Karya Seni Gurun

By , Selasa, 24 Februari 2015 | 13:48 WIB

Pegunungan kabut tembus cahaya. Seakan dilukis di udara. Kolam sinar matahari di lembah-lembah terik. Pohon sahur berkulit jingga yang bertebaran menawarkan sekoci teduh. Panas yang membara membuat telinga saya berdenging. Saya mulai mengalami delusi bunyi—denging terputus-putus.

Tetapi bukan—ternyata ponsel saya.

Para wanita itu. Mereka terus menelepon.

Dari nomor telepon yang tidak saya kenal. Mereka orang asing. Mereka bertanya dengan nada memohon dalam bahasa Arab yang tidak bisa saya pahami. Ada puluhan, mungkin ratusan, jumlahnya. Siapa mereka? Entahlah. Bagaimana mereka mendapat nomor saya? Saya tidak tahu sama sekali. Tetapi saya mencurigai layanan telepon Emirat yang unik bernama Mobily: Mereka biasa mendaur ulang nomor telepon lama. Tampaknya dulu nomor telepon saya adalah nomor saluran bantuan bebas pulsa untuk wanita Arab yang dirundung ketakutan eksistensial. “Malesh, malesh,” kata saya kepada para penelepon yang cemas ini. “Mafi Arabi.” Lalu menutup telepon. Tetapi mereka menelepon lagi.

Salah satunya menelepon saya 40-50 kali. Saya menyerahkan telepon kepada Ali. “Salah sambung,” dia memberi tahu perempuan itu dengan tegas.

“Saya tahu,” kata perempuan itu, lalu menutup telepon.

Lalu terpikir oleh saya: Mereka perempuan Saudi. Terkucil. Bosan. Mendekam di balik barikade berbasis gender dalam masyarakat yang sangat konservatif. Terkurung dalam tabir sosial. Saya hampir dapat merasakan AC mereka menyemburkan udara dingin, sedih, metalik di telinga. Dengung kesepian, kebosanan. Mereka mencari bentuk hubungan manusia apa pun di luar lingkaran tertutup mereka, saya simpulkan: Dengan telinga mana pun yang bersimpati (bahkan telinga orang asing yang tidak tahu apa-apa). Jadi, mereka terus menelepon. Begitu ironis! Selama berbulan-bulan saya berusaha mewawancarai perwakilan dari setengah populasi Saudi ini. Tapi ini tidak mudah, terutama di masyarakat terpencil di sepanjang jalur kami. Perlu usaha. Dan sekarang, berkat standar layanan pelanggan Mobily yang tak menentu, tabir itu akhirnya terangkat. Meski secara elektronis. Dan sayangnya, tak bisa saya pahami. Hati saya trenyuh mendengar para perempuan itu.

“Mobily memberi Anda nomor aneh,” kata Ali kemudian, dari atas unta. “Semua perempuan itu? Mereka mengira nomor itu kantor tenaga kerja. Mereka mencari pembantu.” 

!break!

Kami berjalan melewati bermacam artefak aneh di gurun tanpa jejak ini.

Ban, sofa, meja makan, gulungan karpet, kursi putar kantor, televisi—sampah yang tersusun dalam barisan yang bengkok tapi teratur, membentuk segi empat, membentuk bujur sangkar. Penghalang angin dari perabot? Pesan bagi makhluk luar angkasa? Karya seni lanskap? Bukan: ini garis pagar Badui yang membatasi ladang tua, petak pasir yang sudah lama terbengkalai yang dulu ditanami semangka.

“Di sini tidak ada bahan untuk membuat pagar,” kata ahli logistik saya, Saeed. “Orang Badui mencari di TPA kota. Mereka membawa benda-benda ini untuk menandai gurun.”

Sampah Saudi ternyata bermutu sangat tinggi. Sebagian bahan pagar itu benda-benda pribadi, memilukan. Set piring keramik yang masih bertumpuk di dalam lemari. Mainan anak untuk di halaman. Laci yang masih berisi sendok baja nirkarat seorang koki. (Awad melihat-lihat laci itu, ingin memperbarui peralatan kemahnya yang murah.) Seolah-olah dunia kontemporer kami baru kiamat secara misterius. Seolah-olah angin pasir di Hijaz berubah, menyingkapkan masa depan kami sendiri: Atlantis yang hilang, tetapi terbuat dari Tupperware.