Cerita Evolusi Kita: Kenapa Berpolitik dan Mencari Sistem yang Ideal?

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Rabu, 3 November 2021 | 11:00 WIB
Sidang Keamanan PBB membahas tentang penguatan kerjasama antar negara dengan cara yang politis. Mengapa manusia melakukan dan terus menerka-nerka sistem politik yang ideal, adalah salah satu cerita evolusi kita. (KEMENTERIAN LUAR NEGERI RI)

Nationalgeographic.co.id - Filsuf Yunani kuno Aristoteles telah lama memikirkan konsep politik yang ideal bagi umat manusia. Lewat buku Politik, ia merumuskan konstitusi dan sistem tata negara dan menjabarkan bentuknya dari berbagai polis (negara kota) yang ada di Yunani kuno, untuk mengidentifikasi mana bentuk negara yang ideal dan mana yang tidak.

Sebelum Aristoteles, Plato yang menulis pandangan Socrates juga memandang negara yang ideal bukanlah menganut demokrasi. Sebuah sistem politik yang dianut banyak negara saat ini. Tulisan pandangan itu didapati Plato dari berdialog bersama Socrates lewat buku Republik atau yang diterjemahkan dalam beberapa negara sebagai The State.

Hingga saat ini, ahli politik hingga filsuf terus berdebat tentang konsep politik yang ideal. Semua gagasan saling berhadapan, diterapkan di beberapa negara, menghadapi konflik internal maupun eksternal, hingga kecenderungan arah suatu media massa di ranah sosial.

Meski demikian, belum ada satu pun konsep maupun ideologi politik yang bisa ideal bagi semua orang dalam praktiknya. Yang pasti, semua orang pasti terlibat dalam partisipasi politik yang berbagai macam bentuknya di lapangan, seperti mengikuti Pemilu, Golput, berdemonstrasi, mengikuti partai atau serikat, mengisi petisi, hingga pembangkangan sipil.

Namun, mengapa kita terus berpolitik? Mengapa para ahli terus mencari sistem yang ideal? Dan, apakah hanya manusia saja yang melakukannya?

Psikologi koalisi, awal evolusi politik kitaAntropolog evolusi manusia Lee Cronk bersama seorang profesor ilmu politik Rutgers University, Beth L. Leech memaparkannya dalam makalah yang diterbitkan di Cognitive Systems Research tahun 2017.

"Untuk memahami sepenuhnya ide ini, kita perlu mundur selangkah dan melihat konsep yang mendasarinya—psikologi koalisi," tulis mereka dalam Sapiens. "Penelitian psikologi sosial telah menunjukkan berkali-kali bahwa pikiran manusia cenderung mencari koalisi."

Cronk dan Leech memaparkan, manusia suka mencari-cari kelompok. Dan kelompok yang mudah dijalani adalah kelompok yang aturan di dalamnya kuat dan lebih terkontrol. Ketika orang sudah terikat dalam suatu kelompok, ia akan memiliki identitas dan kerap melakukan apa saja demi solidaritas.

Tetapi semakin besar kelompok, seperti negara, tentu membutuhkan pengamatan lebih lanjut agar bisa ideal untuk melanjutkan laju kelompoknya yang ideal.

Mereka juga memberi contoh kecil yang dikutipnya dari sebuah eksperimen. Ketika seseorang menggemari suatu tim sepak bola, dan melihat tiga orang yang terjatuh. Salah satunya menggunakan kostum tim sepak bola favorit, yang satu dengan kostum tim rivalnya, dan terakhir menggunakan baju polos.

Baca Juga: CONEFO dan PBB, Konfrontasi Soekarno dalam Politik Internasional

Dalam sejarahnya, perang atau konflik terjadi sebagai masalah politik yang melibatkan lebih dari satu negara. Kecintaan atas pada kelompok sendiri, atau mengikuti suatu identitas membuat kita secara psikologi berpolitik. (Shutterstock)

Orang itu akan cenderung langsung membantu orang yang mengenakan kostum sepak bola favorit, kemudian menolong yang baju polos, baru yang mengenakan kostum tim rival.

Kondisi ini bisa terjadi dalam bentuk koalisi atau kelompok berdasarkan kesukaan, etnis, ras, ideologi, hingga agama. Terkadang, psikologi kita juga membuat kelompok koalisi yang diikuti bisa berubah.

