Kekayaan Sriwijaya dan Polemik Temuan Harta Karunnya oleh Penyelam

By Galih Pranata, Sabtu, 30 Oktober 2021 | 13:00 WIB
Seorang nelayan bersiap untuk menyelam bebas dengan sistem pernapasan dan rantai besi untuk sabuk pemberat, di Sungai Musi di Palembang dalam misi mencari harta karun yang tenggelam. (Wreckwatch Magazine)

Nationalgeographic.co.id—"Lima tahun terakhir, hal-hal luar biasa telah muncul di Sungai Musi. Koin dari semua periode, patung emas dan Buddha, permata, segala macam hal yang mungkin anda kira itu dibuat-buat. Itu benar-benar nyata," tulis Dr. Kingsley kepada The Guardian.

Dalya Alberge, seorang jurnalis dari The Guardian, mewawancarai Dr. Sean Kingsley yang merupakan ahli arkeologi sohor dari Inggris. Alberge menuliskannya dalam artikel berjudul Have Sumatran fishing crews found the fabled Island of Gold?, terbit pada 2021.

"Situs Sriwijaya mungkin akhirnya ditemukan oleh para kru nelayan lokal yang melakukan penyelaman malam hari di Sungai Musi dekat Palembang di pulau Sumatra, Indonesia," imbuhnya.

"Hasil tangkapan mereka yang luar biasa adalah harta karun, mulai dari patung Buddha abad ke-8 berukuran nyata yang bertahtakan permata berharga—bernilai jutaan poundsterling—hingga permata yang dikenakan untuk raja," lanjutnya.

Studi Sriwijaya merupakan bagian dari publikasi musim gugur majalah Wreckwatch, setebal 180 halaman yang berfokus pada Tiongkok dan Jalur Sutra Maritim hingga ke wilayah (yang diduga) kekuasaan Sriwijaya.

Kingsley menyebut bahwa pada puncaknya, Sriwijaya mengendalikan arteri Jalan Sutra Maritim, pasar kolosal di mana barang-barang lokal, Cina, dan Arab diperdagangkan. "Itulah mengapa rakyat lokal percaya akan banyaknya kekayaan yang tertimbun di dalam perairan Sumatra," sebut Kingsley kepada The Guardian.

Baca Juga: Legenda Bajak-bajak Laut Sriwijaya yang Meraja di Selat Malaka

Segenggam cincin emas, manik-manik dan koin emas cendana Sriwijaya, ditemukan di dasar laut dekat Palembang. (Wreckwatch Magazine)

Sebagaimana yang diesebutkan dalam tulisan Suswandari, bahwa Sriwijaya merupakan kerajaan maritim terbesar sepanjang sejarah Indonesia yang kekayaannya tak terhitung. "Sriwijaya adalah pusat perekonomian dunia internasional," tulisnya.

Suswandari bersama dengan timnya, berupaya mengungkap kebesaran Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang berpusat di Palembang. Tulisannya dimuat dalam jurnal Sejarah dan Budaya, berjudul Menelisik Sejarah Perekonomian Kerajaan Sriwijaya Abad VII-XIII, publikasi tahun 2020.

"Kerajaan Sriwijaya dinilai sangat mampu untuk menguasai jalur pelayaran karena mereka dapat memanfaatkan daerah yang begitu strategis bagi dunia internasional untuk menjajakan perdagangannya di wilayah perairan Sriwijaya," sambungnya.

"Adapun komoditas Kerajaan Sriwijaya antara lain kapur barus, cendana, gading gajah, buah-buahan, kapas, dan cula badak. Kerajaan ini pun dilihat oleh sudut pandang masyarakat setempat sebagai kerajaan yang bersifat metropolitan," pungkasnya.

Baca Juga: Kapur Barus, Cerita Rempah dari Kedatuan Sriwijaya Kian Pupus

Banyak bukti yang menyebut tentang kebesaran Sriwijaya. "Sebanyak tujuh prasasti pada milenium ke-1 diketahui bernama 'Sriwijaya' muncul, bersama dengan dua teks terpisah yang tampak identik meskipun namanya sendiri hilang. Salah satunya berasal dari Ligor di Thailand selatan," tulis Bronson dan Wisseman.

Bennet Bronson dan Jan Wisseman menulis dalam jurnal Scholarspace Manoa Hawaii, berjudul Palembang as Srivijaya: The Lateness of Early Cities In Southern Southeast Asia, publikasi tahun 1975.

Pada beberapa inskripsi, Bronson dan Wisseman meyakini perihal kekayaan Sriwijaya. "Sriwijaya yang kita baca adalah kota besar yang kaya, ibu kota kerajaan besar yang berlangsung dari abad ke-7 hingga ke-12 atau ke-14," tulisnya.

Melihat kenyataan itu, para penyelam lokal, hingga hari ini terus menelusuri dingin dan dalamnya sungai Musi. Mereka berharap mendapatkan sesuatu yang lebih bernilai dibandingkan dengan ikan tangkapan.

Perhiasan emas dan ruby, abad ke-8-10, ditemukan di sungai Musi. (Wreckwatch Magazine)

Beberapa nelayan dan penyelam mengakui bahwa mereka telah berhasil mendapatkan sejumlah bongkahan arca yang terbuat dari logam emas. Sejumlah arkeolog turut serta dalam membuktikan keabsahan terkait temuan para penyelam tersebut.

Baca Juga: Kisah Kejayaan dan Senja Kala Sriwijaya dalam Catatan Semasa

Tentunya diperlukan riset terlebih dahulu, barangkali adanya kesalahan dalam menafsirkan temuan arkeologis. Dillon menulisnya dalam JSTOR, jurnalnya berjudul Practical Archaeology: Field and Laboratory Techniques and Archaeological Logistics, publikasi tahun 1993.

Para nelayan secara langsung menilai bahwa temuannya adalah emas asli dari kerajaan Sriwijaya, padahal Brian D. Dillon menyatakan bahwa setiap temuan arkeologis harus disandarkan pada langkah metodologis yang ilmiah untuk membuktikan keabsahannya.

"Setiap penemuan benda yang diduga ada sejak era kuno, harus melalui riset mendalam pada laboratorium khusus, untuk dapat menentukan berapa lama benda itu ada dan telah digunakan," pungkasnya.