Nationalgeographic.co.id—Pada masa pemerintahannya, Sukarno membuat kebijakan bernafas anti-kolonialisme dan imperialisme. Atas nama memajukan kebudayaan nasional, rakyat diperintah untuk mejauhi pengaruh budaya asing.
Sama halnya dengan musik, ia berfungsi sebagai alat revolusi. Pada Surat Kabar Harian Minggu 8 November 1964, Sukarno dengan tajam tidak membenarkan lagu 'klemak-klemik' - seperti menangis atau anjing mengaung di malam hari. Lagu semestinya yang menggambarkan 'fighting nation' dan bukan lagu 'ngak ngik ngok'.
'Ngak ngik ngok' diinterpretasikan sebagai musik The Beatles oleh Sukarno (mungkin diambil dari intro harmonika Love Me Do). Spirit kebebasan ala The Beatles dianggap membahayakan budaya gotong royong karena ia mengutuk liberalisme secara politik, ekonomi, dan budaya.