kelas menengah.

Konsekuensi politiknya sangat buruk. Banyak orang yang tidak percaya pada pemerintah Weimar, yang didasarkan pada prinsip-prinsip demokrasi liberal. Sentimen dan kebencian terhadap Perjanjian Versailles ini meningkatkan popularitas partai politik radikal sayap kiri dan kanan.

Depresi Besar

Permulaan Depresi Besar (The Great Depression) melemahkan segala upaya untuk menciptakan dunia pascaperang yang lebih terbuka, kooperatif, dan damai. Jatuhnya pasar saham Amerika pada tahun 1929 menyebabkan penghentian pinjaman ke Jerman berdasarkan Rencana Dawes dan penarikan kembali pinjaman sebelumnya.

Pengetatan uang dan kredit akhirnya menyebabkan kegagalan bank terbesar di Austria pada tahun 1931, Creditanstalt, melancarkan gelombang kegagalan bank di seluruh Eropa Tengah. Hal ini termasuk disintegrasi total sistem perbankan Jerman.

Memburuknya kondisi ekonomi di Jerman membantu Partai Nazi berkembang dari kelompok kecil menjadi partai politik terbesar di Jerman. Propaganda Nazi menyalahkan Perjanjian Versailles atas sebagian besar kesulitan ekonomi Jerman dan mendorong popularitas Hitler meningkat. Ia terpilih sebagai kanselir Jerman pada tahun 1933.

Depresi Hebat memotivasi masing-masing negara untuk mengadopsi kebijakan perdagangan yang lebih keras untuk melindungi industri dalam negeri dari persaingan asing. Meskipun kebijakan perdagangan seperti ini dapat menguntungkan secara individual, kebijakan ini akan mengurangi perdagangan internasional dan manfaat ekonomi yang dihasilkan jika setiap negara beralih ke proteksionisme. Negara-negara yang tidak memiliki akses terhadap bahan mentah mengalami kurangnya perdagangan bebas.

Dari Imperialisme hingga Perang Dunia

Meskipun Inggris, Prancis, Soviet, dan Amerika memiliki kerajaan kolonial dengan akses terhadap bahan mentah, negara-negara seperti Jerman, Italia, dan Jepang tidak. Memburuknya perdagangan internasional menyebabkan terbentuknya blok-blok perdagangan regional seperti sistem Preferensi Kerajaan Inggris.

Negara-negara yang tidak memiliki blok perdagangan regional merasa semakin perlu menggunakan kekuatan militer untuk mencaplok wilayah yang memiliki sumber daya yang sangat dibutuhkan. Hal ini memerlukan persenjataan yang ekstensif dan, dalam kasus Jerman, pelanggaran langsung terhadap Perjanjian Versailles. Persenjataan kembali juga memperkuat kebutuhan akan lebih banyak bahan mentah dan perluasan wilayah.

Penaklukan imperialis seperti invasi Jepang ke Manchuria pada awal tahun 1930-an, invasi Italia ke Ethiopia pada tahun 1935, dan aneksasi Jerman atas sebagian besar Austria dan sebagian Cekoslowakia pada tahun 1938 merupakan manifestasi dari kebutuhan untuk memperluas wilayah. Namun penaklukan ini memicu kemarahan dua negara besar di Eropa.

Setelah invasi Jerman ke Polandia, Inggris dan Prancis menyatakan perang terhadap Jerman pada tanggal 3 September 1939. Hal ini memicu Perang Dunia II.

Apa yang Terjadi dengan Jerman Setelah Perang Dunia II?

Jerman berkubang dalam reruntuhan setelah Perang Dunia II berakhir dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun negerinya kembali. Jerman terbagi menjadi dua bagian yang dipisahkan oleh Tembok Berlin: Jerman Barat adalah negara demokrasi, sedangkan Jerman Timur tetap menjadi negara sosialis.

Separuh negara di wilayah Barat tumbuh subur dengan adanya mata uang baru dan prinsip-prinsip demokrasi, sementara Jerman Timur tertinggal dalam kondisi perekonomian yang sulit. Tembok Berlin diruntuhkan pada tahun 1989, menyatukan kembali kedua belah pihak.