Benarkah Manusia Berperan dalam Punahnya Owa? Makam Bangsawan Tiongkok Memberi Jawaban

By Nesa Alicia, Jumat, 12 Oktober 2018 | 11:13 WIB
Kerangka hewan owa (Sam Turvey/ZSL/sciencealert.com)

Nationalgeographic.co.id - Pada masa itu, hewan owa dianggap sebagai hewan "mulia" dan seringkali diperlihara sebagai hewan peliharaan oleh para bangsawan Tiongkok

Tidak mengherankan bila pada tahun 2004, sejumlah tulang dari berbagai jenis owa yang sudah punah ditemukan dalam sebuah makam di ibu kota Chang'an—sebelumnya adalah kota kekaisaran penting di era Tiongkok kuno.

Makam berusia 2.200 tahun tersebut diduga milik Lady Xia, nenek dari Qin Shi Huang, kaisar pertama Tiongkok yang mengawasi pembangunan Tembok Besar Tiongkok.

"Memiliki owa sebagai hewan peliharaan tampaknya sudah umum di kalangan bangsawan Tiongkok pada zaman kuno," kata salah satu penulis jurnal science, Alejandra Ortiz dari Zoological Society of London dan New York University.

Selain owa, dalam makam kuno tersebut juga ditemukan 12 lubang yang berisi kerangka hewan, seperti macan tutul, lynx, beruang, hingga bangau. Hewan-hewan tersebut dipelihara karena dianggap sebagai simbol yang elegan. 

Baca Juga : Anjing Tidak Secerdas yang Kita Kira, Menurut Sebuah Penelitian

Ahli biologi konservasi di Zoological Society of London, Dr Samuel Turvey menemukan sisa owa saat mengunjungi Institut Arkeologi Provinsi Shaanxi di Xi'an. Hewan tersebut diperkirakan telah ada di sana kurang dari 300 tahun yang lalu.

Namun, Turvey dan timnya tidak diizinkan untuk mengambil DNA dari tulang tersebut oleh otoritas Tiongkok. Sehingga, mereka melakukan analisis mengenai dimensi tengkorak owa untuk membandingkannya dengan spesies yang ada. 

Menurutnya, tengkorak dan rahang yang ditemukan saat itu sangat berbeda dari 20 spesies owa yang ada, sehingga para ilmuan menyimpulkan bahwa mereka adalah kelompok baru yang telah punah. 

“Yang luar biasa dari penelitian ini adalah bahwa ia mewakili genus yang unik, ini menjadi sesuatu yang benar-benar baru bagi sains,” kata James Hansford, salah satu penulis jurnal Science, melansir Mongabay, Jumat (12/10/2018). 

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Science tertulis bahwa spesies yang sebelumnya tidak dikenal ini kemungkinan besar tersebar luas dan mungkin telah bertahan hingga abad ke-18. Hewan ini mungkin spesies kera pertama yang telah mati akibat dari aktivitas manusia.

Seekor Owa jawa yang berada di dalam Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa. (Rahmad Azhar Hutomo/National Geographic Indonesia)