Bagaimana Budaya Barat Menjadi Ajang Anak Muda Menyinggung Orde Baru?

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Selasa, 22 Juni 2021 | 21:25 WIB
Potret album Koes Plus. Mereka pernah ditangkap dan lagu-lagunya dilarang beredar. Bahkan album piringan-piringan hitam mereka dihancurkan. (DISCOGS)

 

Nationalgeographic.co.id - Bila menilik dunia budaya pada beberapa dekade akhir abad ke-20, kita akan mengingat akan hippies, diskorock n' roll, celana cutbray, rambut keriting, dan segala macamnya.

Sebelumnya, pada masa Sukarno, produk kebudayaan Barat dianggap produk kolonialisme dan imperalisme.

Pada 8 November 1964 misalnya, Sukarno menganggap lagu 'ngak ngik ngok' (mungkin ditujukan pada musik Love Me Do karya The Beatles) tak mencitrakan semangat gotong royong. Sehingga, polisi dan berbagai kelompok masyarakat merazia piringan hitam musik Barat, bahkan dihancurkan.

Baca Juga: Apa Salah Musik-Musik Barat Seperti The Beatles di Telinga Sukarno?