Para peneliti menjelaskan bahwa Danau Kinneret secara alami memiliki karakteristik stratifikasi, yang berarti danau ini terdiri dari lapisan-lapisan air yang berbeda.
Lapisan bawah biasanya memiliki suhu yang lebih dingin dan kadar oksigen yang rendah, sementara lapisan atas cenderung lebih hangat dan kaya akan oksigen, yang merupakan habitat ideal bagi sebagian besar spesies ikan.
Mereka menemukan bahwa dari waktu ke waktu, stratifikasi termal dapat terjadi ketika air dari dua lapisan yang berbeda ini bercampur.
Sayangnya, proses pencampuran ini seringkali berujung pada kondisi di mana kadar oksigen menjadi terlalu rendah bagi ikan untuk bertahan hidup di lapisan mana pun di danau. Akibatnya, ikan-ikan tersebut mengalami kematian massal dan bangkainya mengapung ke permukaan air.
Lebih lanjut, tim riset juga mengamati bahwa jenis ikan yang paling umum ditemukan di danau selama peristiwa kematian ikan biasanya berakhir terdampar di sepanjang garis pantai.
Kondisi ini menjadikan ikan-ikan tersebut sangat mudah dikumpulkan oleh penduduk setempat yang sedang mengalami kekurangan pangan.
Dengan membandingkan kondisi danau pada masa Yesus dengan kondisi yang memicu kematian ikan modern, para peneliti menyimpulkan bahwa sangat mungkin kondisi lingkungan pada masa lalu serupa dengan kondisi saat ini yang menyebabkan kematian ikan secara alami.
Temuan ini mengimplikasikan bahwa apa yang selama ini dianggap sebagai mukjizat mungkin sebenarnya merupakan peristiwa alamiah yang kebetulan terjadi, yang kemudian diinterpretasikan sebagai tindakan ilahi.
KOMENTAR