Dikabarkan Tewas dalam Serangan Israel, Siapakah Ayatollah Ali Khamenei?
Nationalgeographic.co.id—Kabar mengejutkan datang dari Teheran pada awal akhir Februari 2026. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas di usia 86 tahun setelah serangan udara gabungan yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa serangan yang menghantam kompleks kediaman Khamenei pada Sabtu, 28 Februari 2026, tersebut merupakan hasil operasi intelijen tingkat tinggi menggunakan sistem pelacakan canggih yang tidak dapat dihindari oleh pejabat-pejabat tinggi Iran.
Media pemerintah Iran, Tasnim News, mengonfirmasi berita duka ini dengan menyebutkan bahwa "Imam Sayyid Ali Khamenei telah gugur sebagai syahid dalam serangan rezim Zionis dan Amerika."
Kematian ini menandai berakhirnya sebuah era panjang yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade. Khamenei bukan sekadar pemimpin politik, melainkan sosok yang membentuk wajah militer dan ideologi Iran modern sejak tahun 1989.
Namun, di tengah ketegangan perang yang baru saja berkecamuk selama dua minggu terakhir dan tekanan ekonomi yang mencekik, muncul pertanyaan besar mengenai warisan yang ia tinggalkan.
Bagaimanakah perjalanan hidup seorang putra ulama asal Mashhad ini hingga menjadi sosok paling berkuasa di Republik Islam? Apa peran krusialnya dalam membangun kekuatan militer Iran yang kini berada di titik nadir akibat konflik terbuka dengan Barat?
Dari Ruang Teologi ke Puncak Kekuasaan
Lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, Ali Khamenei tumbuh dalam keluarga religius yang taat. Ayahnya adalah seorang pemimpin Muslim etnis Azerbaijan, sementara ibunya, Khadijeh Mirdamadi, adalah sosok yang menanamkan kecintaan pada sastra dan Al-Quran sejak ia berusia empat tahun.
Mengutip data dari Britannica, Khamenei menempuh pendidikan teologi di pusat-pusat pendidikan Syiah bergengsi seperti Najaf dan Qom. Di Qom inilah ia bertemu dengan Ayatollah Ruhollah Khomeini, sosok karismatik yang kelak memimpin Revolusi Islam 1979. Aktivitas politiknya melawan dinasti Pahlavi membuatnya berkali-kali ditangkap oleh polisi rahasia SAVAK dan sempat diasingkan ke kota terpencil Iranshahr.
Setelah revolusi berhasil menumbangkan Shah, karier politik Khamenei melesat cepat. Ia sempat menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada 1980 dan memimpin Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Pada tahun 1981, sebuah percobaan pembunuhan oleh kelompok oposisi MEK membuat lengan kanannya lumpuh secara permanen. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkahnya; ia terpilih sebagai presiden pertama dari kalangan ulama pada Oktober 1981 dan terpilih kembali pada 1985.
Baca Juga: Masyarakat Nomaden di Iran Perlahan Menghilang, Apa Sebabnya?