Kilas Balik Yamato, 'Monster Laut' Perang Dunia II Kekaisaran Jepang

By Tri Wahyu Prasetyo, Jumat, 23 Februari 2024 | 12:31 WIB
Yamato merupakan kapal terbesar dalam Perang Dunia II yang dilengkapi sembilan meriam berkaliber 460 milimeter. (U.S. Navy photo/Public Domain)

Nationalgeographic.co.idYamato merupakan kapal perang milik Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang menyandang gelar kapal terbesar dalam Perang Dunia II.

Beroperasi pertama kali pada bulan Desember 1941, Yamato dan saudaranya, Musashi, menjadi satu-satunya kapal yang dipersenjatai dengan meriam kaliber 460 milimeter.

Mengambil bagian dalam beberapa misi selama Perang Dunia II, kapal perang ini sayangnya harus dikorbankan selama invasi Sekutu ke Okinawa.

Desain IJN Yamato Kekaisaran Jepang

Arsitek angkatan laut di Jepang mulai mengerjakan kapal perang kelas Yamato pada tahun 1934, dengan Keiji Fukuda sebagai kepala perancang.

Kekaisaran Jepang memiliki ambisi untuk merancang kapal-kapal perang dengan keunggulan mutlak di laut. Mereka ingin membuat kapal paling besar dan kuat, hingga bagaimana caranya para musuh di kemudian hari tidak bisa menyainginnya.

Hal inilah yang mendorong kelahiran Yamato sebagai kapal perang raksasa dengan bobot 68.000 ton. Di sisi lain, meskipun sangat kuat, Yamato memiliki kecepatan maksimum sangat rendah. Hal ini dikarenakan mesin yang kurang bertenaga.

Meriam kaliber 460 milimeter dipilih sebagai senjata utama karena diyakini tidak ada kapal AS dengan senjata serupa yang mampu melewati Terusan Panama.

Menurut sejarawan dan pengamat militer dari Amerika, Kennedy Hickman, awalnya Yamato  dirancang sebagai kelas yang terdiri dari lima kapal. 

Namun, “hanya dua Yamato yang selesai dibangun sebagai kapal perang, sementara kapal ketiga, Shinano, diubah menjadi kapal induk selama pembangunan.” jelas Hickman.

Dengan disetujuinya desain Fukuda, rencana diam-diam bergerak maju untuk memperluas dan secara khusus menyiapkan dermaga kering di Galangan Angkatan Laut Kure. Yamato mulai dibangun pada tanggal 4 November 1937.

Untuk mencegah negara-negara asing mengetahui ukuran kapal yang sebenarnya, desain dan biaya Yamato dikotak-kotakkan. Hanya sedikit orang yang mengetahui ruang lingkup proyek sebenarnya.