Selama Pagebluk Tenaga Kesehatan Rentan Insomnia. Apa Bahayanya?

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Selasa, 27 April 2021 | 19:00 WIB
Pada 17 April 2020, tenaga kesehatan di Kepulauan Sangihe memulihkan tenaga sebelum memindahkan jenazah akibat Covid-19. Kacamata penuh embun adalah salah satu hal yang sering dihadapi oleh mereka, di balik alat pelindung diri yang mereka kenakan. (Stenly Pontolawokang)

"Kami melihat banyak orang yang bekerja terlalu banyak pada satu pekerjaan, atau mereka memiliki dua pekerjaan dan tidak ada cukup waktu untuk tidur," ujar McCall.

"Mereka tidak menderita insomnia, jika ada yang sebaliknya, yaitu kurang tidur. Gangguan insomnia mengharuskan Anda setidaknya punya kesempatan untuk tidur."

Laporan itu mengungkapkan, semakin sering perawat mengatasi pasien, mereka berada dalam risiko dan merasa khawatir tertular Covid-19. Kecemasan ini membuat mereka insomnia.

Baca Juga: Jumlah Orang Hikikomori Diprediksi Meningkat Pasca Pandemi COVID-19

 

Hal itu diungkap oleh para responden yang pekerjaan mereka dapat dilakukan dari rumah. 10 persen dari responden mengakui insomnianya membaik saat timbul Covid, karena merasa lebih aman.

"Isolasi bagi kebanyakan orang memang buruk, tapi ada juga yang suka," McCall menanggapi.

Ada pula yang menganggap penugasan dari rumah justru memicu stres yang signifikan dan berisiko insomnia. Menurut para peenliti, hal itu karena mungkin lingkungan rumah dirasa tidak cocok untuk bkerja, dan tuntutan sekolah daring anak-anak mereka.

Para peneliti menulis, secara umum insomnia lebih sering terjadi pada wanita, seperti yang terjadi dalam survei mereka. Risiko ini mengancam kesehatan mental seperti depresi, penurunan risiko pikiran dan perilaku bunuh diri, dan kualitas hidup yang memburuk secara keseluruhan.

Peristiwa kehidupan pribadi yang baik dan buruk, seperti pernikahan atau perceraian yang akan datang, masing-masing, dapat memicu gangguan insomnia akut, tulis para peneliti.