Sejarah Unik Maneki-Neko, Kucing Pembawa Keberuntungan dari Jepang

By Sysilia Tanhati, Selasa, 16 November 2021 | 09:00 WIB
Maneki-neko kini hadir dalam beragam warna dan pose yang disesuaikan dengan kebutuhan. (Joshua Olsen)

Nationalgeographic.co.id—Saat mengunjungi toko, Anda mungkin pernah melihat patung kucing dengan pose melambai. Patung ini dipercaya dapat membawa keberuntungan atau menarik pembeli untuk berkunjung ke toko atau restoran.

Dengan cakar terangkat yang mengundang dan telinga merah runcing, jimat keberuntungan terkenal ini membawa keberuntungan selama berabad-abad.

Dinamakan maneki-neko dalam bahasa Jepang yang secara harfiah berarti "kucing yang memberi isyarat". Patung ini, sesuai dengan namanya dan bertentangan dengan kepercayaan popular, sebenarnya tidak melambai. Di Jepang, tidak seperti di budaya Barat, cara untuk memberi isyarat kepada seseorang kepada Anda adalah dengan telapak tangan ke depan, jari-jari mengarah ke bawah.

Dengan cakar terangkat, telinga merah runcing, dan koin serta aksesori lainnya, maneki-neko telah membawa keberuntungan dan kemakmuran selama berabad-abad. Namun bagaimana asal-usul patung ini sehingga dianggap sebagai pembawa keberuntungan bagi pemilik usaha?

Halaman berikutnya...

Salah satu legenda dimulai dengan seekor kucing yang lahir di kuil Gōtoku-ji di Setagaya Ward, Tokyo selama periode Edo (1603–1868). Menurut sejarawan kuil, saat berburu elang, daimyo (penguasa wilayah) Ii Naotaka selamat dari sambaran petir ketika kucing peliharaan kepala biara, Tama, memanggilnya ke Gōtoku-ji.

Sebagai ungkapan terima kasih, penguasa itu mengangkatnya menjadi pelindung kuil. Sejak saat itu, Tama pun dihormati di kuit tersebut.  

Saat ini, pekarangan Gōtoku-ji yang tenang dipenuhi dengan ribuan patung kucing yang mengundang dengan berbagai ukuran. Selain datang untuk melihat deretan patung kucing putih, peziarah berdoa untuk keberuntungan. Tertarik untuk memilikinya? Anda dapat membeli patung tersebut di kuil. Sebagian pengunjung meninggalkan patung tersebut di kuil sebagai persembahan. Tidak sedikit yang membawanya pulang untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan.

Di dekat Asakusa, Tokyo, terdapat maru-shime no neko (kucing keberuntungan) di Kuil Imado. Ini merupakan variasi dari kucing pemanggil yang duduk menyamping dengan kepala menghadap ke depan. Pada tahun 1852, seorang wanita tua yang tinggal di Imado sangat miskin sehingga dia tidak bisa lagi memberi makan kucing peliharaannya. Dengan terpaksa, ia melepaskan kucing kesayangannya itu. Kucing itu kemudian muncul dalam mimpinya dan berkata, "Jika kamu membuat boneka menurut gambarku, aku akan mendatangkan keberuntungan."

Baca Juga: Penelitian Baru Patahkan Teori Orang Amerika Berasal dari Jepang

 

Wanita tua itu membuat patung-patung kucing dan menjualnya di gerbang kuil. Sang Kucing menepati janjinya dan patung tersebut menjadi populer, menyelamatkan wanita tua itu dari kemiskinan.

Dari mana pun asal patung yang asli, satu hal yang pasti: kucing dipercaya membawa keberuntungan. Ini mungkin ada kaitannya dengan dekrit kaisar yang dikeluarkan pada tahun 1602. Saat itu kaisar memerintahkan untuk membebaskan semua kucing di Jepang untuk pengendalian hama dalam perdagangan sutra. Meski perdagangan sutra menghilang, kucing tetap dianggap sebagai jimat untuk kemakmuran bisnis.

Tampaknya fungsi kucing lebih dari sekedar pengendali hama. “Fungsi maneki-neko terletak pada kekuatan mitologisnya untuk membawa keberuntungan bagi penjaganya,” kata Yoshiko Okuyama, profesor bahasa Jepang di Universitas Hawaii di Hilo.