"Kemampuan kita untuk mengubah kesetiaan politik—dan untuk kembali lagi jika perubahan itu tidak membantu—dimungkinkan oleh kemampuan kita untuk fleksibel secara psikologis saat memutuskan siapa sekutu kita," papar Cronk dan Leech.

Mereka berdua juga menulis buku berjudul Meeting at Grand Central: Understanding the Social and Evolutionary Roots of Cooperation pada 2012.

Baca Juga: Teori Kognisi Komplementer, Rantai Pelengkap Teka-teki Evolusi Manusia

Evolusi ManusiaJürgen Klüver, profesor Information Technologies and Educational Processes di University of Duisburg-Essen, Jerman, menjelaskan lewat makalah di jurnal EMBO Reports (2008) berjudul The socio-cultural evolution of our species. Kemampuan dalam perkembangan budaya adalah hal yang merampas evolusi biologis Homo sapiens. Kita.

"Konstruksi lingkungan buatan dan struktur sosial menciptakan kriteria baru untuk seleksi, dan kebugaran biologis digantikan oleh 'kesesuaian budaya', yang seringkali berbeda untuk budaya yang berbeda dan umumnya tidak diukur dengan jumlah keturunan," tulis Klüver.

"Selain itu, mekanisme evolusi sosial budaya berbeda dengan model evolusi biologis yang dikemukakan oleh Charles Darwin (1809–1882), dan disempurnakan oleh banyak para ahli."

Baca Juga: Alat Politik Soekarno: Sepak Bola Sebagai Medium Perjuangan Bangsa

Tak hanya manusia, primata yang merupakan kerabat kita, juga suka berkelompok. Cara berkelompok inilah yang menimbulkan budaya muncul sebagai lanjutan evolusi kita, yang berikutnya melahirkan gagasan politik. (Cheryl Ramalho/Getty Images/iStockphoto)

Setelah sekian lamanya kita berevolusi hingga menjadi Homo sapiens untuk bertahan dari suatu lingkungan pada 200.000 tahun yang lalu. Evolusi sosial budaya diperkirakan baru muncul sekitar 10.000 tahun yang lalu.

Lewat cara inilah, manusia mulai memahami bagaimana membentuk tatanan mengorganisir komunitas manusia lainnya yang lebih luas. Kita mulai membentuk budaya, pembagian tugas kerja, struktur sosial, termasuk juga agama.

"Evolusi budaya karena itu hanya mungkin terjadi jika penghuni peran kreatif menikmati tingkat kebebasan tertentu. Di sisi lain, ada peran—misalnya pendeta, politisi, atau guru—yang berfungsi untuk mempertahankan tradisi sosial, budaya, dan struktur sosial," lanjutnya.

"Kita bisa menyebut ini 'peran pemeliharaan' berbeda dengan 'peran kreatif'. Ini penting untuk integrasi masyarakat karena norma dan nilai tradisional memungkinkan masyarakat untuk mempertahankan identitas sosialnya."

Baca Juga: Di Bawah Pergelangan Tangan Kita, Ada Bukti Manusia Masih Berevolusi

Kota Bandung dari atas. Demi menunjang kehidupan diri dan orang lain dalam lingkup kawasan yang luas, manusia mencari-cari gagasan politik yang ideal dan terlibat dalam praktiknya. (Wikimedia Commons/BxHxTxCx)

Selaras dengan pendapat Klüver, Cronk dan Leech berpendapat gen manusia yang lebih purba memicu otak untuk mengembangkan pemikiran budaya ini. Apa yang ada dalam pikiran manusia terus bermunculan, diterapkan, dan diwariskan dalam setiap kelompok untuk dianggap ideal.

Pada situasi yang lebih kompleks seperti saat ini, latar belakang pemahaman kita sangat beragam dan membuat besar kemungkinan perubahan pandangan setiap individu manusia.

"Proses pembuatan kebijakan di dalam pemerintahan memberikan banyak sekali contoh psikologi koalisi yang fleksibel, sebagian karena preferensi aktor politik sering kali beririsan, seperti halnya dalam kasus perubahan hukum," terang Cronk dan Leech dalam makalah. 

"Lawan dalam satu masalah mungkin setuju pada Anda dalam masalah lain."

Itulah kisah bagaimana asal mula manusia mulai berpolitik. Dan hingga saat ini, kajian politik yang merupakan lingkup ilmu sosial terus berjalan untuk menemukan kondisi yang bisa menampung banyak pihah dan berkeadilan.

Baca Juga: Kajian Baru: Budaya Lebih Berperan dalam Evolusi Manusia daripada Gen