5 Makanan Ini Dianggap Menggemukkan, Padahal Dapat Menurunkan Berat Badan

By Gregorius Bhisma Adinaya, Kamis, 29 November 2018 | 11:01 WIB
Ketidaktahuan dalam diet justru menghambat usaha. (Tero Vesalainen)

Sering mendengar kalimat ini ketika Anda mengonsumsi alpukat? Jika iya, jangan salahkan mereka. Alpukat memang mengandung lemak. Bahkan 77 persen kalori dari alpukat berasal dari lemak. Alpukat juga mengandung lemak tidak jenuh tunggal, dan sedikit lemak jenuh.

Namun tidak perlu takut, kandungan lemak pada alpukat justru menyehatkan tubuh—terutama bagi jantung. Jenis lemak dalam alpukat juga ditemukan dalam buah zaitun dan minyak zaitun, lemak yang dianggap sangat sehat.

Lemak sehat ini berfungsi mengurangi inflamasi dan menurunkan risiko penyakit jantung. Bahkan rutin mengonsumsi alpukat justru dapat menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan total kolesterol.

Selama ini, yang membuat alpukat menjadi faktor penambah berat badan adalah bahan makanan campuran lain yang kita gunakan. Gula dan "kental manis" dalam jus alpukat, atau coklat dan gula dalam es alpukat.

Alpukat (Thinkstock)

Kacang Pistasi

Meskipun kacang pistasi atau pistachio mengandung jumlah kalori yang tinggi, tetapi makanan ini dianggap tidak menyebabkan kenaikan berat badan dalam porsi moderat.

Hal ini dihubungkan dengan adanya protein dan serat dalam makanan ringan ini. Zat-zat tersebut dianggap mengurangi asupan kalori spontan dan meningkatkan respon tubuh terhadap insulin.

"Kombinasi protein dan serat akan membantu Anda merasa kenyang lebih lama," ungkap Amy Gorin, MS, RDN, pemilik Amy Gorin Nutrition di New York City.

Kacang pistachio (zozzzzo/Getty Images/iStockphoto)

Pasta

Anda menghindari pasta karena takut mengalami kenaikan berat badan? Jika iya, Anda tidak sendiri. Namun tidak ada salahnya Anda juga menambah pengetahuan terhadap hal tersebut.