Orang Jepang percaya akan pepatah neko wo koroseba nanadai tataru, yaitu jika Anda membunuh kucing maka kucing akan menghantui keluarga selama tujuh generasi. Ini didasarkan pada kepercayaan bahwa kucing pendendam dan memiliki umur panjang di luar kehidupan manusia. Selain itu, ada kepercayaan yang mengakar pada kekuatan kucing: jaga mereka dan mereka akan menjaga Anda.

Baca Juga: Shigenori Nishikaichi, Pilot Jepang di Pearl Habor yang Salah Mendarat

Prevalensi patung kucing di Jepang tidak luput dari perhatian dunia. Dalam bukunya Animal Motifs in Asian Art tahun 1927, Katherine M. Ball menggambarkan maneki-neko sebagai “bentuk guna-guna yang sederhana dan populer.”

“Patung ini digunakan sebagai jimat yang dirancang untuk menarik bisnis dan meningkatkan kemakmuran. Ia dapat ditemukan di pintu masuk restoran dan toko. Dengan daya tarik kucing yang lucu dan cakar yang terangkat dapat mengundang pelanggan,” lanjut Ball.

Hampir seabad kemudian, patung ini muncul dengan beragam warna untuk berbagai jenis keberuntungan. Jika Anda khawatir tentang keselamatan lalu lintas, pilihlah patung biru agar tetap aman. Pink menjadi warna untuk mereka yang mencari keberuntungan dalam cinta. Sedangkan emas terkenal untuk menarik kemakmuran.

“Patung-patung ini bukan hanya jimat pelindung,” kata Okuyama. Mereka adalah perantara atau utusan yang menghubungkan dunia dengan dewa. Mereka memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan ke dunia spiritual pada saat kita putus asa dan tertekan.

Belum diketahui pasti bagaimana patung ikonik ini menyebar ke luar Jepang dan menjadi begitu terkenal di seluruh Asia, bahkan seluruh dunia.

Baca Juga: Di Balik Kisah Onna-Bugeisha, Samurai Wanita Jepang yang Gigih

Dengan cakar terangkat yang mengundang dan telinga merah runcing, jimat keberuntungan terkenal ini membawa keberuntungan selama berabad-abad. (Puck Milder)

Menurut Bill Maurer, profesor antropologi di Universtas California, patung-patung itu berasal dari Zaman Meiji (1868–1912). Dalam upaya untuk tampil lebih halus bagi orang barat yang konservatif, pemerintah memberlakukan Ordonansi Moral Publik tahun 1872. Undang-undang tersebut melarang jimat penis yang sering dipajang di tempat-tempat prostitusi. Maneki-neko digunakan sebagai ornamen pengganti. Dan adopsi maneki-neko sebagai jimat kemakmuran segera menyebar ke negara dan komunitas Asia lainnya.

Ledakan budaya pop Jepang tahun 80-an dan 90-an pun memiliki andil dalam penyebaran maneki –neko. Tidak terbatas dalam bentuk patung, maneki-neko pun dapat ditemukan dalam berbagai karaktek multimedia dalam seni, mode, dan video game.

Di mana Anda dapat menemukan maneki-neko? Di toko-toko dan bisnis di seluruh Jepang, maneki-neko dapat ditemukan dalam bentuk aslinya untuk memanggil pelanggan. Museum Seni Manekineko di Okayama menampilkan koleksi lebih dari 700 patung kucing keberuntungan dari berbagai zaman. Kucing juga dirayakan setiap tahun pada bulan September ketika Festival Manekineko diadakan di berbagai kota di seluruh negeri.

Bahkan ada Jalan Manekineko-dori (“Jalan Kucing Pemicu”) di Kota Tokoname, Prefektur Aichi. Di sini Anda dapat melihat puluhan patung kucing keramik menghiasi jalan tersebut. Jika berkunjung ke Tokyo, Anda dapat langsung menuju ke sumbernya di Gōtoku-ji yang dipenuhi kucing atau mengunjungi Kuil Imado, yang juga menjual patung-patung kucing ini.

Sedangkan di Amerika Serikat, mereka yang mencari peruntungan dapat mengunjungi Museum Kucing Keberuntungan Ohio di Cincinnati. Tempat ini menampilkan lebih dari 2.000 iterasi ikon kucing.

Tapi mungkin tempat terbaik untuk melihat maneki-neko adalah di habitat aslinya yaitu duduk di kasir sambil melambaikan cakarnya.

Baca Juga: Peneliti Temukan Asal-Usul Tunggal Bahasa Jepang, Korea, dan Turki