Eliza Scidmore, Perempuan yang Berpengaruh Bagi National Geographic

By Fikri Muhammad, Jumat, 3 April 2020 | 13:11 WIB
Tiga gadis Jepang berbaju kimono dibingkai oleh bunga sakura. Eliza Scidmore kemudian membantu membawa pohon-pohon ke Washington, D.C. Fotografi oleh Eliza R. Scidmore, Koleksi Gambar Nat Geo ()

Selama satu minggu pada tahun 1880-an, Scidmore sangat produktif sehingga mengasilkan $1.000 per harinya. Menurut surat kabar, ia menggunakan dana itu untuk memenuhi impian masa kecilnya, yakni berkelana.

Baca Juga: Peter Carey Ungkap Kedudukan Perempuan di Era Kesultanan di Nusantara

Scidmore tergila-gila dengan Jepang yang mana saat itu baru membuka diri untuk pengunjung Barat. Saudara laki-lakinya yang bekerja memiliki jabatan diplomatik disana membantunya terkoneksi dengan kehidupan sosial masyarakat Jepang.

Ia mengagumi status tinggi wanita Jepang dan ditulis untuk Harper's Bazaar. Lalu ia juga menulis tentang teko dan menganalisis perbedaan sumpit Jepang dan Cina di majalah Cosmopolitan.

Selain itu ia juga menulis tentang ulat sutra untuk American Farmer yang mengulas bahwa ulat sutra sebagai "bangsawan yang dibesarkan dengan hati-hati".

Akhirnya, ia kembali ke Washington D.C dengan foto-foto pohon sakura dan mengajukan petisi ke Presiden Amerika Serikat saat itu Grover Cleveland untuk menanamnya di sepanjang jalan Tidal Basin.

Bunga sakura bermekaran dalam warna merah muda setiap musim semi di sekitar Tidal Basin, Washington, D.C. ()