Bagaimana Pengalaman Jurnalis Indonesia dalam Meliput Piala Dunia?

By , Rabu, 9 Juli 2014 | 12:45 WIB

Timnas sepak bola Indonesia boleh saja gagal tampil di ajang piala dunia, tapi tidak halnya dengan para wartawannya. 

Setiap pesta sepak bola empat tahunan itu digelar, sejumlah media selalu mengirim para jurnalisnya untuk meliput langsung ke lokasi pertandingan. 

Tidak diketahui secara persis, sejak kapan wartawan Indonesia meliput langsung turnamen akbar itu, namun beberapa laporan menyebut momen Piala Dunia 1974 di Jerman (Barat) telah dihadiri oleh jurnalis Indonesia. 

Tetapi, apakah tidak terlalu berlebihan mengirim wartawan dari Indonesia untuk meliput Piala Dunia, sementara tim negaranya tidak tampil di ajang olah raga terpopuler itu? 

Pertanyaan seperti ini sering diterima para wartawan Indonesia ketika mereka bertemu jurnalis dari seluruh dunia yang kebetulan timnasnya ikut berlaga. 

"Warga Indonesia itu gila bola," begitulah salah-satu jawaban yang sering terdengar dari pengalaman sejumlah wartawan yang pernah meliput langsung Piala Dunia

Pertanyaan berikutnya: apa istimewanya hadir langsung di stadion yang dipenuhi puluhan ribuan suporter, dan melihat langsung para bintang sepak bola bertarung merebut bola?

BBC Indonesia mewawancarai tiga orang wartawan senior Indonesia yang pernah meliput ajang piala dunia, dan mereka mengisahkan pengalamannya. Berikut petikannya: 

Budiarto Shambazy 

Wartawan senior harian Kompas, telah meliput lima kali ajang Piala Dunia 

Salah-satu pengalaman menarik adalah ketika saya meliput final Piala Dunia 1986 di Meksiko, antara Jerman Barat lawan Argentina. Waktu itu ada sosok terkenal yaitu Diego Maradona. 

Itu merupakan kenangan paling manis buat saya, karena saya merasa disajikan permainan individual Maradona yang luar biasa. Dia adalah tipe pemain yang barangkali tidak akan lahir dalam seribu tahun sekali. 

Banyak aksi Maradona yang tidak terbayangkan sebelumnya: Dia bisa menendang bola dalam posisi sangat sukar. Dia juga mampu menggiring bola melewati tiga atau empat pemain. 

Di laga final itu dipenuhi penonton warga Argentina dan negara Amerika Latin lainnya, seperti Meksiko dan Paraguay. Mereka kompak mendukung Argentina ketimbang mendukung Jerbar yang asal Eropa. 

Dan, saya ingat, Stadion Aztec yang berukuran cukup besar itu didesain secara menarik. Mirip kuil kuno Meksiko. Jadi ketika saya masuk ke dalamnya, saya mengalami perasan unik: kok stadion nggak kayak stadion, tapi kayak kuil pemujaan. 

Laga piala dunia lain yang mengesankan saya, ya, final Piala Dunia 2002 di Yokohama, yang menghadapkan Brasil lawan Jerman. Ini pertama kalinya mereka bertemu di ajang piala dunia. 

Pengalaman yang menyebalkan? Saya tidak mengalami langsung, tetapi saya ingat teman saya sesama wartawan yang kecopetan di atas kereta api saat meliput Piala Dunia 1990 di Italia. 

Sebetulnya sebelumnya sudah diperingatkan agar hati-hati. Mereka tertidur di atas kereta dari Roma ke Bari, dan copetnya beraksi. Saat balik ke Roma, mereka berusaha hati-hati, tetapi tetap juga kecurian, ketika mereka terlelap. 

Saya sendiri hampir kecopetan saat berada di Napoli. Di siang bolong, tiba-tiba saya disambar dari belakang, namun mereka gagal mengambil jam tangan saya.Tapi buat saya itu bukan masalah, karena sebelumnya sudah diperingatkan agar bersikap hati-hati. 

Dan, pengalaman yang tidak terlupakan? Karena harus meliput hampir satu bulan setengah, dan saya harus berpindah-pindah dari kota ke kota lainnya, maka saya harus terus bergerak. Setiap hari bergerak. Jadi, bisa dikatakan "hidup" saya itu di stadion, stasiun, media centre, dan hotel. Jika, misalnya, ketinggalan kereta, maka saya harus menginap di emperan stasiun. Ini sudah biasa, apalagi kalau tidak kebagian hotel. 

Sebaliknya, saya juga pernah memberi tumpangan kepada rekan wartawan lain yang tidak kebagian kamar hotel. Jadi umpelan-umpelan. Itu seru sekali. 

Sumohadi Marsis 

Wartawan senior, Pemred Tabloid olahraga Bola (1984-2004) 

Ketika meliput langsung Piala Dunia 1986 di Meksiko, saya mengirim berita dengan menggunakan mesin faksimile, selain teleks, karena saat itu belum dikenal teknologi email

Jadi, saya menulis beritanya di kertas dan kemudian saya faks ke Jakarta. Artinya ini kerja dua kali, karena teman saya di Jakarta mengetik ulang naskah yang saya kirim itu. Seingat saya, semua wartawan Indonesia menggunakan cara seperti itu. Tetapi ini tidak berlaku bagi beberapa wartawan, termasuk seorang jurnalis dari Singapura, yang sudah menggunakan semacam sistem komputer, saat itu. 

Pokoknya, dia menggunakan cara yang lebih "muda", sementara saya dan wartawan Indonesia menggunakan sistem manual. 

