Bagaimana Nasib Generasi Alfa dan Z, Sembilan dari 10 Orang Menghirup Udara yang Tercemar

By , Minggu, 9 Juni 2019 | 10:36 WIB
Polusi udara. (voaindonesia.com)

1. Polusi udara merenggut 800 jiwa setiap jam atau 13 jiwa setiap menit, dimana angka ini tiga kali lebih besar dibandingkan jumlah orang yang menjadi korban penyakit malaria, TBC, dan AIDS secara bersama-sama setiap tahun.

2. Beberapa pencemar udara bekontribusi baik terhadap perubahan iklim maupun polusi udara di tingkat lokal termasuk karbon hitam – yang dihasilkan oleh sistem pembakaran yang tidak efisien dari sumber-sumber seperti kompor dan mesin diesel – serta metana.

Baca Juga: Jakarta Menjadi Kota dengan Polusi Udara Terburuk di Asia Tenggara

Seorang perempuan di Beijing menggunakan masker akibat polusi udara. (Lintao Zhang/Getty Images)

3. Lima sumber utama dari polusi udara adalah pembakaran bahan baka fossil di dalam ruang, pembakaran kayu dan biomasa lain untuk memasak, menghangatkan ruang, dan menerangi rumah; industri, termasuk penghasil tenaga listrik seperti pembangkit listrik tenaga batubara dan generator diesel; alat transportasi, khususnya kendaraan dengan mesin diesel; pertanian, termasuk peternakan, yang memproduksi methane dan ammonia, beras, yang menghasilkan methane, dan pembakaran limbah pertanian; serta pembakaran limbah terbuka dan limbah organik di tempat-tempat pembuangan sampah.

4. Polusi udara dalam rumah tangga menyebabkan terjadinya sekitar 3,8 juta kematian dini setiap tahun, sebagian besar dari tingkat kematian tersebut terjadi di negara-negara berkembang, dan sekitar 60% dari kematian itu terjadi di kalangan wanita dan anak-anak.

5. 93% anak-anak di seluruh dunia hidup di daerah-daerah dimana polusi udara melebihi pedoman WHO, dengan 600.000 anak di bawah usia 15 tahun menghadapi kematian akibat infeksi saluran pernafasan di tahun 2016.

Baca Juga: Polusi Udara Membuat Suasana Hati Penduduk Kota Memburuk

Polusi udara (Editor)

6. Polusi udara bertanggung jawab atas 26% kematian yang dipicu penyakit jantung iskemik, 24% kematian akibat stroke, dan 43% akibat penyakit paru-paru obstruktif kronik, dan 29% akibat penyakit kanker paru-paru. Pada anak-anak, kondisi ini dikaitkan dengan rendahnya bobot tubuh bayi yang baru lahir, asthma, kanker pada anak-anak, obesitas, perkembangan paru-paru yang buruk dan autisme, di antara cacat bawaan sejak lahir lainnya.

7. 97% dari kota-kota dengan penghasilan rendah hingga menengah dengan populasi lebih dari 100.000 orang tidak memenuhi tingkatan kualitas udara minimum yang dipersyaratkan oleh WHO, dan di negara-negara dengan penghasilan tinggi, 29% kota tidak memenuhi pedoman kualitas WHO.

8. Sekitar 25% dari polusi udara lingkungan perkotaan disebabkan oleh debu-debu halus akibat lalu-lintas, 20% oleh pembakaran dalam rumah tangga dan 15% oleh aktivitas industri termasuk aktivitas pembangkit listrik.

Baca Juga: Bahaya Polusi Udara: Membuat Kita Bodoh dan Merusak Paru-Paru

Tingginya tingkat polusi udara membuat pemandangan kawasan Jakarta Selatan terlihat samar seperti be (Bayu Dwi Mardana)

9. Menjaga temperatur pemanasan global “jauh di bawah” 2 derajat Celsius, sebagaimana diikrarkan pemerintah di berbagai negara di bawah Kesepakatan Paris 2015, dapat menyelamatkan sekitar sejuta jiwa setahun menjelang tahun 2050 dengan hanya menekan tingkat polusi udara.

10. Di 15 negara yang paling banyak menhgasilkan gas penyebab pemanasan global, biaya dari polusi udara terhadap kesehatan umum diperkirakan lebih dari 4% PDB. Sebagai pembanding, menjaga temperatur udara sesuai limit temperatur yang digariskan dalam Kesepakatan Paris hanya membutuhkan investasi sekitar 1% dari PDB global. [ww]

Sumber-sumber: Badan Lingkungan PBB, WHO, Bank Dunia, dan kampanye Every Breath Matters.