Daya Pikat Suku Paling Terisolasi di Dunia dan Jadi Sasaran Fitnah

By Utomo Priyambodo, Minggu, 24 Maret 2024 | 14:30 WIB
Suku Sentinel di Pulau Sentinel Utara menerima kelapa yang diberikan para antropolog. (Madhumala Chattopadhyay)

Nationalgeographic.co.id—Pada November 2018, seorang misionaris muda Amerika berenang dari perahu nelayan ke pantai terpencil di Samudra Hindia dan dibunuh penduduk asli pulau yang menggunakan busur dan anak panah. Berita tentang perjumpaan fatal di Pulau Sentinel Utara itu—sebidang kecil daratan di Kepulauan Andaman—memikat orang-orang di seluruh dunia. Kebanyakan orang tak menyadari tempat seperti itu ada di zaman kita: sebuah pulau yang penduduk pemburu-peramunya masih hidup dalam isolasi total.

Penginjil yang percaya diri, John Allen Chau yang berusia 26 tahun, bertujuan mempertobatkan penduduk asli sebuah tempat yang dia rasa mungkin menjadi “benteng terakhir setan.” Namun kunjungan singkatnya bebuah kejayaan lain nan nyata ala abad ke-21: Dalam beberapa hari, tanpa sepengetahuan penduduk pulau, fakta keberadaan mereka menjadi viral.

Adam Goodheart menulis bahwa dalam lima tahun sejak kematian Chau, suku Sentinel, sebutan bagi anggota suku tersebut oleh orang luar, telah menghasilkan pengikut kultus global. Ketik “North Sentinel Island” ke mesin pencari hari ini, dan Anda bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu membaca artikel, mendengarkan podcast, dan menelusuri entri blog, subreddit, dan postingan media sosial.

Anda bisa memperbesar gambar pulau itu yang diambil dari satelit, helikopter, dan pesawat terbang. Suku Sentinel punya entri Wikipedia sepanjang 4.000 kata dan beberapa akun media sosial palsu (“North Sentinel Island Tourism Office & Coast Guard”, “North Sentinel Island High School Marching Band”). Mereka ditampilkan dalam ratusan video YouTube, dengan total kumulatif lebih dari seratus juta penayangan.

Banyak penggemar penduduk pulau itu melihat mereka sebagai pahlawan romantis: dengan tegas menolak dunia yang saling terhubung, praktisi detoks digital yang paling berkomitmen di planet ini. Beberapa lusin anggota suku telanjang dengan busur dan anak panah buatan tangan itu tampaknya lebih kuat—lebih manusiawi—dibandingkan miliaran penduduk bumi lain yang memegang ponsel pintar.

Dalam banyak hal, Pulau Sentinel Utara tetap menjadi terra incognita. Belum ada pengunjung yang memetakan bagian dalam pulau yang diselimuti hutan itu (kira-kira seukuran Bali) atau berbincang dengan penduduknya. Tiada seorang pun yang mengetahui jumlah penduduk di pulau tersebut, yang diperkirakan antara 50 dan 200 orang.

John Allen Chau menulis surat dan catatan sebelum tewas dibunuh suku Sentinel. Misionaris muda asal AS ini tewas di Pulau Sentinel Utara. (Instagram John Allen Chau/allthatinteresting.com)

Tidak seorang pun kecuali suku Sentinel yang mengetahui bahasa apa yang mereka gunakan, hukum apa yang mengatur mereka, dewa apa yang mungkin mereka sembah, atau bahkan apa nama suku mereka dalam bahasa mereka sendiri. Dari perahu dan pesawat yang lewat, kita bisa melihat sekilas mereka menombak ikan di perairan dangkal, mengayuh kano melintasi laguna, dan mengarahkan busur yang mereka gunakan untuk berburu hewan.

Menurut Survival International, sebuah organisasi yang membela hak-hak masyarakat adat di seluruh dunia, lebih dari seratus suku hidup terpencil di berbagai tempat mulai dari hutan hujan Amazon hingga Samudra Hindia hingga Indonesia. Sebagai satu-satunya suku di pulau kecil dan terpencil, suku Sentinel mungkin merupakan suku paling terisolasi di dunia.

Pada 1975 National Geographic menerbitkan foto-foto dramatis orang-orang Sentinel menembakkan panah ke ekspedisi pelayaran “kontak bersahabat” yang dilakukan para antropolog dan pembuat film India. Gambar-gambar tersebut—yang muncul di bawah judul besar “Arrows Speak Louder Than Words: The Last of the Andaman Islanders”—menuntun mendefinisikan masyarakat Sentinel sebagai orang-orang agresif dan ketinggalan zaman.

Tidak sepenuhnya tepat untuk mengatakan bahwa penduduk pulau itu hidup terpisah dari modernitas: Mereka menghuni masa kini, sama seperti kita semua. Mereka juga tak kekurangan teknologi: Busur suku Sentinel adalah alat ampuh dan dibuat dengan indah; mereka menggunakannya dengan keterampilan luar biasa dan membuat kepala anak panahnya dari logam bekas, mungkin dari kapal karam di dekatnya. Namun, sebagian besar sejarah manusia dalam 10.000 tahun terakhir telah berlalu begitu saja melalui Sentinel Utara.

Pulau ini hampir sepenuhnya luput dari segala perangkat dan penemuan yang menghubungkan suku ke suku, benua ke benua: tulisan, mesin uap, telepon pintar. Dan tak peduli seberapa banyak penghuninya mengetahui dunia luar dari kontak sekilas mereka—mungkin cukup banyak—tiada cara bagi mereka untuk mengetahui bahwa rumah mereka adalah salah satu tempat terakhir dari jenisnya di planet ini.