Figur Karakter Film Berperan Membangkitkan Kajian Fiksi-Sains

By National Geographic Indonesia, Senin, 29 Maret 2021 | 17:21 WIB
Figur karakter Stormtrooper dan Darth Vader dari film Star Wars. Film ini diproduksi perdana pada 1977, yang berlanjut dengan trilogi hingga 1983. (Dion Desembriarto)

Kian popularnya genre fiksi-sains turut mendorong industri memproduksi pernak-pernik terkait budaya pop. Ragamnya bisa berupa properti sisa film hingga yang diproduksi lebih massal—seperti mainan yang kerap disebut sebagai figur karakter atau action figures.

Mainan hasil adaptasi karya fiksi sains telah menciptakan satu kata baru dalam kamus Bahasa Inggris, yaitu kata “toyetic”. Menurut Bernard Loomis (1923–2006), perancang dan pemasar mainan terkenal asal Amerika Serikat, kata ini diucapkan Loomis saat mengobrol dengan Steven Spielberg dalam proses produksi mainan dari filmnya yang dirilis pada 1977, Close Encounters of the Third Kind.

Toyetic adalah istilah yang merujuk pada kesesuaian properti media—seperti kartun atau film— untuk memperdagangkan rangkaian mainan, gim, dan lainnya dengan lisensi resmi. Syaratnya, mainan yang diproduksi bisa dimainkan dengan dinamis, digenggam dengan mudah, dan dipenuhi dengan aksesori. Konsumen pun dapat membuat atau merekonstruksi adegan yang terdapat dalam film fiksi-sains favoritnya di rumah.

Figur karakter dari genre fiksi-sains memunculkan para kolektor artefak budaya pop ini. Mereka mengkoleksi seluruh figur karakter dari film favorit mereka. Contohnya, figur karakter dari film Star Wars masih digemari hingga hari ini. Pernak-pernik iru diproduksi oleh perusahaan kecil di Cincinnati, Ohio Amerika, Serikat bernama Kenner.

Baca Juga: Galaksi Nan Jauh Ala Star Wars Mampu Ajarkan Sains Pada Anak-Anak

Figur karakter Stormtrooper dari film Star Wars. Mainan bergenre fiksi-sains mampu memperkenalkan masyarakat tentang minat sains. (Unsplash.com)

Film Star Wars dirilis di bioskop-bioskop penjuru dunia dan meledak hanya dalam waktu beberapa minggu. Namun, sebelumnya film ini dirilis, banyak perusahaan mainan di Amerika Serikat yang ogah memproduksi mainan dari film ini. Mereka menganggap figur karakter tidak akan laku dipasaran karena penggemar fiksi-sains pada saat itu masih sedikit.

Belakangan, mereka menyesalinya. Star Wars ternyata mampu meraup keuntungan sekitar $7.000.000 dari pemutaran filmnya di Amerika Serikat saja. Bahkan, mainan dari film ini mampu meraup dua kali lipat keuntungan dari filmnya: hingga menyentuh angka $14.000.000.

Hasil penjualan mainan Star Wars tentu membawa keuntungan besar bagi Kenner. Mainan Star Wars juga turut memopulerkan mainan berukuran sekitar sepuluh sentimeter di dunia figur karakter. Alasannya, Kenner berhasrat figur ini dapat dimasukkan dalam koleksi pesawat luar angkasa khas Star Wars, yang juga diproduksi olehnya.

Meskipun mainan Star Wars diproduksi massal, terdapat beberapa figur karakter yang layaknya piala paling dicari bagi kalangan kolektor. Figur "Rocket Firing Boba Fett" dari Star Wars, misalnya, yang bisa menembakkan peluru-peluru roketnya. Namun, produk figur karakter ini gagal masuk pasar karena faktor keamanan. Gara-garanya, pada saat bersamaan, ada kasus seorang anak menelan peluru mainan pesawat dari film Battlestar Gallactica.

Baca Juga: Sebuah Suguhan yang Menarik bahwa Carrie Fisher Gemar Berfilsafat

Buck Rogers telah muncul dalam komik strip, acara televisi, film. Sosoknya muncul hampir setiap bentuk budaya pop. (Nightingale/dictio.id)

Mainan Boba Fett hanya segelintir yang sampai ke tangan para kolektor. Kebanyakan kolektor mendapatkan dari para pegawai Kenner karena mainan ini tidak pernah sampai ke pasar eceran.  Mereka rela membayar mainan mungil ini mencapai harga $223.000. Harga ini dirasa pantas karena mainan ini sangat langka dan Boba Fett adalah salah satu tokoh fiksi sains yang popular di kalangan pecinta genre ini.

Pada akhirnya, penjualan fantastis mainan langka ini turut mendongkrak penjualan mainan lawas di kalangan kolektor dan penggemar fiksi-sains lainnya. Harga mainan lawas ini meningkat karena barang langka. Bagi penggemar figur karakter, pernak-pernik ini bukan hanya plastik yang dibentuk menjadi sosok sohor, tetapi juga memiliki nilai sentimental layaknya perasaan nostalgia masa kanak-kanak. Ada juga yang menjadikan mainan figur karakter sebagai inspirasi atau karya seni.

Genre ini sedikit terlambat memasuki Indonesia. Namun, pada  1980-an penggemar fiksi-sains mulai muncul di negeri ini. Barangkali, situasinya belum seramai di negara kiblatnya—seperti Jepang dan Amerika Serikat—karena keterbatasan akses informasi.

Baca Juga: Kecelakaan Mobil Membawa George Lucas ke Pembuatan Film dan Star Wars

Seorang awak redaksi National Geographic Indonesia mengenakan helm Clone trooper di ruang kerjanya. (Rahmad Azhar Hutomo/National Geographic Indonesia)

Saat ini Indonesia telah menjadi salah satu pasar terbesar bagi industri kreatif, khususnya fiksi-sains. Cerita dan imajinasinya diwariskan oleh generasi 1970-an hingga 1990-an kepada generasi kiwari. Kini, budaya fiksi-sains terus berlanjut dan kian populer memperkenalkan minat sains kepada masyarakat.

Figur karakter boleh dikata dapat disejajarkan dengan artefak kuno karena memiliki makna sebagai hasil karya manusia dari budaya populer pada abad ke-20. Bagi para pengikut sains-fiksi, mainan ini merupakan representasi dari identitas mereka. Mainan ini menjadi bentuk terdekat paling nyata yang mereka dapat pegang dan lihat secara aktual dalam menelusuri cerita fiksi-sains yang disaksikan pada layar, buku, komik, dan media lainnya.

Fiksi-sains adalah karya yang abstrak sehingga para penggemar membutuhkan interaksi nyata. Sesuatu yang abstrak biasanya berakhir dengan sebuah simbol tak berwujud fisik. Bagi para kolektor, mainan merupakan simbol tentang apa yang mereka cintai sehingga mereka dapat lebih memaknainya.