Di Tengah Perang Suriah, Pria Pecinta Kucing Ini Dirikan Klinik Hewan

By Gita Laras Widyaningrum, Selasa, 29 Oktober 2019 | 16:39 WIB
Berkat dedikasinya, Mohammed Alaa al-Jaleel mendapat julukan Manusia Kucing dari Aleppo. (Omar Haj Kadour/AFP )

Nationalgeographic.co.id - Di sebuah penampungan kucing di Suriah Utara yang dikuasai para pemberontak, Mohammed Alaa al-Jaleel memegang perut pasien kucingnya dengan lembut, sambil melakukan USG pada hewan yang sedang hamil tersebut.

Di tengah kondisi perang, kucing itu merupakan satu dari ratusan hewan yang menerima perawatan medis di klinik darurat bermana Ernesto’s Cat Sanctuary di Kafr Naha, yang didirikan Jaleel.

“Jika Anda ingin menunjukkan belas kasih kepada manusia, jangan lupa untuk melakukannya juga pada makhluk hidup lain,” katanya.

Baca Juga: Ruang Kerja Terbuka Membuat Karyawan Malas Bicara dan Berdiskusi

Pria berusia 43 tahun yang tumbuh besar di kota Aleppo ini, sudah menyukai kucing sejak ia anak-anak. Saat beranjak dewasa, Jaleel akan mampir ke tukang daging setelah pulang kerja dan meminta sisa makanan untuk kucing-kucing liar di sekitar rumahnya.

Ketika perang pecah pada 2011, Jaleel melepaskan pekerjaannya sebagai tukang listrik. Ia beralih menjadi supir ambulans untuk membantu korban yang terluka. Meski begitu, Jaleel tidak pernah lupa membawakan makanan untuk teman-teman kucingnya.

Dengan lembut, Jaleel 'menemani' pasien kucing yang sedang menjalani USG. (Omar Haj Kadour/AFP)

Seiring berjalannya waktu, perang di Suriah semakin parah. Banyak warga yang  melarikan diri dari kota Aleppo – termasuk para pecinta kucing lainnya. Sekitar 170 kucing ditelantarkan dan Jaleel merasa bertanggung jawab merawat mereka.

Berkat dedikasinya tersebut, Jaleel mendapat julukan: Manusia Kucing dari Aleppo.

Biaya perawatan gratis

Dengan bantuan donasi dari teman-teman dan pengguna media sosial di seluruh dunia, Jaleel membangun klinik hewan pertama di kota tersebut. Namun, sayangnya, klinik itu menjadi korban pemboman.

“Kami harus melarikan diri dari satu wilayah ke wilayah lainnya, hingga akhirnya benar-benar pergi dari Aleppo,” kenang Jaleel.