Penyu Terkecil di Dunia Terancam Punah, Mungkinkah Kita Penyebabnya?

By Nesa Alicia, Jumat, 23 November 2018 | 13:35 WIB
Penyu lekang kempii (Jeff Schmid, Conservancy of Southwest Florida)

Nationalgeographic.co.id - Penyu lekang kempii, penyu terkecil di dunia ini dapat dikenali dari cangkangnya yang berwarna pucat. Spesies ini paling banyak ditemui di habitat teluk dan muara Florida barat, Amerika Serikat. 

Meski begitu, penyu lekang kempii juga banyak ditemukan di sepanjang teluk Meksiko. Pada tahun 1947, sekitar 40.000 penyu datang untuk bersarang di pantai dekat Rancho Nuevo, Meksiko.

Namun, pada pertengahan tahun 1960-an, jumlah sarang penyu lekang kempii menurun menjadi 5.000. Kemudian pada tahun 1985 hanya ditemui 702 sarang. 

Baca Juga : Makan Belatung? Apa Yang Akan Terjadi Pada Tubuh Setelahnya?

Upaya konservasi kemudian dilakukan untuk melindungi sarang penyu tersebut. Salah satunya dengan tindakan pengurangan penangkapan.

Pesisir pantai Texas ke Massachusetts, Amerika Serikat merupakan tempat penting bagi penyu lekang kempii muda. Alasannya sederhana dan mendasar, di sana tersedia banyak makanan bagi mereka.

Meski begitu, tidak banyak informasi mengenai cara penyu berinteraksi dengan lingkungan mereka. Mungkin saja perilaku ini dapat memecahkan pertanyaan penyebab berkurangnya populasi penyu kempii.

Untuk mengungkapnya, para peneliti kemudian melakukan pelacakan dari luar angkasa dengan menggunakan telemetri satelit, alat untuk mempelajari pola distribusi penyu dari waktu ke waktu.

Ini menjadi aspek mendasar untuk konservasi dan memberikan dasar bagi aspek penelitian lainnya. Pemancar akan dipasangkan pada cangkang penyu, sementara itu satelit yang mengorbit akan menerima signal dari penyu yang sudah dipasangkan pemancar.

Data satelit akan dikirim kembali ke darat untuk memperkirakan lokasi setiap penyu. 

Baca Juga : Inilah Cara Bagaimana Ilmuwan Menamai Dinosaurus Temuan Mereka

Hasilnya, ditemukan bahawa penyu lekang kempii yang berada di Florida akan pergi selama musim dingin. 

Menurut nelayan setempat, penyu-penyu tersebut tidak hanya pergi ketika cuaca dingin, tetapi juga menguburkan diri di dalam lumpur untuk brumasi, hibernasi yang dilakukan reptil.

Penyu akan meninggalkan rumah mereka pada bulan November, ketika suhu sedang turun. Kemudian mereka akan melakukan perjalanan menuju perairan yang lebih hangat dan lebih dalam. Hingga akhirnya, pada bulan Januari mereka akan kembali ke tempat asalnya.

Data pelacakkan juga mengungkap koridor migrasi musiman di sepanjang pesisir yang dilalui penyu. 

Setelah melacak selama beberapa tahun, data yang diperoleh menunjukkan adanya perbedaan pergerakan. Meski suhu air sama, tetapi ada variabel lingkungan yang turut memengaruhi perilaku mereka. 

Baca Juga : Sering Menahan Kencing? Ini yang Akan Terjadi Pada Tubuh Anda

Penyu-penyu tersebut juga diketahui melewati ganggang berbahaya, Karenia brevis atau yang lebih dikenal dengan ganggang merah. Ganggang yang berada di pantai barat Floridina ini menghasilkan racun brevetoxins yang berbahaya bagi hewan. 

Banyak penyu yang terdampar di darat akibat racun yang masuk ke dalam tubuh mereka. Meski begitu, penyu yang masih hidup akan menunjukan tanda-tanda dari paparan racun tersebut, seperti kelumpuhan, otot berkedut, dan gejala neurologis lainnya.

Hal ini diketahui setelah penanda satelit tersebut menunjukan bahwa mereka melintasi daerah dengan ganggang merah berbahaya.

Banyak penyu yang mati karena tidak kuat terhadap racun tersebut.