Jejak Tanah Leluhur Para Raja Jawa di Metropolitan Kuno Majapahit

By Mahandis Yoanata Thamrin, Kamis, 22 April 2021 | 07:00 WIB
Surya Majapahit, lambang kerajaan Majapahit. Kejayaan dan kekayaan kerajaan ini meninggalkan laksa kisah sejarah. (Dwi Oblo/National Geographic Indonesia)

Nationalgeographic.co.id—"Sumpah yang diikrarkan Gajah Mada itu tidak terbukti,” Hasan Djafar berkata. Pernyataannya telah menghentak pemahaman kami malam itu. “Itu baru keinginan Gajah Mada, bukan bukti penaklukan,” ujarnya.Dentangan gong pembuka telah menyirnakan kegaduhan rasa. Gemintang jatuh bertaburan di langit Candi Brahu. Sekelompok lelaki bertelanjang dada, berkain sarung dan berikat kepala serba hitam berbaris rampak. Setiap lelaki itu membawa semacam sesajen. Mereka menapaki satu per satu anak tangga, kemudian berjajar menghadap pintu di tubuh candi.

Setelah menjalani ritual keselamatan, sebagian lelaki itu berpencar dan duduk bersila di sudut-sudut teras candi. Sementara beberapa orang dengan busana senada, mengelilingi candi secara pradaksina. Mangkuk Buddha berdengung, sejenak suasana malam menjadi mistis dan tenang.

Mang Hasan, demikian sapaan akrabnya, merupakan salah satu begawan arkeologi, epigrafi, dan sekaligus sejarah kuno Indonesia. Meskipun usianya kini mendekati 75 tahun, tak tampak keletihannya untuk berbagi. Kami tengah melancongi tapak jejak Ibu Kota Kerajaan Majapahit di Trowulan dalam sebuah program dari Gelar Nusantara.

Baca Juga: Pada Suatu Mi: Untaian Gastronomi dari Dinasti Tang sampai Majapahit  

Di pelataran Gapura Wringin Lawang, Hasan Djafar menjelaskan tentang sebaran situs Majapahit. (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia)