Jelajah Samudra Kapal Portlink Zero dari Irlandia Utara ke Indonesia

By Fikri Muhammad, Selasa, 5 Januari 2021 | 15:00 WIB
Seorang juru mudi kapal Portlink Zero bernama Ilham Wijaya. Mengemudikan kapal di pelayaran Merak ke Bakauheni (Fikri Muhammad/National Geographic Indonesia)

Nationalgeographic.co.id—Pada pertengahan 2012, sebuah kapal bernama Stena Caledonia berlayar ke Tanjung Priok, Jakarta dari Belfast, Irlandia Utara. Ia dibawa pada sebuah misi bernama mobilisasi kapal Stena. Itu adalah kapal yang pertama kali dibeli oleh ASDP untuk Indonesia.

Sebelum dibeli Indonesia, kapal jenis feri ini beroperasi pada rute Belfast ke Stranraer, Skotlandia untuk menangkut penumpang. Karena operasinya untuk rute pendek, kapal ini dipersiapkan selama satu bulan sebelum diberangkatkan ke Indonesia. 

Selama masa persiapan, semua bagian kapal disesuaikan dengan INMARSAT (International Maritime Satellite Organization) menambahkan alat komunikasi dan keamanan. Bahkan 18 awak kapal juga dilatih. Hal ini dilakukan untuk memenuhi standar perjalanan antar samudra. Setelah semua selesai, kapal itu berganti nama menjadi KMP Portlink atau biasa disebut Portlink Zero.

"Satu bulan kita standarisasi. Setelah proses offering, kita mengganti namanya menjadi Portlink Zero dari Stena Caledonia. Secara teknis tangki kapal bukan untuk perjalanan jarak jauh maka harus mampir-mampir. Kapal ini tadinya untuk perjalanan dua sampai tiga jam. Bukan untuk lintas samudra," ucap Captain Solikin, General Manager ASDP Bakauheni pada National Geographic Indonesia di Pelabuhan Bakauheni. 

Ruangan peta di anjungan kapal Portlink Zero (Fikri Muhammad/National Geographic Indonesia)

Portlink Zero berlayar Menyusuri Atlantik Utara dan masuk ke lautan Gibraltar. Perjalanan itu dipimpin oleh Susetyo Dwirianto sebagai kapten kapal, Solkin sebagai Chief Officer (Mualim I), Rudi Sunarko sebagai Second Officer (Mualim II), dab Luthfi Pratama sebagai Third Officer (Mualim III).

Rute itu telah disesuaikan dengan mitigasi pelayaran. Tidak terlalu mepet ke pantai dan bisa mendeteksi titik pembajakan. Selama pelayaran itulah kisah-kisah menarik tersimpan di dalamnya.

Seorang penumpang Portlink Zero (Fikri Muhammad/National Geographic Indonesia)

Ada pepatah yang masyhur mengatakan bahwa laut yang tenang tidak melahirkan pelaut yang handal. Rasanya, awak kapal Portlink Zero merasakanya saat memasuki perairan Gibraltar. Kapal itu mengapung selama tiga hari karena kehabisan bahan bakar minyak.

"Kami harus matikan satu mesin. Ini kapal pertama tempat pembelajaraan kami. Ada telat komunikasi secara manajemen. Tiga hari kami mengapung dan tidak boleh turun jangkar. Kita minggir nggak boleh karena daerah memasuki teritorial negara lain," ucap Solikin. 

Satu mesin dinyalakan sebagai stasioner. Komando kapal saat itu melakukan drifting, teknik membelok-belokan kapal supaya tetap melaju dengan bahan bakar yang minim. Para awak saling menguatkan mental, sambil memikirkan resiko terburuk jika kapal hanyut di mana saja.

Solikin mengatakan jika situasi terburuk terjadi, kapal akan mengirimkan sinyal mayday dengan Channnel VHF 16, sebuah sinyal radio internasional yang digunakan untuk memberikan informasi keadaan darurat.