Memadukan Peradaban Laut dan Darat
Peran jalur rempah sebagai jalur budaya, dalam semua dimensinya, menjadikan laut dan darat suatu kesatuan yang saling mendukung dalam arah kebijakan pembangunan berkelanjutan. Laut merupakan sandaran untuk mencapai keunggulan kompetitif, jika negara ingin maju dan rakyat makmur. Produk-produk unggulan di daratan dari setiap daerah didistribusikan ke antarpulau dengan pola yang jitu melalui poros maritim.
Terlepas semua itu, tidak dapat ditawar lagi bahwa pembangunan di darat menekankan pada harmonisnya hubungan manusia dan alam. Pandemi Covid-19 telak memaksa manusia untuk melakukan strategi nyata pada penyembuhan jaringan kehidupan, membangun kembali perekonomian dengan cara menghormati batasan ekologis.
Nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan praktik tradisional pengelolaan lingkungan menjadi sumber daya yang berharga untuk mencapai keberlanjutan ekologi, serta kesehatan dan kebugaran (wellness) manusia itu sendiri.
Baca Juga: Nasib Kapal-Kapal Kuno yang Tenggelam di Jalur Rempah Nusantara
Maka, dengan modal kekayaan budaya yang berlimpah, kita bisa merebut besarnya kebutuhan pasar wellness economy yang mencapai 4,2 triliun dolar AS atau sekitar Rp 59 kuardiun menurut Global Wellness Institute, 2017. Industri wellness mencakup makan sehat, perawatan dan kecantikan, nutrisi, meditasi, spa, kesehatan, dan pariwisata kesehatan.
Penggunaan rempah-rempah, bumbu-bumbuan dan tumbuh-tumbuhan sudah digunakan secara kebiasaan turun-temurun sebagai bahan kesehatan, penyembuhan, dan relaksasi yang bersifat holistik. Kita juga mempunyai puluhan spa tradisional yang sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai produk kesehatan dan kecantikan ke mancanegara dan daya tarik turis.
Bahkan, masyarakat kita sudah memiliki aneka cara dalam merespon wabah atau upaya tolak bala, seperti ritual dan tirakat, ramuan jamu tradisional, ruwatan, mantra, sesaji daun bidara dan janur kuning, Maka sebenarnya, usaha mengatasi wabah adalah dengan memberdayakan keanekaan budaya dalam mencari siasat agar hidup kembali harmonis.
Bagaimanapun, kini, pengembangan semua itu memerlukan riset intensif untuk memetakan kekayaan budaya dan pembangunan yang masih sangat minim.
Penulis | : | National Geographic Indonesia |
Editor | : | Mahandis Yoanata Thamrin |
KOMENTAR