Memandangi Kecantikan Gerhana Matahari dari Heidelberg

By , Selasa, 21 April 2015 | 14:45 WIB

Karlsplatz. Alun-alun itu adalah salah satu dari alun-alun atau lapangan besar dari banyak platz atau alun-alun atau lapangan yang berjejer sepanjang Aldtstadt Haupstrasse daerah sekitar tempat kami tinggal.

Kami memilih tempat tersebut karena berpendapat bahwa tempat itu cukup besar dan luas untuk melakukan peneropongan gerhana, dan yang terutama, biasanya tempat itu sepi alias tidak terlalu ramai oleh para turis dan penduduk. Membayangkan membuat video time-lapse dari kamera dengan orang yang banyak berlalu lalang, tentu sangat mengganggu. Bagaimana kalau tripod kesenggol? bagaimana kalau ada anak kecil lari-lari lalu ‘bruk!’ jatuh tepat di kaki tripod? Hancur sudah harapan untuk bisa membuat sendiri time-lapse gerhana parsial yang filter tambahan khusus gerhana-nya telah kami persiapkan.

Untuk merekam gerhana, kami menggunakan kamera Sony Nex-6 yang dilengkapi lensa Nikkor 100 mm (ada adaptor lensa yang bisa menyambungkan lensa non-Sony dengan badan kamera). Di depan lensa kami pasang filter yang terbuat dari film terbakar seperti yang telah kami ceritakan di atas, dan kami biarkan kamera merekam seluruh perjalanan gerhana.

Bukan hanya kami yang melakukan pengamatan dan pengambilan gambar di tempat tersebut. Sejak pertama datang, telah terlihat sekelompok orang yang telah terlebih dahulu melakukan pengamatan gerhana, mengambil gambar dengan kamera pro dan amatir, atau yang cuma berkerumun melihat Gerhana Matahari dengan saling meminjam kacamata dari teman-temannya dan bergantian memakai kacamata tersebut lalu mendongak ke langit. Beberapa turis dan penduduk setempat, secara menyebar tapi masih berada di lokasi yang sama yakni Karlsplatz tampak memakai kacamata gerhana dan juga mendongak ke arah di mana Bulan dan Matahari sedang mengalami kontak. Beberapa yang tak memiliki kacamata mendatangi kami serta kerumunan tersebut, dengan senang hati tentu saja kami meminjamkan bergantian kacamata gerhana dan helm yang telah kami bikin dan berkali mendengar komentar “Wooow… schön!” dan“Wooow… nice!” saat kacamata gerhana dipakai oleh mereka dan pemandangan di atas langit siang itu terlihat di depan mata di balik filter gerhana.

Ada sepasang pemburu gerhana yang juga sama seperti kami melakukan perekaman gambar di Karlsplatz. Nampaknya lelaki berkacamata dan perempuan yang saling sapa dengan kami tapi tak saling bertukar nama tersebut telah berpengalaman mengabadikan berbagai gerhana. Mereka mengatakan, pernah juga mengamati gerhana matahari 1999, gerhana total terakhir yang jalur totalitasnya melintasi daratan Eropa.

Menggunakan lensa 300 mm dan tripod yang bisa dikendalikan dengan remote control, mereka memotret gerhana. Ada dua kamera yang mereka pasang. Mereka tiba lebih dahulu dari kami, dan terus bersama kami sampai kontak terakhir, saat proses gerhana selesai pada jam 12 lewat. Bersama, kami berempat bertepuk tangan ke langit, puas telah berhasil mengamati dan mengabadikan pertunjukan balet kosmik ini sampai usai seluruh prosesnya.

Matahari Heidelberg, kini telah sepenuhnya cerah!

!break!

Membuat video time-lapse

Berhasil mengumpulkan sekitar 2 jam rekaman video dari seluruh proses gerhana, sesungguhnya kami merasa agak menyesal karena proses kontak pertama tidak terekam di kamera. Kami baru sepenuhnya melakukan perekaman pada jam 10.00, karena keluar rumah baru pada pukul 09.45 kemudian melakukan seting ini itu pada kamera.

Tapi lagi-lagi apa daya, kami harus bisa puas dengan data visual yang kami punya. Sekembalinya ke rumah, seluruh rekaman video yang kami punya, kami olah untuk dijadikan video time-lapse.

Karena kamera diletakkan di atas tripod yang statis, maka Matahari (dan Bulan) dalam hasil rekaman video kami bergerak di sepanjang medan pandang kamera. Dari sisi bawah kiri frame, Matahari (dan Bulan) terus bergerak semakin ke atas menuju ujung kanan frame dan terus-terusan terjadi begitu dalam hampir semua rekaman yang dihasilkan.

Kami ingin, dalam frame kami, setiap saat Matahari (dan Bulan) ada di tengah gambar. Maka dibutuhkan teknik-teknik tertentu untuk mencari titik pusat piringan Matahari, dan kemudian melakukan cropping di sekitar titik pusat tersebut. Ini harus dilakukan secara otomatis untuk setiap gambar yang akan dijadikan bagian dari video time-lapse.