Scott Merrilees: Bingkai Kenangan Hindia Belanda dalam Kartu Pos

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Senin, 12 April 2021 | 11:00 WIB
Pemandangan Garut dalam kartu pos yang difoto dan dicetak oleh De Varies dan Fabricius sekitar 1900. (De Vries & Fabricius/KITLV 1402256)

Nationalgeograhic.co.id—Lewat fotografi, kita bisa mengenang sejarah di masa lalu baik di lingkungan sekecil keluarga kita, atau kuasa yang pernah memerintah di suatu negara.

Dalam konteks Hindia Belanda, fotografi di masa itu tersimpan lewat berbagai publikasi seperti kartu pos. Kartu pos sendiri merupakan selembar kertas tebal yang biasanya bergambar untuk mengirim pesan dengan harga yang lebih murah daripada surat, dan tanpa amplop.

Kumpulan kartu pos itu kemudian dikumpulkan oleh sejarawan Scott Merrillees lewat bukunya: Faces of Indonesia: 500 Postcards 1900-1945. Ia mengakui, buku yang ia tulis itu berdasarkan kesukaannya mengoleksi kartu pos sejak kecil.

"Saya kumpulkan kartu pos tentang Indonesia sejak 1990-an, saya memulainya dari [tentang] Jawa," katanya dalam diskusi daring terkait bukunya yang diadakan Periplus, Sabtu, 10 April 2021.

"Untuk kumpulkan itu semua, Sumatera, Jawa, dan Bali itu gampang, karena banyak fotografi yang berkunjung ke sana dan dijadikan kartu pos. Cuma yang susah dan menjadi tantangan buat saya adalah mencari kartu pos dengan nuanasa Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia timur."

Ia menyebut bahwa ketertarikan mengoleksi kartu pos sejarah Indonesia karena negeri ini memiliki beragam budaya, etnis, dan bahasa.

Baca Juga: Fotografi Zaman Hindia Belanda, Lahir dari Eksotisme dan Kosmopolitan

"Konsep kebhinekaan ini menarik, dan tertuang di dalam sejarah. Kita bisa lihat bagaimana orang Batak punya bahasa sendiri, dan Bali juga punya bahasa sendiri," paparnya.

"Coba kalau mereka bertemu tanpa mengenal bahasa Melayu yang digunakan hari ini, mereka pasti saling bingung. Yang bisa bahasa Melayu juga saat itu cuma pedagang atau yang tinggal di pesisir."

Keberagaman dalam kartu pos yang ia pamerkan dalam presentasinya menguak semua wajah dan kebudayaan di masa lalu itu. Mulai dari Aceh yang memiliki nuansa keislaman yang kental, dan pulau Sumatera yang memiliki konsep matriarki.

Baca Juga: Perempuan Nusantara dalam Lingkungan Patriarki Hindia Belanda

Kemudian di Pulau Jawa dan Bali yang lebih identik dalam kebudayaan, keningratan kesultanan. Bahkan kehidupan di Batavia yang sangat maju akibat pengaruh dari Eropa sekaligus merupakan pusat administrasi kolonial.

Semakin ke timur, makin menampakkan wajah kebudayaan Indonesia yang masih tradisional dan sederhana dalam berpakian, hingga kehidupan sosialnya.

Foto di kartu pos semasa Hindia Belanda merupakan berkat tangan para fotografer yang berhasil menguak identitas itu, sehingga bisa diketahui dunia. Proses mencetaknya menjadi kartu pos bukanlah monopoli lembaga pos pemerintahan saja.

Menurut Merrillees, kartu pos ini juga dicetak oleh para fotografer sebagai sumber penghasilan mereka untuk hidup sehari-hari. Beberapa di antaranya seperti C.B Nieuewenhuis, Tio Tek Hong, dan Kassian Cephas.

Tetapi ada juga yang dipotret oleh lembaga keagamaan seperti misionaris.

Hal yang menarik, menurut Merrillees, bahwa fotografer-fotografer Eropa ini bisa berkunjug ke sejumlah kawasan yang mungkin saja memiliki sentimen kepada orang Eropa akibat perang.

"Kita perlu tahu, bahwa ada banyak tantangan untuk tukang foto--tidak seperti sekarang yang bisa kirim lewat Whatsapp--karena harus memproses cukup lama, dan medannya yang susah," ujarnya.

Bahkan fotografer Eropa sudah ada yang menyentuh dataran Nias dan Batak Samosir pada 1840 hingga 1870.

Baca Juga: Nagari Sijunjung: Emas Hitam Tuan De Greve sampai Jejak Jepang

"Mereka [para fotografer Eropa] itu antara berani atau bodoh--saya kurang tahu, karena agak bahaya untuk kesana 160 tahun yang lalu," Merrillees berpendapat.

"Waktu itu kan masih ada anggapan kalau di tanah Batak Samosir itu headhunters (kanibal). Itu risiko besar untuk mereka. Tetapi ya memang mereka merintis itu supaya kita tahu sejarah. Coba saja enggak berani, kita tidak bisa lihat gambaran mereka di masa lalu."

Mengingat kebudayaan di Bali merupakan eksotisme yang mengundang turisme di masa Hindia Belanda, para fotografer juga kerap mendatanginya. Eksotisme itu antara lain kebiasaan perempuan Bali yang mengenakan pakaian tanpa menutup dada pun juga digilai oleh lelaki Eropa.

Foto dalam kartu pos itu sukses membuat wisata Hindia Belanda melejit di Bali kala dunia sedang mengalami krisis moneter (the great depression) selama Perang Dunia I.

Baca Juga: Maiko dan Kisah Pelacuran Perempuan Jepang di Hindia Belanda

"Saya rasa sudah diduga pria Eropa tertarik, tapi kini akibat modernisasi mereka mulai pakai baju sampe leher. Selain itu karena sudah kebanyakan turis yang berkunjung demi melihat perempuan tanpa pakaian di dada," ujarnya.