Itulah kisah yang tak terlupakan. Tapi ada pengalaman lain yang tak kalah menarik: Usai laga final, di mana Argentina mengalahkan Jerbar 3-2, kita terpisah dengan rombongan wartawan lain, karena ribuan orang menggelar pesta pora di mana-mana setelah kemenangan itu. 

Akibatnya, kita akhirnya harus jalan kaki menuju hotel ketika malam tiba. Setelah sempat kesasar, yang memakan waktu antara 2 dan 3 jam, akhirnya kita sampai ke hotel dalam keadaan letih luar biasa. 

Pertandingan yang menarik, tentu saja, ketika Maradona bikin gol "tangan Tuhan". Saya ada di stadion itu ketika kasus itu terjadi. Kita melihat kejadian itu, tapi tidak tahu perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan Maradona. 

Dia membuat gol dengan tangan. Kita tidak tahu kecurangan itu. Setelah melihat melalui televisi di luar lapangan, tetapi tetap di dalam stadion, barulah kami tahu: Maradona melakukan kejahatan. 

Sampai sekarang, saya berpikir, dia bukanlah bintang sepak bola yang baik. Dia melakukan kejahatan. Dia bukan pemain yang patut diteladani, karena menghalalkan semua cara. 

Piala Dunia 1986 di Meksiko merupakan liputan pertama saya di ajang piala dunia. Empat tahun sebelumnya, yaitu Piala Dunia Spanyol, rekan saya Valens Doy dan Kadir Yusuf yang meliputnya. Keduanya sudah almarhum. 

Tetapi saya ingat: Valens suka sekali mengirim berita begitu panjang dalam bentuk teleks. Dia tentu saja ingin agar tulisannya yang panjang itu dimuat semua, tetapi rasanya tidak mungkin. 

Valens memang luar biasa produktifnya. Dia mengirim teleks itu seperti layang-layang. Panjang sekali kertasnya. Cuma saja, saya harus bekerja setengah mati, karena saat itu saya tugas malam. 

Saya bersyukur sebagian orang menganggap liputan duet Valens Doy dan Kadir Yusuf itu bagus sekali. Mungkin itu sebagian hasil kerja saya. Mudah-mudahan mereka tahu... ha-ha-ha... 

A Sapto Anggoro 

Mantan wartawan harian Republika, kini direktur operasional Merdeka.com 

Ketika saya meliput Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, saya teringat kehadiran para calo tiket pertandingan. Mereka kebanyakan orang-orang keturunan Amerika Latin atau Tengah. 

Yang menarik, awalnya, para calon itu menjual tiket dengan harga 120 Dollar AS di kompleks stadion. Ini harga kira-kira setengah jam sebelumkick off. Tapi begitu laga akan dimulai, mereka bakal bingung, dan itu artinya mereka harus menurunkan harga. 

Dan seterusnya, akan turun harganya ketika laga sudah dimulai. Saya, misalnya, sering membeli tiket seharga 70 Dollar AS. Tapi ada pengalaman saya yang mengharukan. Semula saya berpikir bahwa orang Amerika Serikat (AS) itu sombong, tidak suka dengan pendatang. 

Pikiran ini akhirnya harus saya koreksi, ketika saya ditolong warga AS setelah saya lupa jalur bus pulang yang harus saya kendarai. Mereka dengan baik hati mengantar saya hingga ke penginapan, dan bahkan ditraktir makan segala, padahal jaraknya lumayan jauh yaitu hampir satu jam. 

Bagaimana saya mengirim berita, saat itu? Tentu saya mengirim berita dengan menggunakan faks, yang harus saya tulis dulu di kertas. 

Cara lainnya, saya langsung menelepon ke Jakarta melalui telepon umum. Ini pernah saya lakukan ketika saya dan beberapa wartawan dapat mewawancarai mantan bintang sepak bola Prancis, Michel Platini. 

Saya menuju telepon umum, dan minta dihubungkan ke kantor Indosat. Lalu saya minta tolong disambungkan ke kantor redaksi Republika. Saya beritahu bahwa komunikasi saya melalui telepon ini akan dibayar oleh kantor saya.  

Di Piala Dunia 1994, tentu saja, saya menjadi saksi penting dari tragedi Maradona yang diberi sanksi karena menggunakan obat penguat. Juga kasus pembunuhan pemain belakang Kolomdia, Andres Escobar (1967-1994), gara-gara gol bunuh dirinya saat melawan AS. 

Lainnya? Saya menyaksikan antusiasme luar biasa warga AS terhadap olah raga sepak bola, yang ditandai hampir semua stadion dipenuhi penonton. 

Sebuah kenyataan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, mengingat sepak bola rekatif belum dikenal masyarakat negara adi daya itu. 

Namun demikian, yang paling berkesan, ketika saya berada di dalam stadion ketika Brasil melawan Belanda di perempat final. 

Inilah laga klasik yang ditunggu-tunggu. Mereka tidak pernah bertemu dalam 12 tahun. Keduanya bermain terbuka, saling serang. 

Saya masih ingat, saya berada dekat sekali dengan Romario, Bebeto dan Mazinho, ketika mereka merayakan gol Bebeto dengan "gaya menimang bayi". 

Adegan itu saya saksikan dalam jarak fisik yang begitu dekat, yaitu mungkin sekitar tiga meter. Kebetulan saya mendapat tiket tempat duduk yang dekat dengan lapangan hijau. 

Itu pengalaman yang paling membanggakan saya, karena wartawan lain tidak berada dalam posisi begitu dekat seperti saya. Saya, rasanya, dekat sekali dengan tiga bintang Brasil tersebut.