Tidur Nyenyak, Obat Terbaik Melawan Flu dan Kuman Penyakit

By National Geographic Indonesia, Kamis, 21 Februari 2019 | 08:00 WIB
Tidur cukup memberikan banyak manfaat untuk kesehatan. (Povozniuk/Getty Images/iStockphoto)

Nationalgeographic.co.id - “Kalau sedang flu, obat paling manjur adalah tidur,” demikian biasanya para ibu menasihati anak-anaknya yang sedang sakit. Dan nasihat ibu sepertinya benar.

Seperti dilansir Reuters, para peneliti Jerman telah menemukan bagaimana tidur bisa meningkatkan kemampuan tubuh untuk melawan sakit flu. Tidur tampaknya memperkuat potensi sel-sel kekebalan tertentu dengan meningkatkan peluang sel itu untuk menempel dan akhirnya menghancurkan sel-sel yang terinfeksi virus.

Para peneliti memusatkan perhatian mereka pada sel T, yang melawan infeksi. Ketika sel T menemukan sel yang terinfeksi virus, mereka mengaktifkan protein lengket yang dikenal sebagai integrin yang memungkinkan mereka untuk melekat pada sel itu.

Baca Juga : Hati-hati, Makanan dan Minuman Ini Dapat Memicu Penyakit Kanker

Para peneliti mampu membuktikan bahwa kurang tidur, serta periode stres berkepanjangan menyebabkan peningkatan hormon menjadi lebih tinggi yang menghambat ‘saklar utama’ untuk mengaktifkan integrin.

Jika Anda ingin sistem kekebalan tubuh Anda mampu untuk melawan para penyerang, “dapatkan waktu tidur yang cukup dan hindari stres kronis,” kata pemimpin studi, Stoyan Dimitrov, seorang peneliti di Universitas Tubingen, Jerman.

Dimitrov dan rekannya menduga bahwa hormon tertentu (seperti epinefrin, norepinefrin, adenosin dan prostaglandin) kemungkinan menghambat aktivasi integrin dengan mematikan saklar utama.

Untuk menguji hipotesis itu, mereka mempelajari sel-sel dari orang yang terinfeksi cytomegalovirus (CMV). Sel T seharusnya mencari dan menghancurkan sel yang terinfeksi CMV, tetapi ketika sel T pasien dicampur dengan hormon yang dicurigai dalam tabung reaksi, kemampuan sel T untuk mengaktifkan integrin menurun.

Selanjutnya, para peneliti melihat apa yang terjadi pada manusia. Mengetahui bahwa kadar hormon-hormon ini secara alami turun selama tidur, mereka mengumpulkan 10 sukarelawan sehat yang bersedia menghabiskan satu malam tidur di laboratorium dan satu malam lagi, sekitar dua minggu kemudian, terbangun di laboratorium yang sama.

Semua sukarelawan telah terinfeksi CMV, virus yang kebanyakan jinak. “Kami merekrut manusia sehat seropositif untuk CMV karena (mereka biasanya memiliki) jumlah sel T spesifik antigen yang tinggi,” kata Dimitrov dalam email. Itu berarti para peneliti tidak akan kesulitan menemukan sel T yang ditargetkan CMV untuk belajar dalam darah sukarelawan, demikian tulis timnya dalam Journal of Experimental Medicine.

Selama jam-jam tidur pada malam hari, sukarelawan dihubungkan dengan kateter yang dimasukkan melalui pembuluh darah sehingga peneliti dapat mengambil sampel darah tanpa mengganggu tidur mereka.

Para peneliti membandingkan sel T yang dikumpulkan pada seseorang yang cukup tidur pada malam hari dan membandingkannya dengan sel T dari orang yang terjaga sepanjang malam dan menemukan, seperti yang diharapkan, bahwa ketika relawan sedang tidur kadar hormon stres lebih rendah daripada ketika relawan terjaga sepanjang malam.