Mengecap Sisi Lain Kepulauan Riau

By , Rabu, 25 November 2015 | 12:04 WIB

Hati saya berdebar. Sudah sejak lama saya ingin menyambangi tempat ini. Siang itu, saya melangkah di sebuah lorong kelam. Di sebelah kanan saya, tampak sebuah ruangan, terpisah oleh pintu dan jendela berjeruji. Tak ada perabot di dalamnya. Hanya ada sinar remang lampu jingga yang membiaskan bayang jeruji ke dinding, seolah mengisahkan kisah pilu para tawanan yang pernah menghuninya.

Setelah mengamati ruang itu sejenak, saya mengayunkan kaki  di dalam lorong, melewati sebuah ruang yang saya duga sebagai sebuah gudang. Langit-langitnya dibuat tinggi menjulang, dan ada lantai melandai yang saya duga sebagai tempat untuk mendorong wadah beroda pengangkut barang. Bisa jadi ini adalah tempat penyimpanan barang terlarang.

Tak sampai satu menit kemudian, saya tiba di sebuah ruang yang lebih kecil. Di hadapan saya, sebuah tempat duduk besar yang tampaknya digunakan oleh sang bos, diatur menghadap ke dinding. Di depan kursi, terdapat palang besar tergantung di langit-langit. Dua buah rantai menjuntai dari palang itu guna mengikat pergelangan tangan tersangka, tinggi di atas kepala. Inilah ruang penyiksaan.

Di sisi kanan ruangan, ada sebuah jendela besar yang menghubungkan ruang ini dengan ruang sebelahnya. Penasaran, saya mengintip ke sana. Saya terkejut. Cipratan darah kering menempel di mana-mana, terutama di dinding kiri, sama posisinya dengan tempat tersangka disiksa di ruangan ini. Warnanya merah kecokelatan, bukan warna darah segar. Bisa jadi, pembantaian dilakukan berberapa minggu sebelumnya.

Saya kembali ke lorong, berjalan seorang diri, menjumpai panel-panel listrik yang sudah berkarat di ujung tangga yang mengarah ke atas. Kesuraman kembali terasa. Bukan rasa takut yang kini ada dalam benak saya, namun kekaguman luar biasa. Di ujung lorong, saya melihat sinar putih benderang. Saya pun melangkah ke luar, tepat di bawah naungan atap setinggi langit-langit hanggar pesawat terbang.

Lorong yang baru saja saya masuki adalah salah satu ruang yang ada dalam kawasan Infinite Studios. Inilah studio film yang terletak di kawasan Nongsa, Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Lorong bawah tanah yang baru saja saya masuki tadi adalah lokasi pengambilan gambar untuk film Dead Mine yang diluncurkan pada 2012.

Sebelumnya, Wahyuni, HR and GA Manager Infinite Studios yang menemani saya berkeliling, mengajak rombongan kami ke ruang koleksi penyimpanan perlengkapan yang pernah digunakan untuk film ini. Beragam senjata api, topeng-topeng, serta potongan kepala mengerikan, tersusun dengan rapi di rak yang menempel di dinding ruangan, membuat saya bergidik.

Namun, tak semua bagian dalam kawasan ini dihantui sisi suram. Infinite Studios memiliki ruang animasi berdinding hitam yang dipenuh oleh jajaran perangkat komputer yang dioperasikan oleh anak-anak muda berbakat, dengan usia sekitar 20 tahunan yang sibuk dengan layar mereka masing-masing. Beberapa orang mengerubungi satu layar, tampaknya mendiskusikan hasil pekerjaan mereka. Patung-patung kecil yang mereka gunakan sebagai model dari tokoh kartun mereka, berdiri berjajaran di pembatas antarmeja. Kamera tidak boleh dioperasikan di ruangan ini, hal yang diwanti-wanti secara keras, sebelum pengunjung masuk ke dalamnya, dan disuguhi oleh film hasil karya mereka yang mendunia, seperti serial kartun Garfield.

Tempat pengambilan gambar tak hanya ada di dalam ruangan. Wahyuni mengajak saya berjalan-jalan, kali ini di ruang terbuka. Saya bagaikan baru melewati gerbang lorong waktu dan menjejakkan kaki di tanah Singapura pada periode 1960-an. Di “kota” ini terdapat toko buku, kedai teh, toko yang menjual obat-obatan dan tempat praktik sinse, juga toko penjahit lengkap dengan gulungan kain berwarna-warni, mesin jahit tua, serta pita-pita yang tertumpuk di balik rak kaca.  

Saya menikmati poster-poster tahun 60-an yang tertempel di pilar pertokoan: iklan rokok, minuman, hingga pengumuman kebersihan rambut terkait kutu. Saya berjalan di lokasi pembuatan film miniseri Serangoon Road yang diputar di HBO. Benak saya pun dipenuhi suasana di dalam film: jalanan dipenuhi oleh pedagang sayur, para pembeli, dan ledakan-ledakan membahana di berbagai sudut jalan.

Mentari bersinar terik. Beberapa rekan saya menaiki perahu kecil, yang meloncat-loncat dengan ganasnya di atas gelombang laut. Air asin buyar di sekeliling mereka, setiap kali lunas perahu menampar air. Membasahi tubuh juga kamera mereka.

Perahu kecil itu bagai membuka jalan kami menuju Pulau Nikoi, resor cantik yang tertutup bagi umum, kecuali pengunjung yang memang hendak menginap di sana. Didominasi oleh kunjungan wisatawan mancanegara, yang menghabiskan malam di rumah-rumah kayu tanpa pendingin ruangan, televisi, atau telepon, suasana alami masih kental terasa di pulau seluas 15 hektare ini. Pepohonan rapat menaungi jalur trekking yang memecah belah pulau, menaungi para pejalan kaki dari terik mentari.

Kabarnya, lokasi pasir putih yang ada di pulau ini bisa berpindah. Saat musim angin utara, bentangan pasir di sisi utara malah berpindah ke selatan, dan sebaliknya, jika angin selatan berembus, pasirnya akan muncul di sisi utara. Kami tak berlama-lama menghabiskan waktu di pulau ini, karena masih ada pulau lain yang menunggu kedatangan kami: Pulau Beralas Pasir di perairan lepas pantai timur Bintan ini.