Sindrom Stockholm, Ketika Tawanan ‘Jatuh Cinta’ dengan Penculiknya

By Gita Laras Widyaningrum, Kamis, 21 Mei 2020 | 13:49 WIB
Pengidap sindrom Stockholm merasa penculik adalah penyelamatnya. (Nina Malyna/Thinkstock)

Nationalgeographic.co.id - Banyak orang mengetahui frasa Sindrom Stockholm dari beberapa kasus penculikan dan penyekapan yang melibatkan perempuan.

Sindrom ini paling sering dikaitkan dengan Patty Hearst, putri pemilik surat kabar di California yang diculik oleh kelompok militan pendukung revolusi pada 1974. Ia diketahui memiliki simpati pada penculiknya. Bahkan, bergabung dengan mereka dalam kasus perampokan secara sukarela. Patty pun ditangkap dan diganjar hukuman penjara atas tindakannya tersebut.

Meskipun begitu, pengacara Patty, Bailey, mengatakan bahwa otak gadis berusia 19 tahun itu telah dicuci oleh penculiknya. Ia juga menjelaskan bahwa Patty mengalami sindrom Stockholm–istilah yang diciptakan untuk menggambarkan perasaan tidak masuk akal tawanan terhadap penculik mereka.

Baca Juga: Tiga Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Melongggarkan Karantina Wilayah Menurut WHO

Sindrom ini muncul kembali ketika media melaporkan kasus Natascha Kampusch. Natasha diculik saat ia berusia 10 tahun oleh Wolfgang Priklopil dan disekap di basemen selama delapan tahun.

Bukannya benci dengan penculiknya, Natasha justru menangis ketika ia  mendengar kabar Wolfgang meninggal. Ia bahkan menyalakan lilin untuk Wolfgang yang terbujur kaku di kamar mayat.

Sementara itu, warga Swedia mengetahui empat orang yang mengalami sindrom Stockholm. Yakni, para karyawan bank Kreditbanken: Birgitta Lundblad, Elisabeth Oldgren, Kristin Ehnmark dan Sven Safstrom.

Pada 23 Agustus 1973, mereka berempat menjadi sandera Jan-Erik Olsson, perampok bank Kreditbanken di Stockholm, Swedia. Enam hari kemudian, ketika korban berhasil diselamatkan, diketahui bahwa mereka menjalin hubungan positif dengan peyanderanya dalam kurun waktu tersebut.

Asal mula sindrom Stockholm

Sindrom Stockholm diciptakan oleh psikiater dan kriminolog Nils Bejerot. Dr. Frank Ochberg yang juga psikiater, tergelitik dengan fenomena ini. Ia pun menjelaskan sindrom ini kepada FBI dan Scotland Yard pada 1970-an.

Saat itu, dr. Frank sedang membantu US National Task Force on Terrorism and Disorder merancang strategi untuk situasi penyanderaan.

Kriteria seseorang yang mengidap sindrom Stockholm, meliputi hal berikut: “Pertama, korban akan mengalami sesuatu yang menakutkan dan tak terduga untuk pertama kalinya. Mereka yakin akan mati.”